Selama “Dirimu” Masih Ada, Masalah Akan Selalu Ada

Oleh: Syahril Syam *)

Masalah yang sering tidak disadari adalah: kita bekerja di level yang salah. Kebanyakan pendekatan psikologis modern – termasuk banyak praktik dalam positive psychology – berfokus pada apa yang kita rasakan saat ini, yaitu state atau keadaan mental-emosional. Ketika seseorang merasa sedih, cemas, atau tersinggung, pendekatan ini mengajarkan cara untuk menenangkan diri, berpikir positif, atau mengalihkan perhatian. Ini memang membantu, tetapi sifatnya sering hanya sementara. Mengapa? Karena yang disentuh hanyalah “permukaan pengalaman”, bukan sumber terdalam yang membentuk pengalaman itu sendiri.

Dalam pendekatan yang lebih ontologis seperti SAT (Self Awareness Transformation) dan filsafat wujud ala Mulla Sadra, fokusnya bukan lagi pada state, melainkan pada mode of being – yaitu apa dan bagaimana diri kita itu ada. Ini adalah level yang jauh lebih dalam. Karena pada kenyataannya, apa yang kita rasakan, pikirkan, dan lakukan bukan berdiri sendiri, tetapi merupakan manifestasi dari struktur diri yang lebih mendasar.

Untuk memahami perbedaannya, bayangkan dua orang yang mengalami situasi yang sama: dihina di depan umum. Orang pertama mencoba mengelola emosinya. Ia menarik napas, mencoba berpikir positif, dan berkata dalam hati, “tidak apa-apa.” Dari luar terlihat tenang, tetapi di dalam dirinya masih ada rasa tersinggung, marah, atau terluka. Ia berhasil mengatur reaksinya, tetapi belum benar-benar bebas dari emosi tersebut.

Sebaliknya, orang kedua tampak tidak bereaksi secara emosional – bukan karena ia menahan diri, tetapi karena memang tidak ada sesuatu di dalam dirinya yang merasa diserang. Identitas dirinya tidak bergantung pada penilaian orang lain. Maka hinaan itu tidak menemukan “tempat untuk menempel”. Ini bukan soal teknik pengendalian emosi, melainkan perbedaan pada struktur diri. Yang satu masih memiliki identitas yang rapuh dan mudah tersentuh, sementara yang lain telah berada pada tingkat keberadaan yang lebih stabil dan luas.

Perbedaan ini bisa dianalogikan seperti laut. Positive psychology bekerja seperti usaha menenangkan gelombang di permukaan laut. Sementara SAT bekerja dengan cara memperdalam laut itu sendiri. Gelombang mungkin bisa dibuat tenang untuk sementara, tetapi jika lautnya dangkal, sedikit gangguan saja akan membuatnya kembali bergejolak. Sebaliknya, laut yang dalam tetap tenang meskipun ada gangguan di permukaan.

Untuk melihat ini secara lebih sistematis, kita bisa memahami bahwa manusia memiliki beberapa lapisan realitas dalam dirinya.

Lapisan pertama adalah isi (content) – yaitu pikiran, emosi, dan sensasi fisik. Ini adalah hal yang paling mudah kita sadari, dan biasanya menjadi fokus utama dalam pendekatan psikologi populer.

Lapisan kedua adalah proses (processing) – yaitu bagaimana kita berpikir, menafsirkan kejadian, dan membentuk pola mental. Pendekatan seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) bekerja di level ini dengan mengubah pola pikir dan cara kita memahami situasi.

Lapisan ketiga adalah identitas (self-structure) – yaitu bagaimana kita mendefinisikan diri: “aku siapa”, apa cerita yang kita yakini tentang diri sendiri, serta konstruksi ego yang kita bangun. Beberapa praktik mindfulness mulai menyentuh level ini dengan mengajak kita mengamati diri tanpa melekat pada identitas tertentu.

Namun, yang paling dalam adalah lapisan keempat: kehadiran (being/presence). Ini adalah kondisi sebelum pikiran muncul, sebelum identitas terbentuk. Ini adalah kesadaran murni – keadaan dimana kita tidak lagi sepenuhnya terikat pada narasi diri atau reaksi emosional. Di sinilah pendekatan SAT bekerja: bukan sekadar mengubah isi pikiran atau emosi, tetapi mentransformasi kualitas keberadaan itu sendiri.

Dalam kerangka filsafat Mulla Sadra, terdapat satu prinsip mendasar yang sangat penting: al-wujūd aṣīl, yaitu bahwa eksistensi (wujud) adalah yang paling fundamental, bukan sifat-sifat yang menempel padanya. Artinya, yang benar-benar “nyata” dalam diri manusia bukanlah emosi, pikiran, atau bahkan identitas, melainkan tingkat keberadaan (mode of being) itu sendiri.

Jika dijabarkan dengan bahasa sederhana: emosi hanyalah sifat tambahan (accident), pikiran adalah fenomena yang muncul dan berubah, dan identitas diri adalah konstruksi yang dibentuk oleh pengalaman dan ingatan. Ketiganya bukan inti. Mereka seperti bayangan yang mengikuti sesuatu yang lebih nyata. Yang menjadi sumber dari semuanya adalah kualitas wujud itu sendiri – bagaimana cara “kita ada”.

Dari sini muncul implikasi yang sangat besar: jika wujud berubah, maka semua manifestasi ikut berubah. Emosi, pikiran, dan cara merespons kehidupan akan otomatis mengikuti. Maka dalam kerangka ini, state (keadaan mental seperti bahagia, sedih, tenang) adalah efek, sedangkan being (tingkat wujud) adalah sebab.

Ketika prinsip ini dibawa ke dalam kehidupan nyata, kita mulai melihat perbedaan yang sangat jelas. Ambil contoh kasus stres kerja. Dalam pendekatan positive psychology, seseorang akan diajarkan teknik seperti menarik napas dalam, bersyukur, atau mengubah cara pandang (reframing). Hasilnya memang terasa – stres berkurang, tetapi biasanya hanya sementara. Ini karena akar masalahnya belum disentuh.

Dalam pendekatan SAT, pertanyaannya berubah menjadi lebih mendasar: “Siapa yang sebenarnya merasa terancam?” Ketika ditelusuri lebih dalam, sering ditemukan bahwa di balik stres itu ada identitas tertentu, misalnya “saya harus berhasil” atau “saya harus diakui”. Selama identitas ini masih kuat, ancaman akan selalu terasa. Namun ketika identitas ini mulai dilihat, disadari, dan akhirnya luruh, maka stres tidak lagi perlu dikelola – ia hilang dengan sendirinya, karena tidak ada lagi “pusat diri” yang merasa terancam.

Contoh lain adalah kecemasan terhadap masa depan. Pendekatan berbasis state biasanya menyarankan berpikir positif atau membayangkan kesuksesan. Ini membantu, tetapi seringkali tidak bertahan lama. Dalam pendekatan being, kecemasan dilihat dari akarnya: ia muncul karena kita mengidentifikasi diri dengan sesuatu yang belum terjadi – masa depan. Padahal masa depan pada dasarnya adalah konstruksi mental. Ketika kita benar-benar hadir dalam presence (kehadiran saat ini), yang ada hanyalah “sekarang”. Dalam kondisi ini, kecemasan kehilangan fondasinya dan runtuh dari akarnya.

Hal yang sama terjadi dalam proses memaafkan. Pendekatan umum mengajarkan untuk memahami orang lain dan melepaskan dendam. Namun seringkali, meskipun sudah “memaafkan”, rasa sakit masih tersisa. Dalam pendekatan SAT, kita diajak masuk lebih dalam: merasakan langsung luka di tubuh, melihat identitas yang merasa disakiti, dan bertanya, “Siapa yang sebenarnya terluka?” Ketika ditelusuri secara jujur, yang ditemukan seringkali hanyalah memori dan konstruksi identitas. Saat ini semua benar-benar dilihat dan tidak lagi dipegang, yang terjadi bukan sekadar “memaafkan”, tetapi tidak ada lagi yang perlu dimaafkan, karena pusat luka itu sendiri sudah tidak ada.

Menariknya, perbedaan ini juga bisa dijelaskan secara ilmiah melalui neuroscience. Pendekatan positive psychology umumnya bekerja dengan memodulasi aktivitas otak di area seperti prefrontal cortex (yang mengatur kontrol diri) dan amygdala (yang terkait dengan emosi, terutama rasa takut). Ini membantu regulasi emosi – kita menjadi lebih tenang, tetapi masih dalam kerangka “diri yang mengatur dirinya”.

Sementara itu, pendekatan berbasis presence seperti dalam SAT cenderung menurunkan aktivitas Default Mode Network (DMN), yaitu jaringan otak yang terkait dengan narasi diri, pikiran tentang masa lalu dan masa depan, serta proses “self-referential” (segala sesuatu yang selalu dikaitkan dengan “saya”). Ketika aktivitas ini menurun, yang terjadi bukan hanya ketenangan, tetapi sesuatu yang lebih dalam: melemahnya rasa “aku” sebagai pusat pengalaman.

Di sinilah perbedaan paling nyata secara pengalaman langsung (experiential). Dalam pendekatan berbasis state, seseorang masih menjadi “orang yang berusaha bahagia”, “orang yang berusaha tenang”. Ada usaha terus-menerus untuk menjadi sesuatu. Sedangkan dalam pendekatan being, usaha itu mulai hilang. Kita tidak lagi mencoba menjadi apapun. Kita menjadi kehadiran itu sendiri, tempat dimana pengalaman datang dan pergi.

Jika diringkas secara tajam, ada tiga lapisan pengalaman: Pada level state: “Saya marah, tapi saya mencoba tenang.” Pada level observer: “Saya mengamati kemarahan saya.” Namun pada level presence: tidak ada lagi “saya” yang terpisah dari pengalaman. Yang ada hanyalah kemunculan energi dalam kesadaran – ia muncul, bergerak, lalu selesai, tanpa meninggalkan jejak yang mengikat.

Dengan memahami struktur ini, menjadi jelas bahwa perubahan yang paling stabil dan mendalam bukan terjadi ketika kita sekadar “merasa lebih baik”, tetapi ketika kita menjadi berbeda secara eksistensial. Karena pada akhirnya, hidup yang kita alami bukan ditentukan oleh apa yang kita hadapi, tetapi oleh siapa kita saat menghadapinya.

Kesimpulannya menjadi sangat jelas dan mendasar. Positive psychology membantu kita menjalani hidup dengan lebih baik – lebih tenang, lebih positif, lebih teratur. Namun SAT bekerja pada level yang berbeda: ia tidak hanya memperbaiki cara kita hidup, tetapi mengubah siapa yang menjalani hidup itu sendiri.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *