Tak Takut Ancaman Trump, Iran Ultimatum AS Menyerah

Presiden Amerika Serikat Donald Trump [foto detikcom]

STRATEGINEWS.id, Jakarta – Eskalasi perang antara Iran dan AS-Israel mencapai titik kritis, ditandai dengan serangan udara intensif ke fasilitas militer Iran di Teheran dan Isfahan, serta ancaman serangan balik.

Situasi memanas dengan adanya ancaman Donald Trump terkait blokade Selat Hormuz. Konflik ini memicu kekhawatiran perang regional yang berdampak pada ekonomi global dan stabilitas kawasan.

Presiden AS Donald Trump mengultimatum Iran dengan ancaman serangan terus berlanjut jika Selat Hormuz tidak dibuka, menandakan potensi blokade ekonomi.

Iran tak takut dengan ancaman Trump. Unit komando operasional tertinggi Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat, rezim Israel, dan sekutu mereka agar tidak melakukan pelanggaran lebih lanjut terhadap infrastruktur negara tersebut. Iran ingin memaksa AS menyerah dengan ancaman untuk menghancurkan seluruh fasilitas kilang minyak dan gas milik negara-negara Arab.

Pernyataan tersebut  disampaikan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Rabu,  yang mengoordinasikan operasi antara Angkatan Darat dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

“Kami akan menargetkan infrastruktur AS dan sekutunya dengan cara yang akan merampas minyak dan gas kawasan dari mereka selama bertahun-tahun dan memaksa mereka untuk mundur dari kawasan tersebut,” kata juru bicara Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari dalam sebuah pernyataan, dilansir Press TV.

Pernyataan tersebut muncul setelah serangan berulang kali oleh Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap berbagai situs infrastruktur Iran, termasuk fasilitas petrokimia, jalur kereta api, dan jembatan, sebagai bagian dari agresi tanpa provokasi mereka sejak 28 Februari hingga saat ini yang menargetkan Republik Islam.

Seorang penasihat dari juru bicara Parlemen Iran mengeluarkan ultimatum balasan kepada Presiden AS Donald Trump yang menegaskan bahwa Teheran tidak akan tunduk terhadap ancaman. Ia bahkan mengingatkan bahwa sekutu AS di kawasan akan “dikirim ke Zaman Batu” jika Washington tidak menyerah.

“Adalah Trump yang memiliki waktu 20 jam untuk menyerah kepada Iran atau sekutu-sekutunya akan kembali ke Zaman Batu. Kami tidak akan tunduk,” kata Mahdi Mohammadi, penasihat dari Mohammad Bagher Ghalibaf, dikutip News 18, Selasa (7/4/2026).

[Sam/red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *