Adil Katalino’ Bacuramin ka Saruga’ Basengat ka Jubata” adalah semboyan dan salam budaya Suku Dayak yang berarti “adil kepada sesama manusia, bercermin kepada surga (alam/diri sendiri), dan napas hidup berasal dari Tuhan (Jubata)”, menjadi pedoman hidup menjaga keadilan, akhlak mulia, dan spiritualitas serta pengakuan akan kekuasaan Sang Pencipta.
Sepenggal renungan filosofis yang dipegang teguh Marselinus Mian, tokoh penggerak kebudayaan dan pelestari budaya Dayak.
“Berperilaku adil kepada sesama manusia tanpa membedakan suku, ras, atau latar belakang, bahkan juga kepada alam,” demikian disampaikan Marselinus Mian, SE.,MM, kepada jurnalis strateginews.id, di Landak, Kalimantan Barat, Sabtu [7/2/2026] siang.
“Adil ka Talino, Bacuramin ka Saruga, Basengat ka Jubata” adalah falsafah hidup dan salam nasional masyarakat Dayak yang mengajarkan berperilaku adil kepada sesama manusia, bercermin dan bertingkah laku seperti di surga, dan setiap detak nafas bergantung kepada Tuhan, Sang Pemilk kehdupan ini. Semboyan ini menekankan pada keadilan, kebaikan dan spiritualitas.
“ Adil ka’ Talino, hidup ini harus selalu berselimut cinta kasih, bersikap adil, jujur, dan tidak diskriminatif terhadap sesama manusia,” kata Marselinus Mian.
Sebagai layaknya seorang maestro, Marselinus Mian memahami betul esensi dan ruh dari budaya itu sendiri, lalu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun harmoni hidup di tengah masyarakat.
Tokoh budaya yang memilki murid ribuan orang dan tersebar di berbagai negara ini menekankan, manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi harus memiliki prinsip “Bacuramin ka’ Saruga” Bercermin ke surga, bermakna perilaku dan tindakan harus mulia, baik, dan jujur (sesuai nilai-nilai surgawi).
Renungan filosofis tersebut mengingatkan kita, bahwa kehidupan manusia berasal dan bergantung pada Tuhan Yang Maha Esa (Jubata).
“ Menyadari bahwa napas kehidupan berasal dari Tuhan (Jubata), sehingga wajib menjaga kehidupan dan selalu mengingat Tuhan dalam setiap tindakan. Berperilaku adil kepada sesama manusia tanpa membedakan suku, ras, atau latar belakang, bahkan juga kepada alam,” ujar Panglima Besar Perguruan Budaya Ritual Tambak Baya ini.
Menurut Mian, renungan tersebut sebagai pedoman moral dan etika untuk kehidupan yang harmonis, spiritual, dan selaras dengan nilai-nilai luhur Dayak.
Mian menegaskan, bahwa budaya adalah ruh kehidupan karena berfungsi sebagai sistem nilai, norma, dan pedoman yang menjiwai cara manusia berpikir, bersikap, dan bertindak dalam bermasyarakat. Lebih dari sekadar tradisi, kebudayaan membentuk identitas, memberikan arah moral, serta menjadi landasan karakter bangsa agar tidak kehilangan jati diri di tengah arus modernisasi.
“ Budaya adalah kompas moral dan identitas khas yang membedakan satu kelompok dengan kelompok lain. Kebudayaan yang kuat berfungsi sebagai benteng agar masyarakat tidak kehilangan akar kemanusiaannya saat menghadapi perubahan zaman. Budaya yang sehat dan terawat membuat sebuah bangsa memiliki kepercayaan diri dan arah yang jelas dalam bernegara,” pungkas Marselinus Mian.
Atas dedikasinya dalam menegakkan nilai-nilai spiritualitas melalui budaya, mengantarkan Marselinus Mian meraih penghargaan KINERJA AWARD 2026 sebagai Tokoh Penggerak Budaya dan Pariwisata Nusantara.
Penghargaan diserahkan oleh Sartiman, Wakil Pemimpin Redaksi Strateginews.id, di Desa Semade Kacamatan Banyuke Hulu Kabupaten Landak Kalimantan Barat Sabtu 7 Februari 2026.
Penghargaan ini merupakan pengakuan luar biasa atas upaya terus menerus dalam menyalakan semangat budaya di dalam masyarakat.
Penulis: Sartiman
Editor : Jagad N












