Opini  

Asap di Sekolah, Asap di Hati Kita

Oleh Busri Toha *)

Akhir-akhir ini, saya sering mendengar cerita yang membuat hati ini terasa berat. Di beberapa sekolah, anak-anak muda—yang mestinya sedang giat belajar, menata masa depan—malah asyik merokok di lingkungan sekolah. Ada yang di kamar mandi, di belakang kelas, bahkan di jalan menuju gerbang sekolah.

Saya tak tahu harus menyesali siapa. Anak-anak yang belum mengerti bahaya, guru yang mungkin pura-pura tidak melihat, atau kita semua yang mulai terbiasa dengan hal yang seharusnya membuat resah.

Padahal, sudah sangat jelas dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, juga ditegaskan lagi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012, bahwa lingkungan pendidikan adalah kawasan tanpa rokok. Tempat itu seharusnya bersih dari asap, bersih dari contoh buruk, bersih dari perilaku yang merusak.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Sekolah yang mestinya menjadi taman ilmu, malah perlahan diselimuti kabut asap rokok. Bukan hanya menyesakkan udara, tapi juga menyesakkan nurani.

Saya khawatir, anak-anak itu sebenarnya sedang meniru kita, orang-orang dewasa. Mereka melihat banyak orang merokok tanpa rasa bersalah—di warung, di rumah, bahkan di depan anak-anak mereka sendiri. Maka jangan heran jika mereka menganggap merokok itu bukan hal salah, hanya “kebiasaan orang besar”.

Inilah yang paling berbahaya: ketika kesalahan kecil dianggap biasa, dan yang biasa akhirnya diterima sebagai kebenaran.

Sekolah mestinya menjadi tempat yang menumbuhkan kesadaran dan kejujuran, bukan tempat berlatih menipu—menyembunyikan rokok di saku, menyalakan di balik tembok, dan mematikan secepat mungkin saat guru lewat.

Kita semua punya tanggung jawab. Guru yang mendidik, orang tua yang menasihati, masyarakat yang mengingatkan. Karena kalau kita diam, jangan salahkan anak-anak itu jika kelak mereka tumbuh dalam lingkungan yang tak lagi mengenal batas antara yang baik dan yang buruk.

Sebelum asap rokok itu merusak paru-paru mereka, ia sudah lebih dulu merusak suasana hati kita—menebar rasa sesak di dada, bahwa nilai-nilai yang dulu kita junjung kini mulai pudar.

*) Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *