Opini  

Satu Suro: Takut Setan, Tapi Tidak Takut Korupsi?

Oleh: Moch Thoriqil Akmal B, S.H

Setiap tahun, ketika bulan Muharram datang mengetuk pintu kalender Hijriah, masyarakat kita khususnya di Madura mendadak berubah. Kota jadi sunyi, jalanan lengang, dan aktivitas masyarakat mendadak sepi kayak sinyal HP di pegunungan.

Ya, ini bukan karena PPKM atau pemilu, tapi karena satu tanggal keramat satu Suro. Sebuah hari yang dipercaya penuh aura gaib, malam sakral, malam lepasnya jin-jin dari penjara alam bawah sadar manusia.

Bukan main. Satu Suro itu semacam hari raya nasional bagi rasa takut. Bukan takut dosa, tapi takut menikah, takut potong rambut, takut keluar rumah, bahkan ada yang takut nyalain kipas angin malam-malam. Katanya, “arep ngundang lelembut.” Lah, emang setan juga gerah?

Di berbagai pelosok Madura, malam satu Suro jadi malam refleksi. Bukan refleksi spiritual, tapi refleksi gelap-gelapan. Lampu sengaja dipadamkan. Anak-anak dilarang keluar. Mbah-mbah duduk diam di pojok rumah, menggenggam tasbih sambil komat-kamit, dan sesekali mengintip ke luar jendela. Bukan untuk cari Tuhan, tapi takut kalau-kalau pocong lagi jalan sore.

Yang bikin lucu, orang yang biasanya tidak takut dosa, bisa ketakutan setengah mati kalau denger suara kucing malam satu Suro. Padahal si kucing cuma lagi cari jodoh. Tapi suara “meong” itu tiba-tiba dianggap kode morse dari alam ghaib.

Coba bayangkan: kita hidup di era digital, tapi masih percaya kalau mandi malam satu Suro bisa bikin nasib buntung. Ini sih bukan buntung karena mistis, tapi buntung karena akal sehatnya putus.

Satu hal yang paling ikonik dari satu Suro adalah larangan menikah. Wah, ini serius. Kalau kamu nekat lamaran atau nikah di bulan Suro, siap-siap dihujat keluarga dan tetangga. Bukan karena kamu salah pasangan, tapi karena katanya, “pernikahanmu nanti langgeng, sampai di liang lahat.”

Bahkan ada cerita di daerah Sumenep, seorang pemuda ditolak mentah-mentah hanya karena ngelamar di akhir bulan Suro. Kata pihak cewek, “Ma’af mas, keluarga kami gak terima lamaran bulan kuburan.” Padahal niatnya baik. Tapi itulah, di Madura, niat baik pun bisa dipertanyakan kalau tanggalnya dianggap horor.

Bahkan di daerah lain, ada tukang manten yang sampai tutup warung sebulan penuh. Katanya, “Suro, ben engkok ngaso (biar saya istirahat).” Padahal diam-diam, dia ikut tirakat biar rezekinya lancar. Lah, rezeki kok dikejar pake mistik, bukan pake promosi Shopee.

Beberapa kabupaten, termasuk sebagian wilayah pesisir Madura, menjadikan satu Suro sebagai pesta budaya. Ada kirab pusaka, larung sesajen, bahkan kuda sembrani yang diarak tengah malam. Katanya, ini bentuk pelestarian tradisi. Tapi jujur saja, sebagian besar hanya pamer supranatural, bukan edukasi spiritual.

Lihat saja, anak-anak yang seharusnya belajar tentang nilai hijrah Nabi Muhammad SAW, malah diajak nonton keris ditaburi kembang tujuh rupa. Bukannya mengenal tauhid, malah makin paham kode-kode dunia jin.

Kalau pusaka bisa bicara, mungkin dia akan berteriak, “Saya udah tua, jangan diarak terus tiap tahun. Saya juga pengin pensiun!”

Malam satu Suro adalah malam yang katanya “tabir antara dunia manusia dan dunia ghaib terbuka.” Wih, kalimatnya bikin bulu kuduk berdiri. Kayak trailer film horor.

Maka, datanglah ritual tirakatan di pemakaman, sumur keramat, hingga bawah pohon beringin tua. Orang pakai baju serba hitam, bawa kemenyan, telur, bahkan ayam cemani. Ada yang duduk diam semalaman, ada yang bertapa hingga ayam berkokok.

Katanya untuk membuang sial dan menguatkan aura. Tapi setelah itu hidupnya tetap nyicil motor, tetap ngutang di warung, tetap ribut sama tetangga.

Lha wong niatnya ngusir sial, tapi yang diusir malah akal sehat. Lebih baik ikut kuliah daring motivasi hidup daripada duduk semalaman ngadep batu nisan.

Ironi terbesar dari satu Suro adalah ketika masyarakat takut sama tanggal, tapi tidak takut sama dosa. Takut sama hari, tapi gak takut manipulasi bantuan sosial. Takut sama roh halus, tapi tidak takut nyalahgunain jabatan.

Coba kita refleksikan sejenak. Nabi Muhammad SAW justru hijrah di bulan Muharram sebagai langkah maju. Tapi sebagian dari kita malah menjadikan bulan ini sebagai alasan mundur – mundur menikah, mundur usaha, mundur mikir.

Kalau terus begini, jangan-jangan nanti ada larangan buka usaha di satu Suro, karena takut rejekinya ketempelan jin dagang. Astaghfirullah. Jin aja geleng-geleng.

Opini ini bukan ajakan membenci budaya. Tapi saat budaya lebih banyak mengandung rasa takut daripada nilai pendidikan dan akhlak, maka itu perlu dipertanyakan.

Tradisi itu warisan. Tapi warisan harusnya dimaknai, bukan ditakuti mentah-mentah. Kalau tidak, kita akan terus mewarisi ketakutan yang diwariskan dari kakek nenek kita, dan mewariskannya ke anak cucu.

Lama-lama nanti akan ada generasi yang takut tanggal, bukan takut akhlaknya rusak.

Maka, mari sambut 1 Muharram, bukan dengan kembang tujuh rupa dan ayam cemani, tapi dengan semangat baru untuk berubah, berhijrah dari ketakutan irasional menuju keberanian berpikir.

Kalau memang masih mau tirakat, silakan. Tapi tirakatlah melawan kebodohan, bukan melawan bayangan sendiri di dinding.

Karena yang paling menakutkan di malam 1 Suro bukan jin atau hantu… tapi manusia yang kehilangan logika. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *