STRATEGINEWS.id, Jakarta – Untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global, pemerintah perlu mengambil langkah strategis yang seimbang antara kebijakan internasional dan domestik.
Ketua Badan Anggaran (Bangar) DPR RI Said Abdullah mengatakan, Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan yang sangat serius.
“ Di dalam negeri, Indonesia tengah menghadapi tantangan serius, mulai dari penurunan daya beli masyarakat hingga volatilitas tinggi di pasar saham dan sektor keuangan,” demikian disampaikan Said Abdullah, melalui keterangan pers Rabu [3//4].
Politisi senior PDI Perjuangan ini merinci, sebagai respon ketiakpastian tersebut, beberapa poin kebijakan yang perlu segera disiapkan pemerintah.
Pertama, kata Said, Pemerintah perlu mendorong inisiatif di forum World Trade Organization (WTO). Pemerintah perlu melakukan penyehatan sistem perdagangan global yang lebih adil dan mendukung pertumbuhan ekonomi dunia secara berkelanjutan.
“ Kami tidak ingin kepentingan negara adidaya justru mengorbankan kesejahteraan masyarakat global,” tegas Said.
Said mengungkapkan, Indonesia perlu mengingatkan dunia atas tujuan utama WTO, yaitu menegakkan prinsip perdagangan nondiskriminatif dan meningkatkan kapasitas perdagangan internasional.
Tujuan WTO lainnya adalah menjaga transparansi, mendorong perdagangan bebas, serta menjadi forum penyelesaian sengketa perdagangan antarnegara.
Kedua, sebut Said, menyiapkan langkah strategis dalam negeri.
Untuk merespon ketidakpastian global berkepanjangan, pemerintah juga perlu segera melakukan langkah-langkah strategis di dalam negeri, antara lain:
Menjaga kinerja ekspor nasional
Melindungi produk-produk ekspor Indonesia di pasar internasional dan mencari pasar alternatif jika pasar utama terhambat akibat kebijakan tarif yang membuat harga menjadi tidak kompetitif.
“ Langkah ini penting untuk mempertahankan surplus neraca perdagangan,” kata Said.
Mengotimalkan devisa hasil ekspor
Memastikan kebijakan penempatan 100 persen devisa hasil ekspor di dalam negeri berjalan efektif dan dipatuhi oleh para eksportir.
Menurut Said, ini adalah cara untuk memperkuat cadangan devisa dan stabilitas rupiah.
Memperkuat mekanisme hedging untuk impor
Menurut Said, penting untuk menyiapkan instrumen hedging fund sebagai pembayaran impor oleh para eksportir.
Memperluas skema currency swap bilateral
Mengembangkan kerjasama bilateral currency swap dengan negara mitra dagang strategis, guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional.
Menyiapkan kebijakan fiskal kontra siklus
Menyusun kebijakan fiskal kontra-siklus (counter-cyclical) yang mendukung dunia usaha menghadapi perlambatan global, tanpa mengorbankan kesehatan fiskal nasional.
Memperbaiki pasar saham dan keuangan
Meningkatkan infrastruktur dan regulasi di sektor pasar saham dan keuangan untuk menjadikannya lebih inklusif dan menarik bagi investor global. Baca juga: Trump Ancam Dunia dengan Tarif Resiprokal, Harga Emas Naik Tajam, Bitcoin Anjlok, Investor Disarankan Tetap Cermat
Membangun komunikasi publik yang kredibel
Membangun sistem komunikasi publik yang terpercaya, dialogis, dan komunikatif, sebagai sumber informasi yang akurat yang dapat di rujuk oleh para pelaku usaha.
Said menyampaikan keprihatinannya terhadap dinamika ekonomi global yang kembali diselimuti ketidakpastian akibat gelombang proteksionisme perdagangan, yang dimulai dari Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
“Dunia kembali dihadapkan awan kelabu. Distorsi mulai terjadi akibat kebijakan pengenaan tarif dari berbagai negara, yang dipicu oleh memanasnya kembali tensi dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok,” jelasnya.
Lanjut dia, hal tersebut, menandai babak kedua perang dagang, setelah babak pertama terjadi pada 2018 silam. Padahal, dalam dua tahun terakhir, ekonomi dunia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pascapandemi Covid-19 dan perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina.
“Namun, kondisi tersebut kembali terancam setelah Donald Trump kembali terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat pada November 2024 lalu,” imbuh Said.
Di bawah kepemimpinan Trump, AS kembali masuk ke dalam arena konflik dagang dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar di dunia mencapai 27,7 triliun dollar AS.
Tiongkok kini juga menyandang status sebagai kekuatan ekonomi baru dengan PDB sebesar 17,7 triliun dollar AS.
Presiden Trump juga melancarkan kebijakan dagang agresif terhadap negara-negara tetangga seperti Kanada dan Meksiko, memperluas jangkauan gelombang proteksionisme yang kini mulai menyebar ke berbagai belahan dunia.
Dalam berbagai pernyataannya, Trump menegaskan keberpihakan terhadap kebijakan tarif sebagai instrumen untuk meningkatkan penerimaan negara, mengurangi defisit perdagangan, serta memperkecil kesenjangan antara nilai ekspor dan impor.
“Pandangan tersebut sekaligus menandai pergeseran tajam posisi AS dari negara penganjur perdagangan bebas menjadi pengusung kebijakan proteksionis,” ucap Said.
Sumber: Kompas.com












