Catatan Budaya : D. Supriyanto Jagad N *)
Pasca prosesi pelantikan, Presiden Prabowo menunjukkan penghormatan yang mendalam kepada pendahulunya, Presiden Joko Widodo. Penghormatan dengan penuh kehangatan. Bahkan Presiden Prabowo mengantarkan Presiden Jokowi hingga ke Bandara Halim Perdanakusuma, yang akan pulang ke kampung halamannya di Solo Jawa Tengah, usai purna tugas. Sikap Presiden Prabowo sebuah isyarat penghargaan atas jasa dan pengabdian yang telah diberikan Jokowi selama dua periode kepemimpinannya.
Indonesia sebagai sebuah negara demokrasi, peralihan kekuasaan yang damai dan penuh hormat seperti ini menjadi salah satu pilar penting, dalam mencerminkan kedewasaan politik Indonesia. Dan Pak Prabowo telah melakukannya sebagai bentuk pembelajaran dan etika politik yang patut diteladani. Langkah ini memberikan pelajaran penting bagi bangsa Indonesia mengenai bagaimana seorang pemimpin yang baru terpilih dapat menghormati jasa pendahulunya.
Bentuk penghormatan yang dilakukan Presiden Prabowo menjadi contoh nyata tentang pentingnya transisi kekuasaan yang beretika, dengan penuh rasa hormat dan tanggung jawab, demi kesinambungan pembangunan dan kesejahteraan rakyat.
Sebagai seorang pemimpin yang menjunjung tinggi etika politik dan nilai-nilai budaya. Pembelajaran etika kenegaraan yang diajarkan Presiden Prabowo Subianto merupakan warisan tradisi besar Indonesia yang berakar kuat dalam budaya dan nilai-nilai kebangsaan. Salah satu ungkapan yang sering ia gaungkan adalah ‘datang tanpa muka, pulang tanpa punggung’ sebuah pepatah yang sarat makna tentang keikhlasan dalam menjalankan amanah.
Presiden Prabowo telah mengimplementasikan ajaran luhur yang telah tertanam kuat sebagai simbol kesantunan dan penghormatan, yakni mikul dhuwur mendhem jero. Mikul Duwur Mendem Jero adalah cerminan dari etika sosial dalam budaya Jawa, yang berarti menjunjung tinggi kehormatan keluarga, hargadiri, dalam pengguatan jati diri seseorang serta menggambarkan rasa hormat atau patuh kepada orang lain.
Dari arti kata tersebut maka kalimat ungkapan “Mikul dhuwur mendhem jero” memiliki makna menjunjung tinggi sesuatu dan memendam sesuatu dengan dalam. Lalu apa yang dimaksud dengan sesuatu yang harus dijunjung tinggi dan apa yang harus pendam dalam-dalam serta dalam keadaan bagaimana hal itu dilakukan?
Mikul dhuwur mendhem jero sering disalahartikan sebagai tindakan atau usaha untuk tidak mengadili orang tua dan pemimpin yang bersalah. Kesan yang muncul kemudian adalah orang Jawa begitu mudah melepaskan tanggung jawab atas kesalahan dan beban yang seharusnya dilaksanakan dan diselesaikan agar tidak lagi menjadi penghalang bagi kebajikan-kebajikannya.
Mikul dhuwur mendhem jero, meskipun dimaksudkan untuk selalu hormat kepada orang tua atau pemimpin, namun tidak serta merta untuk sekedar menonjolkan kebaikan atau prestasi orang tua atau pemimpin serta memendam atau menutupi kekurangan atau kesalahannya. Karena orang tua atau pemimpin juga memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk selalu melakukan tugasnya dengan baik dan benar serta mampu menjadi teladan bagi anak atau rakyatnya. Justru orang tua atau pemimpin dituntut “lebih” dalam mengaktualisasikan budi pekerti luhur.
Konsep tersebut berangkat dari agama dan budaya yang hubungannya tidak dapat dipisahkan dalam sejarah peradaban dan pembentukan identitas bangsa Indonesia. Ungkapan Mikul Duwur Mendem Jero menjadi konsep yang memiliki arti filosofis yang kaya, yang mengacu pada pemahaman bahwa pembelajaran sejati dimulai dari pemahaman diri (mendem jero) dan mencapai puncaknya dengan mencari pengetahuan yang lebih tinggi (mikul duwur).
Dalam implementasinya, ungkapan tersebut akan menciptakan perilaku kesederhanaan dalam pembelajaran. Dalam dunia kerja Jika peran kita sebagai bawahan adalah bagaimana kita dapat menjaga kekurangan atau aib (mendem jero) pimpinan kita, serta bagaimana kita dapat menghormati pimpinan kita (mikul duwur), dan jika peran kita sebagai pimpinan, maka implementasi seorang pimpinan harus dapat menjaga sebuah lembaga atau perusahaannya agar tetap bermutu dan memiliki nilai dimasyarakat. Sementara di tengah masyarakat Mikul Duwur dalam bermasyarakat misalnya dengan berterimakasih atas kebaikan yang dilakukan orang lain kepada kita, karena rasa terimakasih kita kepada orang lain merupakan perwujudan rasa yukur kita kepada Allah.
Sumber tulisan:
- Catatan Haris Pertama [RMOL]
- Pandangan Prof. Dr. H. Sugeng Solehuddin, M.Ag
*) Pekerja Media, Penggiat Budaya












