Oleh: Syahril Syam *)
Apa yang membedakan pasangan yang bertahan dengan pasangan yang gagal? Ketika melihat pasangan yang mampu hidup bersama selama puluhan tahun, banyak orang mengira bahwa rahasianya adalah karena mereka memiliki cinta yang lebih besar dibandingkan pasangan lain. Namun, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa penjelasannya jauh lebih kompleks. Hampir semua pasangan yang menjalin hubungan serius pernah merasakan cinta yang kuat pada awalnya. Akan tetapi, tidak semua hubungan mampu bertahan. Ini menunjukkan bahwa ada faktor lain yang bekerja di balik keberlangsungan sebuah hubungan.
Jika berbagai temuan dari neuroscience, psikologi hubungan, dan pendekatan pengembangan kesadaran disatukan, maka hubungan yang bertahan dapat dipahami sebagai hasil dari keselarasan tiga sistem utama dalam diri manusia. Pertama adalah sistem saraf dan otak, yang mengatur bagaimana seseorang merespons emosi dan stres. Kedua adalah sistem psikologis, yang membentuk pola keterikatan, cara berpikir, dan cara berhubungan dengan pasangan.
Ketiga adalah sistem ontologis atau arah perkembangan jiwa, yaitu ke mana seseorang mengarahkan pertumbuhan hidupnya. Ketika ketiga sistem ini bergerak secara selaras, peluang hubungan untuk bertahan menjadi jauh lebih besar. Sebaliknya, ketika salah satunya mengalami ketidakseimbangan yang serius, risiko konflik dan perpisahan meningkat secara signifikan.
Banyak orang beranggapan bahwa pasangan yang bahagia adalah pasangan yang jarang bertengkar. Padahal penelitian menunjukkan bahwa hampir semua pasangan mengalami konflik. Perbedaannya bukan pada ada atau tidaknya konflik, melainkan pada cara mereka mengelola konflik tersebut.
Dari sudut pandang neuroscience, ketika seseorang merasa diserang, ditolak, atau tidak dihargai, bagian otak yang disebut amigdala akan mengaktifkan respons ancaman. Tubuh menjadi tegang, jantung berdebar lebih cepat, dan emosi meningkat. Pada saat yang sama, kemampuan berpikir jernih yang dikendalikan oleh bagian otak depan (prefrontal cortex) menjadi menurun.
Pada pasangan yang gagal, kondisi ini sering berkembang menjadi apa yang disebut emotional flooding, yaitu keadaan ketika emosi negatif membanjiri sistem saraf sehingga seseorang tidak lagi mampu berpikir tenang. Dalam keadaan ini, orang cenderung menyerang, membela diri secara berlebihan, atau menutup diri dari komunikasi.
Sebaliknya, pasangan yang bertahan lama biasanya memiliki kemampuan untuk menenangkan diri lebih cepat. Mereka tetap bisa marah, kecewa, atau terluka, tetapi tidak terjebak terlalu lama dalam reaksi emosional tersebut. Mereka mampu kembali ke kondisi yang lebih tenang sehingga percakapan yang konstruktif dapat terjadi. Karena itu, penelitian menunjukkan bahwa yang paling berbahaya bagi hubungan bukanlah konflik itu sendiri, melainkan ketidakmampuan menenangkan sistem saraf ketika konflik muncul.
Penelitian modern juga menemukan bahwa pasangan yang memiliki hubungan sehat seringkali menunjukkan tingkat keselarasan biologis yang lebih tinggi. Ketika mereka bersama, detak jantung, pola pernapasan, bahkan respons stres mereka cenderung lebih sinkron. Fenomena ini dikenal sebagai biological co-regulation, yaitu kemampuan dua orang untuk saling membantu menstabilkan kondisi fisiologis satu sama lain.
Dalam hubungan yang sehat, kehadiran pasangan seringkali membuat seseorang merasa lebih aman, lebih tenang, dan lebih kuat menghadapi tekanan hidup. Sebaliknya, dalam hubungan yang penuh konflik, kehadiran pasangan justru dapat menjadi sumber stres tambahan yang terus mengaktifkan sistem alarm tubuh. Dengan kata lain, pasangan yang bertahan bukan hanya saling mencintai, tetapi juga menjadi tempat aman bagi sistem saraf satu sama lain.
Pada fase awal jatuh cinta, otak menghasilkan kadar dopamin yang tinggi. Dopamin menciptakan rasa senang, antusias, dan euforia yang membuat seseorang merasa sangat bahagia ketika bersama orang yang dicintainya. Namun kondisi ini tidak dirancang untuk berlangsung selamanya. Seiring berjalannya waktu, hubungan yang sehat akan mengalami perubahan biologis. Fokus hubungan tidak lagi didominasi oleh dopamin, tetapi bergeser ke hormon-hormon yang berkaitan dengan keterikatan dan stabilitas, seperti oksitosin dan vasopresin.
Inilah alasan mengapa cinta yang matang terasa berbeda dengan cinta pada masa awal hubungan. Intensitas euforianya mungkin berkurang, tetapi rasa aman, kedekatan, dan kepercayaannya justru bertambah. Banyak hubungan gagal karena salah satu atau kedua pihak terus mengejar sensasi euforia awal dan menganggap berkurangnya sensasi tersebut sebagai tanda bahwa cinta telah hilang. Padahal yang sebenarnya diperlukan adalah kemampuan untuk bertransisi dari cinta yang didorong oleh gairah menuju cinta yang didasarkan pada keterikatan yang matang.
Selain faktor biologis, penelitian psikologi menunjukkan bahwa pola keterikatan emosional seseorang sangat memengaruhi kualitas hubungan yang dijalani. Teori Attachment menjelaskan bahwa manusia mengembangkan pola hubungan tertentu sejak masa awal kehidupannya. Sebagian orang memiliki pola keterikatan yang aman (secure attachment). Mereka merasa nyaman dengan kedekatan, mampu mempercayai pasangan, dan tidak mudah panik ketika menghadapi masalah hubungan.
Sebaliknya, ada orang yang memiliki pola cemas (anxious attachment), yaitu selalu takut ditinggalkan dan membutuhkan kepastian terus-menerus. Ada pula yang memiliki pola menghindar (avoidant attachment), yaitu merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional dan cenderung menjaga jarak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa secure attachment merupakan salah satu prediktor terkuat bagi keberhasilan hubungan jangka panjang. Orang yang memiliki rasa aman dalam dirinya lebih mampu membangun rasa aman dalam hubungan.
Penelitian yang dilakukan oleh John Gottman menemukan bahwa hubungan seringkali tidak hancur karena satu kesalahan besar. Yang lebih berbahaya adalah pola negatif yang terus berulang dalam kehidupan sehari-hari. Empat pola yang paling merusak adalah kebiasaan mengkritik pasangan secara terus-menerus, bersikap defensif, merendahkan pasangan, dan menarik diri dari komunikasi.
Hubungan jarang runtuh karena satu badai besar. Lebih sering hubungan rusak karena ribuan luka kecil yang tidak pernah disembuhkan. Sedikit demi sedikit rasa hormat terkikis, kepercayaan melemah, dan kedekatan emosional menghilang.
Pasangan yang bertahan lama biasanya tidak memandang hubungan sebagai sekadar tempat mencari kebahagiaan atau kenyamanan pribadi. Mereka melihat hubungan sebagai perjalanan jangka panjang yang memiliki makna yang lebih besar. Mereka memahami bahwa hubungan akan mengalami pasang surut, tetapi tetap layak diperjuangkan karena mengandung nilai, tujuan, dan komitmen yang melampaui perasaan sesaat. Dalam bahasa sederhana, pasangan yang bertahan tidak hanya bertanya, “Apakah aku masih merasa jatuh cinta?” Mereka juga bertanya, “Apa yang sedang kita bangun bersama?”
Dalam kerangka SAT (Self Awareness Transformation), keberhasilan hubungan sangat dipengaruhi oleh tingkat kesadaran seseorang terhadap dirinya sendiri. Banyak konflik muncul karena manusia hidup dalam mode reaktif. Dalam mode ini, seseorang langsung mengikuti emosinya. Ketika merasa tersinggung, ia langsung menyerang. Ketika merasa ditolak, ia langsung marah atau menjauh.
Pada tingkat yang lebih matang, seseorang mulai masuk ke mode reflektif. Ia mampu mengamati apa yang sedang terjadi di dalam dirinya sebelum bereaksi. Ia menyadari emosinya, memahami pemicunya, lalu memilih respons yang lebih bijaksana. Pada tingkat yang lebih tinggi lagi terdapat kondisi kehadiran penuh (presence), yaitu keadaan ketika seseorang mampu tetap sadar, tenang, dan hadir meskipun sedang menghadapi situasi yang sulit. Pasangan yang gagal seringkali terjebak dalam pola reaktif. Sebaliknya, pasangan yang bertahan biasanya telah mengembangkan kemampuan refleksi diri yang lebih baik.
Salah satu temuan penting dalam psikologi modern adalah bahwa banyak konflik pasangan sebenarnya bukan disebabkan oleh masalah saat ini.
Seringkali yang bereaksi adalah luka lama yang belum selesai. Perasaan tidak dihargai, tidak dicintai, ditolak, atau diabaikan yang terbentuk sejak masa kecil dapat muncul kembali dalam hubungan dewasa. Akibatnya, seseorang tidak lagi merespons pasangannya secara objektif, melainkan merespons pengalaman masa lalunya yang belum sembuh. Karena itu, semakin tinggi kesadaran diri seseorang, semakin kecil kemungkinan ia memproyeksikan luka batinnya kepada pasangan.
Jika neuroscience berbicara tentang otak dan psikologi berbicara tentang pola mental, maka filsafat Mulla Sadra mengajak kita melihat lapisan yang lebih dalam, yaitu arah perkembangan jiwa manusia. Melalui konsep Harakah Jawhariyyah (gerak substansial), Mulla Sadra menjelaskan bahwa jiwa manusia tidak pernah diam. Jiwa selalu bergerak dan berubah dari waktu ke waktu. Pertanyaan yang penting bukanlah apakah seseorang berubah atau tidak, melainkan ke arah mana perubahan itu bergerak.
Sebagian orang semakin dikuasai oleh ego, dorongan sesaat, dan kepentingan diri. Sebagian lainnya bergerak menuju kesadaran, kebijaksanaan, makna hidup, dan kedewasaan spiritual. Dalam perspektif ini, banyak hubungan gagal karena dua orang bergerak ke arah kehidupan yang berbeda. Mereka mungkin tinggal bersama, tetapi pertumbuhan batin mereka tidak lagi sejalan. Sebaliknya, pasangan yang bertahan biasanya memiliki arah pertumbuhan yang selaras. Mereka berkembang bersama menuju tujuan hidup yang mereka yakini.
Dalam pandangan ini, cinta bukanlah tujuan akhir. Cinta adalah sarana untuk bertumbuh dan transformasi. Jika hubungan hanya digunakan untuk mencari kenyamanan, hubungan cenderung mengalami stagnasi. Namun jika hubungan dipandang sebagai ruang untuk belajar, memperbaiki diri, mengembangkan kesadaran, dan menjadi manusia yang lebih baik, maka hubungan menjadi sarana transformasi.
Pada tingkat yang paling dalam, hubungan bukan lagi sekadar interaksi antara dua individu, melainkan penyatuan arah hidup dan orientasi keberadaan. Dua orang tidak hanya berjalan berdampingan, tetapi bergerak menuju tujuan yang sama. Karena itu, hubungan yang langgeng bukan hanya persoalan cinta yang kuat, tetapi juga hasil dari sistem saraf yang stabil, kesadaran yang matang, karakter yang bertumbuh, dan arah jiwa yang berjalan bersama menuju tujuan yang sama.
@pakarpemberdayaandiri




