Foto:
Suasana pembangunan BRT Mebidang di Jalan Gatot Subroto, Medan.
STRATEGINEWS.id, Medan — Wali Kota Medan Rico Waas memastikan pembangunan Medan Bus Rapid Transit (BRT) TransMebidang terus dikebut sebagai moda transportasi massal baru yang menghubungkan Medan, Binjai, dan Deli Serdang. Proyek ini diharapkan mengubah kebiasaan masyarakat beralih ke transportasi umum.
Pembangunan BRT ini mengorbankan 2.700 pohon ditebang, warga kehilangan akses untuk menyeberang jalan, dan kemacetan di beberapa ruas jalan Medan.
“BRT ini moda transportasi baru. Selama ini sudah ada, kita lihat bus listrik. Pada saat ini koridornya masih 5 tapi harus ditingkatkan koridornya lebih banyak,” kata Rico.
1.Akan beroperasi penuh dengan 515 bus listrik yang melayani 17 rute dan 32 halte besar di Medan, Binjai, dan Deli Serdang
Konsep BRT Medan dirancang untuk menyambungkan tiga wilayah dengan rute yang cukup panjang, mulai dari Jalan Sisingamangaraja hingga ke ujung kota.
“Nah, ini kan dibutuhkan pembangunan. Nah, inilah yang sedang kita bangun. Mohon doanya kepada seluruh masyarakat Kota Medan. Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa selesai,” ujarnya.
Berdasarkan data ITDP Indonesia, proyek BRT TransMebidang memasuki tahap konstruksi pada 2024. Operasional awal ditargetkan mulai Agustus 2024 dengan 60 bus listrik yang melayani lima rute sepanjang 176,5 km. Pada 2027, sistem ini diharapkan beroperasi penuh dengan 515 bus listrik yang melayani 17 rute dan 32 halte besar di Medan, Binjai, dan Deli Serdang.
“Akan ada penambahannya kepada bus-bus baru agar nantinya bagaimana cara berkehidupan kita untuk menggunakan transportasi. Pelan-pelan kita dorong untuk memakai transportasi umum, yang nantinya pasti hemat untuk masyarakat kita,” lanjut Rico.
2.Tebang 2.700 pohon dan janji diganti dengan 61 ribu pohon
Pembangunan koridor BRT berdampak pada penebangan sekitar 2.700 pohon di sepanjang jalur. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan, Melvi Marlabayana Girsang, menyebutkan, penebangan dilakukan kontraktor pelaksana proyek BRT dari Kementerian Perhubungan, bukan Pemko Medan.
Hal ini memicu keluhan warga terkait dengan potensi polusi dan meningkatnya suhu udara. WALHI Sumut mempertanyakan aspek legalitas dan kajian tata ruang, serta mendesak pemerintah memastikan penggantian pohon benar-benar memulihkan fungsi ekologis yang hilang.
Menjawab kekhawatiran itu, Rico memastikan akan dilakukan penggantian pohon dalam jumlah jauh lebih besar.
“Pemerintah bersama para pihak yang mengerjakan BRT ini mengganti pohon tersebut dengan 61 ribu pohon untuk ditanam di Kota Medan. Jadi, dari 2 ribuan yang dipotong itu diganti 61 ribu pohon,” katanya.
Program penanaman 61 ribu pohon ditujukan untuk menjaga ruang hijau, mengurangi polusi, dan mengantisipasi efek panas di sepanjang koridor BRT. DLH Medan menyatakan, penebangan dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama dan akan diikuti program penggantian pohon dalam jumlah lebih besar.
3.Dorong alih moda ke transportasi umum
Medan BRT merupakan bagian dari paket proyek Indonesia Mass Transit (MASTRAN) dengan dukungan dana US$224 juta dari Kementerian Perhubungan. Saat ini, layanan bus listrik di Medan baru beroperasi di 5 koridor.
Rico berharap kehadiran BRT dapat mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, menekan kemacetan, dan menekan biaya transportasi masyarakat.
“Ini konsepnya menyambungkan Medan, Binjai, dan Deli Serdang,” tegasnya.
Proyek ini masih dalam tahap pembangunan. Pemkot Medan mengajak masyarakat untuk mendukung dan bersabar selama proses berlangsung, seperti dikutip dari idntimes.com, Selasa (26/5/2026) pagi.
- (KTS/rel)










