Strateginews.id-Palu, Peserta program magang di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu menciptakan aplikasi digital bernama SIKABAR atau Sistem Informasi Ketersediaan Barang untuk mendukung pengelolaan administrasi dan inventaris kantor secara lebih efektif.
Aplikasi tersebut merupakan hasil inovasi peserta magang yang menjalani praktik kerja selama enam bulan di lingkungan imigrasi. Sistem itu kini mulai diuji untuk mendukung tata kelola barang masuk dan keluar di bagian tata usaha.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu, Muhammad Akmal, mengatakan setiap peserta magang diwajibkan membuat inovasi selama mengikuti program pembelajaran di kantor imigrasi.
“Pada saat menyelesaikan magang, ada persyaratan membuat satu inovasi. Inovasi itu nantinya akan kami uji apakah bisa digunakan di lingkungan kantor imigrasi,” kata Akmal, Selasa (20/5/2026).
Menurut Akmal, inovasi peserta magang berpotensi dikembangkan menjadi sistem terpadu yang dapat mendukung pelayanan administrasi internal, termasuk pengelolaan barang dan jasa.
Lebih jauh Akmal menjelaskan, program magang tersebut diikuti 29 peserta dari berbagai jurusan. Selama enam bulan, peserta ditempatkan secara bergilir di sejumlah seksi, mulai dari layanan paspor, izin tinggal keimigrasian, pengawasan orang asing, informasi keimigrasian, hingga tata usaha.
Selain pembelajaran teknis, peserta juga dibekali etika pelayanan publik dan kemampuan komunikasi saat melayani masyarakat.
“Kami ajarkan etika penerimaan tamu, pelayanan paspor, pengawasan orang asing, hingga pembuatan konten informasi keimigrasian,” ujarnya.
Sementara itu, Kasubag Tata Usaha Aditya Mardya Bhakti mengatakan aplikasi SIKABAR dibuat peserta magang di bagian tata usaha sebagai bentuk inovasi digital internal.
Menurut dia, aplikasi tersebut dirancang menggunakan Google Script dan Google Spreadsheet dengan sistem login melalui username dan password.
“Barang yang masuk ataupun keluar akan otomatis tersimpan dalam database dan stok akan berkurang secara otomatis,” kata Aditya.
Ia menambahkan aplikasi itu masih terus dikembangkan agar dapat digunakan secara berjenjang mulai dari operator hingga kepala kantor.
Proses pembuatan aplikasi disebut berlangsung selama sekitar dua minggu. Meski masih berbasis sistem internal sederhana, inovasi tersebut dinilai mampu membantu pengelolaan inventaris kantor secara lebih tertata dan efisien.
Pihak imigrasi berharap pengalaman magang dan inovasi yang dihasilkan peserta dapat menjadi bekal memasuki dunia kerja serta mendukung pengembangan layanan publik berbasis digital di masa mendatang. (Damai Tebisi).












