Syarifudin Hafid: Hadapi Cuaca Ekstrem Harus Dicarikan Solusi Alternatif Untuk Stabilitas Ekonominya

Wakil Ketua DPRD Sulawesi Tenngah H. Syarifuddin Haifid [Foto ist/Tribunnews.com]

STRATEGINEWS.id, Jakarta – Kondisi nelayan di Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai tantangan signifikan, terutama terkait faktor cuaca ekstrem, penipisan stok ikan, dan permasalahan sosial-ekonomi.

Perubahan iklim menyebabkan cuaca menjadi sulit diprediksi, gelombang tinggi, dan angin kencang lebih sering terjadi. Akibatnya, nelayan sering tidak dapat melaut, yang secara langsung menghentikan sumber pendapatan mereka.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sulawesi Tengah H. Syarifudin Hafd, SH mengatakan, nelayan Sulteng saat ini menghadapi dilema antara potensi laut yang besar dan ancaman lingkungan serta cuaca.

“ Nelayan kita saat ini dihadapkan pada sejumlah tantangan, terutama ancaman cuaca ekstrem. Menghadapi tantangan cuaca ekstrem kita akan fokus pada adaptasi, pemanfaatan teknologi, dan diversifikasi mata pencaharian. Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi risiko melaut, memastikan keberlanjutan pendapatan, dan meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga nelayan,” kata Syarifudin Hafid, Jumat (9/1/2026) siang.

Pemanfaatan teknologi, kata Syarifudin, sangat penting, agar nelayan bisa dengan mudah mengakses informasi geoinformasi dan komunikasi, terutama peringatan dini cuaca ekstrem dari lembaga seperti BMKG. Hal ini memungkinkan mereka untuk merencanakan aktivitas melaut dengan lebih aman dan tidak memaksakan diri jika kondisi tidak memungkinkan.

“ Pemanfaatan teknologi seperti alat tangkap yang lebih efisien dan ramah lingkungan, serta teknologi pendingin (cold storage dan pabrik es) untuk menjaga kualitas hasil tangkapan dapat meningkatkan produktivitas dan nilai jual ikan. Ini sebagai upaya untuk melindungi dan mensejahterakan nelayan,” ujarnya.

Diversifikasi Mata Pencaharian

Saat cuaca buruk dan nelayan tidak dapat melaut (musim paceklik), memiliki sumber pendapatan alternatif sangat penting untuk stabilitas ekonomi keluarga.

“ Harus kita carikan jalan keluar agar nelayan tetap memiliki sumber-sumber ekonomi untuk stabilitas ekonomi keluarga, misalnya mengembangkan usaha budidaya ikan di tambak atau keramba jaring apung di perairan yang lebih tenang,” tuturnya.

“ Anggota keluarga nelayan dapat dilatih untuk mengolah hasil laut menjadi produk bernilai tambah seperti kerupuk ikan, terasi, atau ikan asap, yang dapat dijual secara lokal atau daring,” sambung Wakil Ketua II DPRD Sulteng ini.

Dengan mengimplementasikan strategi dan upaya lain secara terintegrasi, diharapkan kesejahteraan nelayan dapat meningkat dan lebih tahan terhadap dampak variabilitas iklim dan cuaca ekstrem.

[jgd]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *