Opini  

Keuangan Islam sebagai Shifting Strategy: Dari Geopolitik menuju Geoekonomi Global

Muhammad M Said

Oleh: Muhammad M Said *)

Eskalasi ketegangan geopolitik global semakin meningkat yang berlangsung dalam bentuk yang jauh lebih kompleks ditandai perang dagang atau sanksi ekonomi, operasi militer terbatas, tekanan hukum internasional, dan perdebatan luas tentang legalitas dan kedaulatan negara. Konflik global hari ini tidak lagi semata soal senjata, melainkan juga soal legitimasi politik dan kendali atas sumber daya strategis.

Namun, fokus semacam ini sering menutup fakta bahwa sedang berlangsung pergeseran paradigma yang lebih mendasar: konflik global kian diekspresikan melalui instrumen ekonomi dan keuangan. Dengan kata lain, geopolitik tengah bergerak menuju geoekonomi sebagai arena utama pertarungan kekuasaan.

Rusia dapat dibaca sebagai contoh penting bagaimana negara merespons tekanan geopolitik melalui strategi geoekonomi. Transformasi strategis yang signifikan melalui peluncuran program perintis partnership financing—model keuangan berbasis prinsip Islam—di empat wilayah dengan populasi Muslim terbesar, yaitu Tatarstan, Bashkortostan, Chechnya, dan Dagestan bukan sekadar inovasi teknis perbankan, melainkan bagian dari strategi membangun ketahanan ekonomi di tengah tekanan sanksi Barat dan fragmentasi sistem keuangan global, serta perubahan pola respons negara dari konfrontasi terbuka menuju adaptasi struktural melalui desain sistem ekonomi alternatif.

Pola pergeseran dari geopolitik ke geoekonomi berlangsung melalui beberapa tahap, di antaranya respons geoekonomi lawan melalui sanksi, isolasi pasar, dan pembekuan aset. Tahp ini mendorong negara negara sasaran untuk melakukan adaptasi internal dengan mencari sistem alternatif di sektor pembayaran dan keuangan dan institusionalisasi strategi baru dalam bentuk kebijakan konkret, seperti partnership financing yang kini diterapkan Rusia di wilayah-wilayah dengan pertumbuhan populasi Muslim yang tinggi.

Pergeseran juga tidak lepas dari sejumlah faktor. Faktor demografi, mislanya menjadi alasan struktural kuat. Populasi Muslim Rusia yang diperkirakan telah melampaui 20 juta jiwa terus tumbuh. Mereka selama ini berada di pinggiran sistem keuangan formal berbasis bunga yang dinggap tidak selaras dengan nilai keagamaan sekaligus tidak adil secara etis.

Konteks sosial-historis membentuk relasi masyarakat Muslim Rusia dengan sistem keuangan formal. Ketidakpercayaan mereka terhadap perbankan konvensional selain kontras secara teologis, juga berakar pada pengalaman panjang era Soviet di mana lembaga perbankan beralih fungsi dari intermeary institution menjadi tool of  control negara sehingga mereka memandang keterlibatan dengan lembaga keuangan formal mengandung risiko politik dan sosial yang kemudian melahirkan trauma konflik seperti konflik bersenjata di kawasan Kaukasus Utara pada dekade 1990–2000-an.

Program partnership financing dapat dibaca sebagai upaya rekonsiliasi historis—mekanisme untuk membangun kembali kepercayaan antara negara, sistem keuangan, dan komunitas Muslim, dan juga perluasan diversifikasi arsitektur keuangan nasional agar lebih inklusif dan berakar pada ekonomi riil seperti rumah, kendaraan, dan proyek usaha sehingga menutup ruang spekulasi dan melarang investasi pada sektor yang dianggap tidak etis. Karena berbasis aset dan pembagian risiko, keuangan Islam dipandang relatif lebih tahan terhadap krisis berbasis utang yang kerap memicu instabilitas global.

Penggunaan istilah partnership financing, bukan Islamic financing  mencerminkan pendekatan pragmatis yang bertumpu pada fungsi ekonomi dan kontrak bisnis (muamalah), instrumen kebijakan publik yang dapat diterima secara luas, bukan simbol ideologis dan identitas keagamaan.

Program ini memberikan sinyal positif dari sisi stabilitas ekonomi lokal dan penerimaan sosial. Kesuksesan yang meningkat dari program ini membawa Rusia berpotensi memperluas model ini secara nasional dan menempatkan diri sebagai salah satu pusat keuangan Islam non-Muslim yang signifikan dalam tatanan keuangan global.

Program partnership financing menujukkan keuangan Islam telah berevolusi menjadi instrumen geoekonomi—alat negara untuk meningkatkan ketahanan ekonomi, memperluas jejaring investasi global, dan merespons pergeseran paradigma ekonomi dunia dari unipolar menuju multipolar. Keuangan tanpa bunga menjadi alternatif moral, dan strategi rasional untuk membangun sistem keuangan yang lebih adaptif, inklusif, dan tahan krisis di tengah persaingan geopolitik global.

*) Penasehat Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), IKA Lemhannas Strategic Centre, dan Guru Besar Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *