Opini  

Rendahnya Minat Baca Buku Bukan Karena Malas, Tapi Karena Akses Bacaan Kurang Menarik

Foto ilustrasi Nibble.id

Rianna Saraan *)

Selama ini, rendahnya minta baca masyarakat Indonesia sering dianggap akibat kemalasan atau kurangnya kesadaran pentingnya membaca. Padahal, anggapan itu tidak sepenuhnya tepat. Masalah sesungguhnya justru terletak pada kurang menariknya bahan bacaan dan sulitnya akses untuk mendapatkan bacaan yang sesuai kebutuhan pembaca.

Rianna Saraan

Bacaan yang tersedia kurang menarik:

Banyak perpustakaan di sekolah dan daerah masih dipenuhi buku-buku pelajaran atau teks akademik yang kaku. Sementara jenis bacaan populer seperti novel inspiratif, cerita rakyat bergambar, atau buku fiksi ilmiah sangat minim.

Sebagai contoh, hasil survei Perpustakaan Nasional tahun 2023 menunjukkan bahwa 52% masyarakat Indonesia menganggap bacaan di perpustakaan belum menarik karena isinya terlalu berat dan tidak sesuai minat. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat sebenarnya tidak malas membaca, hanya saja mereka kesulitan menemukan bacaan yang membuat mereka betah.

Akses terhadap bacaan masih terbatas:

Masalah utama lainnya adalah keterbatasan akses terhadap buku. Banyak daerah terpencil di Indonesia belum memiliki perpustakaan yang memadai. Bahkan di kota pun, tidak semua sekolah memiliki ruang baca yang nyaman dan koleksi yang diperbarui secara rutin.

Menurut data UNESCO dan Perpusnas, rasio perpustakaan terhadap jumlah penduduk Indonesia masih rendah, yaitu sekitar 1 perpustakaan untuk 24.000 orang. Selain itu, layanan digital seperti e-book dan aplikasi baca masih belum merata karena keterbatasan internet di daerah. Ini menunjukkan bahwa persoalan rendahnya minat baca bukan terletak pada keinginan, melainkan pada kesempatan untuk membaca.

Kurangnya inovasi dalam mengenalkan bacaan:

Selain kurang menarik dan sulit diakses, cara memperkenalkan kegiatan membaca juga masih tradisional. Banyak sekolah hanya menjadikan membaca sebagai tugas wajib, bukan kegiatan yang menyenangkan.
Beberapa daerah yang melakukan inovasi justru menunjukkan hasil berbeda. Misalnya, program “Pustaka Bergerak” di Yogyakarta dan “Perahu Pustaka” di Maluku berhasil menarik minat anak-anak untuk membaca karena menghadirkan buku dengan cara yang kreatif dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Bukti ini menunjukkan bahwa jika bacaan dan penyajiannya dibuat menarik, masyarakat akan kembali mencintai buku.

Kesimpulan:

Rendahnya minat baca di Indonesia bukanlah akibat kemalasan, melainkan akibat kurang menariknya bahan bacaan dan terbatasnya akses terhadapnya. Masyarakat sebenarnya memiliki keinginan membaca, hanya saja belum difasilitasi dengan cara yang menarik, mudah, dan relevan dengan kehidupan mereka.

*) Penulis: Rianna saraan (230503037), Mahasiswa Prodi Ilmu perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *