Opini  

Akar Protes: Problem Struktural Kemiskinan dan Kesenjangan, Mencari Dalang Tidak Akan Meredam Protes


Ekonom Achmad Nur Hidayat

Oleh Achmad Nur Hidayat , Ekonom & Pakar Kebijakan Publik, UPN Veteran Jakarta

Pertanyaannya lugas: Benarkah kekerasan dalam demonstrasi saat ini dipicu kesenjangan dan kemiskinan?

Jika ratusan triliun telah digelontorkan, mengapa progres terasa lambat, apakah bansos hanya menahan rasa sakit sesaat? Lalu apa penyakit struktural kita dan bagaimana terapi jangka panjangnya, terutama di kota yang ketimpangannya lebih tajam?

Kekerasan Pekan Lalu: Bensin Kesenjangan, Pemicu Kepercayaan

Bayangkan panci presto. Tekanan meledak bukan oleh satu sebab, melainkan kombinasi panas biaya hidup, uap rasa ketidakadilan, dan katup akuntabilitas yang macet.

Data resmi menunjukkan kemiskinan Maret 2025 sekitar 8,47%, membaik dibanding tahun sebelumnya, serta Gini Ratio 0,375.

Namun ketimpangan di kota lebih tajam (Gini 0,395) dibanding desa (0,299). Di kota, kemiskinan absolut lebih rendah, tetapi jurang kualitas layanan, kesempatan kerja, dan beban biaya hunian-transportasi membuat persepsi ketidakadilan menumpuk.

Jadi, ya: kesenjangan adalah bensin yang menguap; pemicu ledaknya adalah krisis kepercayaan pada rasa adil, isu privilese, layanan publik yang terasa tak setara, dan penanganan kerumunan yang memantik emosi.

Upaya represif petugas dan mencari dalam kambing hitam tidak akan mereda protes tersebut, lantas apa yang bisa dilakukan?

Ratusan Triliun APBN: Tidak Sia-sia, tetapi Tersandera Desain

Apakah belanja besar pemerintah tidak efektif? Menyimpulkan “tidak efektif” tidak tepat. Perlinsos dan belanja terkait yang mencapai ratusan triliun rupiah dari tahun ke tahun jelas menahan kejatuhan, menjaga konsumsi, dan memperbaiki indikator. Namun dampaknya kerap tersandera dua hal. Pertama, fragmentasi program, banyak skema kecil yang mirip, menimbulkan tumpang tindih dan biaya administrasi tinggi. Kedua, lemahnya jembatan dari bantuan menuju pemberdayaan: penerima mendapat transfer, tetapi tidak otomatis terhubung ke pekerjaan yang lebih baik, akses modal, atau peningkatan keterampilan. Seperti infus yang menyelamatkan, ia krusial; tetapi tanpa terapi penyebab, pasien mudah kambuh.

Apakah Bansos Hanya Sesaat? Bergantung pada Arsitekturnya

Bansos adalah sabuk pengaman. Ia wajib menyala saat guncangan, pandemi, kenaikan harga pangan, PHK massal.

Ia menjadi sesaat jika diperlakukan sebagai tujuan; ia berkelanjutan jika menjadi jembatan.

Kuncinya menggeser 3T versi lama (Targeting–Transfer–Top-up) menjadi 3T baru: Targeting super-presisi berbasis registri sosial yang dinamis; Transfer adaptif mengikuti siklus hidup dan lokasi; Transition yang memastikan penerima “lulus” menuju pekerjaan, kewirausahaan, atau peningkatan keterampilan.

Bansos harus terhubung ke pelatihan berbasis permintaan industri, job matching digital, kredit mikro dengan pendampingan, serta dukungan penitipan anak dan transportasi agar orang miskin bisa benar-benar bekerja.

Problem Struktural dan Terapi Jangka Panjang

Masalah dasarnya berlapis: pasar kerja yang didominasi sektor informal berproduktivitas rendah; layanan publik dasar (pendidikan, gizi, sanitasi, kesehatan ibu-anak) yang belum merata; tata ruang dan perumahan kota yang mahal; tata kelola yang belum sepenuhnya dipercaya; serta arsitektur fiskal daerah yang belum menajamkan insentif kinerja.

Saya menawarkan kerangka “3I + 3K” sebagai terapi jangka panjang.

Tiga I pertama adalah Income, Inclusion dan Integrity, selanjutknya yang dimaksud Tiga K adalah Kota, Kepasitas dan Kepastian
Income: industrialisasi bernilai tambah dengan supplier development UKM dan kemudahan perizinan yang memangkas biaya tetap usaha kecil. Inclusion: perlinsos yang disambungkan ke upskilling/reskilling, job matching, kredit mikro pendampingan, dan layanan pendukung keluarga. Integrity: registri sosial tunggal yang dinamis, jejak digital penyaluran, dan sanksi tegas bagi penyimpangan untuk memulihkan kepercayaan.

Lalu Kota: perumahan sewa terjangkau di lokasi strategis dan konektivitas mass-transit; Kapasitas: one-stop ketenagakerjaan daerah (pelatihan singkat, sertifikasi, job placement cepat) dan inkubator UMKM dekat klaster industri; Kepastian: reformasi perizinan berbasis tenggat waktu dan ombudsman daerah yang berdaya.

Perkotaan Butuh Pendekatan Berbeda

Kota adalah mesin peluang dan ruang ketimpangan sekaligus.

Karena biaya hidup menjadi “pajak diam-diam”, kebijakan anti-kemiskinan urban harus memusat pada hunian, transportasi, dan layanan pengasuhan.

Subsidi sewa berbasis kebutuhan, rumah mikro di simpul transportasi massal, dan kartu transportasi terintegrasi bagi pekerja berupah rendah lebih efektif ketimbang transfer tunai generik.

Pasar kerja gig menuntut jaring pengaman baru: asuransi kehilangan jam kerja jangka pendek yang otomatis aktif, disambungkan ke pelatihan singkat yang memberi keterampilan yang laku dalam hitungan minggu, bukan semester.

Intervensi di kantong-kantong kumuh, perbaikan sekolah dan puskesmas, murah namun berdampak panjang karena menaikkan kapasitas menghasilkan pendapatan.

Menutup Panci Presto

Jawaban lima pertanyaan tadi bertemu di satu garis lurus.

Kekerasan dipicu krisis kepercayaan yang menempel pada kesenjangan, terutama di kota.

Belanja besar negara tidak sia-sia, tetapi dampaknya belum maksimal karena desain yang belum mengantar penerima naik kelas.

Bansos bukan musuh; ia jembatan.

Problem strukturalnya: produktivitas rendah, tata ruang mahal, layanan publik timpang, dan kelemahan tata kelola.

Terapi jangka panjangnya: 3I + 3K yang menautkan perlindungan sosial dengan pekerjaan bernilai tambah, layanan publik berkualitas, dan institusi yang dipercaya.

Stabilitas tidak lahir dari keheningan, melainkan dari rasa adil yang dirasakan. Turunkan panas ketidakadilan, buka katup akuntabilitas, dan kuatkan dinding peluang, maka energi protes berubah menjadi energi produktif untuk loncatan kesejahteraan.

END

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *