STRATEGINEWS.id, Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menetapkan tarif impor sebesar 32 persen terhadap produk asal Indonesia. Kebijakan tersebut mulai diberlakukan per 1 Agustus 2025 mendatang.
Selain Indonesia, sejumlah negara juga dilaporkan menerima surat dari Donald Trump terkait kebijakan tarif terbaru, antara lain Malaysia, Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, Bangladesh, Serbia, Bosnia, Kazakhstan, Afrika Selatan dan Tunisia.
Menanggapi penetapan tarif Trump untuk Indonesia yang tetap di angka 32 persen, DR Jerry Massie MA, PhD (Direktur Poilitical and Public Policy Studies) menilai lemahnya lobi dan diplomasi tim ekonomi Prabowo.
“Saya kira titik lemah hingga Presiden Donald Trump mengenakan tarif 32 persen tak lepas sari lemahnya lobi dan diplomasi tim ekonomi Prabowo. Harusnya Kementerian Perdagangam punya the power of lobbying dan the of diplomacy. Tapi ada 90 hari diberikan kesempatan oleh Presiden Donald Trump tapi tak dimanfaatkan secara optimal. Saya kira tim kita mandul tak bisa berbuat apa-apa. Jadi kalau tak mampu step down aja. Kenapa China bisa menurunkan tarif dari 136 menjadi 30 persen,” kata Jerry, melalui keterangan di Jakarta, Kamis [10/7]
Jerry mengungkapkan, Vietnam lewat komunikasi intens dan diplomasi mereka mampu turunkan tarif yang dipatok awal 46 persen turun sampai 20 persen dan Inggris dari 27,5 turun sampai 10 persen. Kamboja dari 46 persen turun 6 persen yakni 39 persen.
Kuncinya, kata Jerry, mereka berusaha meyakinkan Trump. Padahal ada tawaran Rp550 triliun untuk pembelian pesawat Boeing oleh Garuda dan minyak AS. Tapi tak membuat Trump bergeming.
“Saya pikir ada 3 faktor kenapa AS ngotot menetapkan tarif Indonesia 30 persen salah satunya bergabungnya Indonesia dengan BRICS, kedua pembayaran memakai VIsa card yang diinginkan Donald Trump tak digubris pemerintah Indonesia. Dan kita tetap menggunakan sistem serta jenis pembayaran QRIS,” beber Jerry
“ Kedua, Prabowo terlalu banyak melobi pimpinan BRICS diantaranya Rusia, Arab Saudi, Brasil bahkan Cina yang sama-sama masuk dalam keanggotaan BRICS. Selanjutnya permntaan Trump soal Indonesia harus membangun pabrik di AS, hal itu harus dicermati dan disikapi kalau mau tarif kita turun. turun 15-20 persen,” ungkapnya.
Jerry mengatakan, kita tak punya diplomat ulung dan ahli komunikqsi bisnis untuk melakukan lobi terhadap pemerintah AS. Sebetulnya kalau ada tim ekonomi dan lobi yang kuat dan ada yang punya kedekatan dengan pemerintahan Trump maka bisa saja kita aman.
Tapi Imdonesia masih kalah tarif dengan Brazil yakni 50 persen, Myanmar 40 persen dan Thailand 38 persen dan Loas 40 persen.
“ Saya kira bisa Indonesia membangun pabrik Garmen dan Alas Kaki di Amerika lantaran bahan-bahan tekstil dan karet Indonesia kualitasnya terbaik di dunia. Contoh merek Calvi Klein, Express sampai American Eagle bisa di buka di Amerika. Kita sulit.mengandalkan China lantaran sama-sama mengandalkan manufaktur nah Amerika market share (pangsa pasar) sangat besar,” ujar Jerry
“Nah, Indonesian Embassy (Kedutaan Besar) di Amerika perlu diperkuat juga diplomasinya. Denhgan terpilihnya dubes yang varu akan mempermudah akses hubungan bilateral antara AS-Indonesia. Dan Indonesia bisa kena 42 persen lantaran masuk anggota BRICS. Janji Trump dia akan menambah 10 persen. Dan paling utama kita harus paham public policy and goverment policy Donald Trump,” pungkasnya.
[jgd/red]












