Hidup Hanya Singgah Sementara Waktu

Foto ilustrasi Kompasiana

Catatan: D. Supriyanto Jagad N *)

“ Le, hidup itu harus hati-hati, luruskan langkah, kudu eling lan waspodo. Setiap detak jantung kita, adalah milikNya. Ojo sembrono dalam menjalani hidup ini. Kita tidak akan pernah tahu, sampai sejauh mana perjalanan kita akan berakhir. Sak bejo-bejone wong urip, luwih bejo wong kang eling lan waspodo,” demikian pesan Ibu saya, yang sudah lekat kuat dalam ingatan saya.

Setiap manusia pasti mendambakan kesuksesan dalam hidupnya. Kita juga sebagai orang Islam tentunya ingin sukses baik di kehidupan dunia maupun akhirat sebagaimana digambarkan dalam doa kita “Rabbana atina fiddun ‘ya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina aza bannar”.

Saya merenung sejenak, mengeja kata demi kata nasehat ibu. Sebagai orang yang dibesarkan dalam kultur budaya jawa, ibu selalu menangkap sinyal kegelisahan spiritual yang saya alami, dengan pitutur luhur tanpa saya harus meminta. Ibu sudah tanggap sasmito atas pergolakan batin yang saya rasakan, tanpa saya harus menjelaskan.

“ Kamu ada apa Le, kok dari tadi perhatikan ibu yang lagi masak, tanpa berucap sepatah kata pun. Ono opo? Gak biasanya kamu aneh seperti ini. Kamu kan masih anak ibu yang suka guyon dan bisa menyembunyikan persoalan to? Kok sekarang bedo?” kata Ibu menyelidik.

Saya coba mengalihkan…

“ Bu, sekarang dunia sudah semakin tua ya, banyak orang yang tidak bisa mengorangkan orang lain, tidak bisa melihat sesama manusia sebagai layaknya manusia. Sing sugih, gembagus, dan melihat sebelah mata pada orang yang lebih rendah, akhirnya merenahkan orang lain,” kata saya.

“ Le kamu tahu, kenapa ibu selalu masak berlebih, meskipun kita hanya tinggal berdua?” kata Ibu mencoba memecah kegundahan saya. Saya sangat paham watak ibu, selalu memberi pitutur anaknya dengan bahasa-bahasa isyarat.

“Bu, kita kan sekarang cuma tinggal berdua, kenapa ibu tetap masak sebegitu banyak? Dulu sewaktu kita masih komplit tinggal berenam saja, ibu masaknya selalu lebih. Mbok yao dikurangi bu…biar ngiriit, apalagi di tengah situasi ekonomi yang serba tidak menentu dan tidak baik-baik saja seperti sekarang ini. BBM mahal, listrik mahal, daya beli turun,” kata saya

Ibu hanya tersenyum kecil…

Sambil membenahi letak kayu-kayu bakar di tungku, ibu menjawab, “Hambok yo ben tooo. BBM naik diam-diam, itu urusan penguasa, bukan urusan kita. Kita teriak sampai berbusa-busa pun  juga percuma, buang-buang energi saja. Mau lapor mas Wapres sekalipun yo ra bakal digagas. Yang penting, meskipun kita orang kecil, tapi hati kita luas, mampu mendengar jerit dan keluh kesah sesama,” kata ibu menimpali.

Meskipun orang desa, ibu ternyata mengikuti perkembangan dan dinamika politik kekinian. Buktinya, ibu tahu layanan pengaduan “ lapor mas wapres “ yang dilaunching Wapres Gibran dua hari lalu.

Saya hanya mesem mendengar jawaban ibu. Terhibur, kegelisahan batin saya, terusir pelan-pelan.

“Berbagi yo berbagi, ra sah gagas penguasa, wong penguasa juga gak mikirin kita,berbagi yang iklas, gak usah minta tiga periode, jangan seperti para politisi itu, berbagai ngundang infotainmen, biar dapat suara, itu gak iklas namanya. Sedekah itu yang iklas, gak usah nunggu momen pemilu atau pilkada, atau pil koplo” kata Ibu. Saya hanya mesam mesem mendengar ucapan ibu yang ceplas ceplos

“Mubazir, bu. Kayak kita ini orang kaya saja..,” saya menyahut pelan.

“Opo iyo mubazir? Mana buktinya? Ndi jal?” tanya ibu  kalem.

Kadang saya benci melihat gaya kalem ibu itu. Kalo sudah begitu, ujung-ujungnya pasti saya bakal kalah argumen.

“Lhaa itu? tiap hari kan yo cuma ibu bagi bagi kan ke tetangga to? Juga kepada orang-orang yang lewat mau ke pasar. Mbok ya dikurangi, wong kahanan lagi susah begini. Ibu tahu to?  ucap saya agak ngeyel.

“Itu namanya sedekah, bukan mubazir. Anak pernah sekolah kok tidak bisa membedakan antara sodaqoh dan barang kebuang,” kata ibu

“Sodakoh kok tiap hari?! Seperti sudah kaya saja, Bu… bu!” . Saya mulai jengkel dengan Ibu

“Ukuran kaya itu apa to? kata ibu tetap bernada kalem. Saya jadi gemes melihat ekspresi ibu yang adem-adem saja.

“Kalau kita memiliki sesuatu yang berlebih, itu ukurannya. Begitu saja pakai tanya Bu..bu..!” ucap saya sedikit kesal

“Lha, ibu kan punya makanan lebih to? Berarti ibu kaya, makanya bisa berbagi,” Lanjut ibu, mencoba memberi pemahaman pada saya, bagaimana mengelola keluasan hati.

Tangan ibu yang legam dengan kulit yang makin keriput, menyeka peluh di pelipisnya. Lalu ibu menggeser dingkliknya, sambil menatap lekat-lekat wajah saya. Saya terdiam tak sanggup berkata apa-apa

“Le, kita ini sudah dapat jatah rejeki masing-masing, tetapi kewajiban kita kurang lebih sama, sebisa mungkin memberi dan berbagi kepada sesama,” kata ibu pelan.

“Kaya itu keluasan hati untuk memberi, bukan soal kumpulan harta benda. Kalau kita menunggu terkumpulnya harta, baru bisa memberi, itu namanya kita lupa bersyukur, kita menjadi pribadi yang tidak tahu diri di hadapan Gusti Alloh,” tutur ibu lembut. Saya hanya terdiam, sambil mencerna kalimat demi kalimat yang diucapkan ibu.

“Ibumu ini kaya Le. Setiap hari punya makanan berlebih, jadi bisa memberi, meskipun ibu tidak memiliki harta benda. Tapi itu bukan ukuran kekayaan. Manusia hidup, harus penuh kasih, harus mampu menjadi khalifah, wakil Tuhan di muka bumi, agar senantiasa mampu membawa kebaikan-kebaikan, apapun keadaannya. Yang penting, kita tidak kleleran, masih bisa makan, bisa hidup, bisa beribadah, bisa menyekolahkan kamu agar kelak bisa menjadi orang yang berguna bagi agama dan sesama. Kebanggaan ibu  kelak, apabila kamu bisa menjadi sandaran sesama,” Ibu tersenyum adem.

“Injih, injih, Bu” Saya berucap lirih, tanpa berani menatap wajah Ibu

“Kamu mau tanya, mengapa Ibu masak banyak setiap hari ?” kata Ibu

Saya semakin tidak berdaya, semakin kagum dengan luasnya hati Ibu.

“ Begini, dulu eyang putrimu, selalu menasehati Ibu. Katanya kalau masak dilebihkan, meskipun ibaratnya hanya kuah, ataupun nasinya. Barangkali ada tetangga kiri kanan kedatangan tamu jauh, atau anaknya lapar malam-malam, paling tidak dengan kita bisa berbagi, mereka ada yang bisa dimakan. Begitu kira-kira. Semua diniatkan, Insya Alloh berkah, dan tidak ada kata mubazir, Paham?” kata Ibu

Saya terdiam. Saya mendapat pelajaran hikmah tentang hidup, bagaimana mensikapi hidup, di tengah ketidak berdayaan sekalipun.

“Maafkan saya Bu,” ucap saya pelan.

Ah, Ibu, Perempuan yang tidak mengecap bangku sekolah, namun pengetahuannya tentang hidup begitu luas. Ibu selalu mendudukkan segala persoalan hidup pada tempat yang semestinya. Termasuk soal cinta kasih terhadap sesama, Ibu punya cara sendiri untuk menghayatinya.

Sementara saya, manusia modern yang bangga belajar dan terjebak gaya hidup kapitalisme dengan segala hitung-hitungan untung rugi, selalu khawatir akan kekurangan, lupa bahwa Tuhan yang menjamin hidup setiap makhluk yang bernyawa.

Ibu benar, kaya itu kemampuan hati untuk memberi, untuk orang lain, bukan soal mengumpulkan untuk diri sendiri.

Itulah sepenggal kisah dialog saya dengan Ibu puluhan tahun silam. Dialog saya dengan Ibu  seakan menelanjangi diri saya. Di tengah pergumulan hidup di jaman edan seperti sekarang ini, betapa sifat welas asih, tepo sliro, saling tolong menolong, seakan menjadi hal yang langka.

Ibu, telah mengajarkan saya, keluasan hati dan keiklasan untuk berbagi. Hidup itu jangan pelit, apa yang kita miliki, ada hak orang lain yang dititipkan Allah kepada kita.

Sungguh Allah mencintai orang dermawan. Maka janganlah pernah takut kepada kemiskinan. Justru dengan bersedekah harta akan bertambah.

Sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha Pemurah tidak sepantasnya, kita sebagai umatNya, takut dilanda kemiskinan. Allah yang Maha Kaya tidak akan membuat hambaNya kelaparan bahkan rezeki seekor cacing yang berada didalam tanah pun sudah Allah jamin. Apa lagi manusia yang Allah karuniakan akal untuk berpikir.

Takut miskin akan menjadi penghalang bagi seseorang meraih sukses dengan mudah. Rasa takut miskin akan membuat seseorang enggan mengulurkan tangannya. Dalam artian mereka takut hartanya akan habis jika disedekahkan.

Sadarilah bahwa apa yang kita miliki segalanya milik Allah. Kita hanya dititipkan. Dan sebagian dari rezeki kita ada hak orang lain. Kita hanya perlu berusaha untuk memberikan yang terbaik dan berdo’a agar Allah jauhkan kita dari sifat takut miskin dan dijauhkan dari perbuatan kikir.

Sahabat, mari bersedekah untuk menjauhkan kita dari sifat takut miskin dan perbuatan kikir, karena sesungguhnya sedekah adalah pinjaman yang baik dan banyak pahalanya.

Hidup ini hanya singgah sementara waktu, mari kita mencari bekal untuk perjalanan pulang kita nanti…

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pahalanya) kepada mereka dan bagi mereka pahala yang banyak“. (QS. Al-Hadid: 18)

*) Pekerja Media, Penikmat Kopi Pahit…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *