STRATEGINEWS.id, Solo – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja [PHK] karyawan terpaksa dilakukan PT Sri Rejeki Isman Tbk [Sritex] akibat kondisi keuangan yang semakin memburuk karena terlilit hutang.
Berdasarkan laporan keuangan emiten dengan kode SRIL ini, perusahaan memutuskan akan melakukan PHK kepada karyawannya secara bertahap hingga 2025 mendatang.
Langkah ini tentu saja berdampak signifikan terhadap karyawan dan keluarganya.
“ Pengurangan karyawan secara berkala hingga 2025,” sebut laporan keuangan Sritex, dikutip Selasa [12/11/2024].
Sritex sendiri telah melaporkan kerugian neto sebesar USD 25.734.056 pada semester pertama tahun 2024. Kondisi ini, ditambah dengan defisit modal yang signifikan, menimbulkan keraguan atas kemampuan perusahaan untuk terus beroperasi.
Manajamen Sritex tengah berjuang meningkatkan penjualan dan efisiensi biaya, termasuk melalui pengurangan karyawan dan pengembangan produk baru. Perusahaan juga telah mendapatkan dukungan finansial dari pemegang saham.
Sejak dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang melalui putusan nomor 2/Pdt.Sus-Homologasi/2024/PN Niaga Smg 21 Oktober lalu, perusahaan tidak lagi leluasa mengelola aset-asetnya. Kewenangan mengurus dan membereskan harta perusahaan dialihkan oleh kurator yang ditunjuk pengadilan.
Prabowo Ingin Selamatkan Sritex
Raksasa tekstil terbesar di Asia Tenggara, PT Sri Rejeki Isman [Tbk] atau Sritex mengalami masalah keuangan yang sangat pelik, hingga dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri (PN) Niaga Semarang.
Diketahui, Sritex sudah merugi selama empat tahun berturut-turut sejak 2021. Segala upaya sudah dilakukan, namun Sritex tak mampu bertahan.
Sritex merupakan perusahaan yang memiliki skala bisnis yang terbilang sangat besar dan menyerap puluhan ribu tenaga kerja khususnya di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Mensikapi hal ini, pemerintah pun tidak tinggal diam membiarkan Sritex diambang pailit.
Untuk mengatasi kemelut keuangan yang menghimpit Sritex, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN dan Kementerian Tenaga Kerja menyelamatkan Sritex.
Presiden Prabowo memerintahkan empat Menteri untuk mengkaji sejumlah opsi untuk menyelamatkan Sritex
“ Pemerintah akan segera mengambil langkah untuk menyelamatkan karyawan PT Sri Rejeki Isman [Sritex], setelah perusahaan tersebut dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri [PN] Semarang,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, melalui keterangan dikutip Ahad [27/10/2024].
Keempat menteri Kabinet Merah Putih yang dilibatkan dalam penyehatan perusahaan tekstil ini adalah Agus Gumiwang Kartasasmita, Sri Mulyani, Erick Thohir dan Yassierli.
“Presiden Prabowo sudah memerintahkan Kementerian Perindustrian, Kemenkeu, Menteri BUMN, dan Menteri Tenaga Kerja untuk segera mengkaji beberapa opsi dan skema untuk menyelamatkan Sritex,” kata Agus
Agus juga menjelaskan bahwa prioritas pemerintah saat ini adalah menyelamatkan karyawan Sritex dari pemutusan hubungan kerja (PHK).
Mengenai status pailit Sritex, Menko Airlangga mengatakan bahwa pemerintah akan berkoordinasi dengan kurator terlebih dahulu.
“Nanti dilihat dulu karena sekarang statusnya ada kurator tentu harus ada pembicaraan dengan kurator,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menekankan bahwa pemerintah memastikan bahwa PHK tidak akan terjadi. Yassierli mengatakan, pemerintah menginstruksikan agar industri tekstil tetap berproduksi.
“Kemudian kita minta agar semua karyawan tetap tenang karena pemerintah akan memberikan solusi yang terbaik buat mereka. Dan kondisi saat ini masih dalam proses hukum, kita lihat dan langkah-langkah selanjutnya tadi sudah sangat baik menurut saya dan itu insyaallah tidak ada masalah,” ucap Menaker.
Lebih lanjut, Menaker menekankan bahwa pemerintah akan terus memperhatikan perlindungan tenaga kerja di industri tekstil dalam negeri tersebut. Selain itu, Menaker memastikan bahwa hak-hak para pekerja tetap terpenuhi.
“Saya lebih concern terkait ketenagakerjaan untuk memastikan bahwa semua hak-hak dari para pekerja di Sritex itu itu tetap terpenuhi. Mereka tetap tenang dan kemarin saya sudah mengutus Wakil Menteri Ketenagakerjaan untuk ke sana dan insyaallah menggembirakan dan hasilnya baik,” ucap Yassierli.
[Sur/red]












