Prof. Dr. Muhammad Azhar – Dosen FAI-Pascasarjana UMY dan LARI (Lingkar Akademisi Reformis Indonesia)
Tahun 2023 yang lalu, Penulis bersiap menuju Chattanooga University untuk presentasi hasil riset Penulis di LRI UMY (The Relationship between Religion and Democracy in Germany).
Sebelum berangkat, semua berkas sudah penulis siapkan secara optimal. Booking hotel, tiket pesawat, dolar secukupnya selama di Amerika, paspor dan visa. Untuk visa kebetulan penulis mendapat izin masuk Amerika selama 5 tahun (2022-2027).
Semua rencana berjalan lancar, termasuk Penulis sudah menerima LOA (letter of acceptence) dari panitia seminar IF (Indonesia Forum) 2023. Dengan pede, berangkat dari YIA, penulis pun tiba di depan imigrasi Soekarno Hatta.
Teman penulis, Halim Purnomo, lolos di imigrasi. Giliran paspor penulis yang diperiksa, petugas imigrasi menyampaikan bahwa penulis tidak bisa berangkat ke Amerika (perjalanan kedua Penulis) dengan argumen bahwa masa berlaku paspor penulis hanya tersisa berlaku 5 bulan lagi. Padahal sesuai aturan, minimal 6 bulan.
Penulis tentu kaget karena ternyata masih ada yang terlewatkan, yakni masa berlaku paspor.
Penulis lalu beradu argumen dan beralasan bahwa penulis sudah membeli tiket pp transit di Haneda Jepang, juga booking hotel, dll. Petugas imigrasi tetap bersikeras bahwa penulis tetap tidak boleh berangkat, karena khawatir dinilai melanggar aturan, terutama saat tiba di bumi Amerika
Tiba-tiba ada satu petugas imigrasi yang lain bertanya pada penulis: ‘bapak berapa lama di Amerika dan dalam rangka apa?”. Penulis merespon, hanya satu minggu untuk seminar. Lalu petugas tersebut menyampaikan: rapopo pak
Namun petugas pertama bersikeras tetap tidak boleh, khawatir penulis akan dideportasi setibanya di imigrasi Amerika
Penulis merespon, sembari minta maaf karena teledor kurang ngecek masa berlaku paspor. Penulis juga menyampaikan mohon tetap diizinkan untuk berangkat dan penulis siap pulang kembali dan bertanggungjawab jika kelak dideportasi. Akhirnya penulis pun diizinkan.
Setelah menempuh perjalanan panjang menuju bandara Ohio lalu lanjut ke Chattanooga, tiba di imigrasi Amerika, penulis mulai deg-degan, semoga lolos dan tidak dideportasi.
Sebelum melewati konter imigrasi, penulis dapat Ilham, base on psychology and antrophology enteng-entengan, penulis amati dari kejauhan, ternyata ada beberapa pintu penjaga imigrasi. Umumnya petugasnya mazhab white skin. Tapi ada satu konter yang petugasnya beraliran black skin.
Penulis scara sekilas dapat ilham, secara psikologis, mungkin petugas white skin umumnya lebih detail dan rigid. Spontan saja penulis menuju konter yang bermazhab black skin, dengan asumsi mungkin lebih praktis-pragmatis alias tidak njlimet
Ternyata asumsi penulis tidak terlalu salah, setelah dia tanya tentang profesi penulis dan kepentingan selama di Amerika. Sebelum dia mengajukan pertanyaan ketiga, penulis buru-buru menunjuk teman penulis yang sudah lolos, sambil sedikit teriak: “Sir, he is my friend”. “Oh really?.” Penulis jawab: yes (without oke gas). Lalu dengan cepat dia berikan paspor dan visa penulis sambil nyeletuk ke penulis: Yo wis rapopo. Go ahead.Penulis pun langsung nyelonong melewati pintu imigrasi. Alhamdulillah lolos, tiket pesawat dan hotel termanfaatkan dengan baik. Acara international conference juga berjalan lancar.












