STRATEGINEWS.id, BOGOR ‐‐ Wali Kota Bogor, Bima Arya menyampaikan tahun 2045 itu tidak lama lagi. 20 tahun ke depan generasi muda saat ini berada di usia yang sangat produktif dan akan menempati posisi-posisi strategis sebagai pemimpin.
Jika gagal memanfaatkan bonus demografi, maka tidak ada cerita Indonesia Emas 2045 sebagai negara hebat dengan target ekonomi terbesar kelima di dunia
Hal ini ditekankan Bima Arya saat Diskusi Publik : ‘Peluang & Tantangan Bogor Dalam Pembangunan Nasional, Ikhtiar Menuju Indonesia Emas 2045’ yang berlangsung digelar di Auditorium Gedung Perpustakaan dan Arsip atau Diarpus Kota Bogor, Sabtu (6/1/2024).
Menurut dia, saat ini Indonesia ada di simpang jalan fase krusial atau kritis, generasi emas yang di harapkan bisa saja menjadi perak, perunggu atau lainnya.
Jika gagal memanfaatkan bonus demografi, maka hanyalah ilusi tentang Indonesia Emas 2045.
Selain optimisme potensi yang di miliki generasi muda, menurut Bima Arya ada potret lain yang sangat buram dan menyedihkan, yaitu tidak jarang adanya kelompok-kelompok anak muda yang berpikiran pendek, berpikiran sangat pragmatis dan transaksional.
“Kadang bicara materi, kadang kursi dan tidak menggunakan nurani”.
Bima Arya menegaskan faktor Sumber Daya Manusia atau SDM, menjadi hal yang penting dan tidak semudah membangun infrastruktur.
Ada negara yang gagal memanfaatkan bonus demografi, tapi ada juga yang berhasil memanfaatkan namun dengan cepat hilang juga.
“Negara yang berhasil memanfaatkan bonus demografi sangat fokus pada SDM. Saya sangat konsen terhadap SDM”.
Kedua, untuk menuju ke arah tersebut, harus tahu potensi yang di miliki, diferensiasi yang ada maupun hal lainnya agar lebih mendukung.
“Selama 10 tahun ke depan, ikhtiar yang kita lakukan di Kota Bogor adalah memberikan ruang bagi anak-anak muda, diantaranya dengan ekspansi ruang terbuka publik berupa taman, pedestrian, ruang kreatif, sarana olahraga di kecamatan agar anak-anak muda itu sehat, kuat, kreatif, inovatif, tidak berpikiran negatif tapi berpikir positif ke depan sehingga on the track, ”ungkap Bima Arya.
Di sisi lain, banyak anak muda yang diajak serta di libatkan untuk masuk dan bereksperimen dalam berbagai macam inovasi.
Menurut dia dengan terbiasa berkolaborasi dan berinovasi, maka anak muda akan mampu bekerjasama dan akan memetik hasil kolaborasi pada saatnya nanti.
“Jika tidak siap berkolaborasi dan selalu asyik sendiri, tidak saling memberikan energi positif, maka ke depan akan sulit”.
“Jika hanya fokus di kandang sendiri, nantinya sulit untuk bersaing karena kompetitor kalian ke depan tidak hanya datang dari Bogor, tetapi anak muda lain yang bersekolah di seluruh Indonesia hingga dunia yang menguasai dua hingga tiga bahasa asing, ”jelasnya.
Generasi kosmopolitan dinilai Bima Arya sebagai generasi yang ideal. Generasi yang kuat di akar lokal, patriotisme di level nasional dan bisa berselancar di era global dengan kemampuan berbicara bahasa asing, salah satunya adalah bahasa inggris.
“Saya selalu meyakini satu hal bahwa kita harus terhindar dari tiga kegagalan, yaitu gagal belajar dari masa lalu, gagal berharap dengan masa kini dan gagal mengantisipasi masa depan”.
“Orang-orang yang tidak mampu berkolaborasi itu sudah jelas gagal pada ketiganya. Pemenang hari ini adalah orang-orang yang kolaboratif, ” tegas dia
Diakhir Bima Arya mengajak anak muda untuk sadar ke depan akan terdapat jutaan peluang yang hadir beriringan dengan jutaan tantangan yang dihadapi.
Kalau sampai terjebak, maka akan stuck dan tidak kemana-mana. Namun jika bisa membaca tanda-tanda zaman dan mampu menjemputnya, maka akan keluar menjadi pemenang.
Selain Bima Arya, kegiatan yang di inisiasi Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM se-Bogor Raya menghadirkan Rektor UNPAK Bogor, Prof. Didik Noto Sudjono sebagai keynote speaker, Ketua Umum DPP KNPI, Putri Khairunnisa dan lainnya.
[wm]












