Opini  

Kurs Rupiah Masih Hadapi Tekanan Berat

Foto ilustrasi [ist]

Catatan Prof. Dr. Anthony Budiawan ))

Kurs rupiah masih terus menghadapi tekanan berat. BI harus kerja keras menahan kurs rupiah agar tidak tergelincir tembus Rp16.000 per dolar AS. Intervensi BI sejauh ini tidak efektif membuat kurs rupiah menguat secara signifikan, karena cadangan devisa milik pemerintah sangat terbatas. Pemerintah dalam dilema, naikkan harga atau subsidi?

https://x.com/anthonybudiawan/status/1717748945122918909?s=46

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan [Foto polulis.id]
Menteri Keuangan Sri Mulyani di persimpangan jalan, antara membiarkan harga BBM dan Pangan naik, yang akan memicu inflasi dan daya beli masyarakat anjlok, atau menaikkan subsidi yang akan membuat belanja negara non-subsidi tertekan dan memicu kontraksi.

https://x.com/anthonybudiawan/status/1717751493158412312?s=46

https://www.cnbcindonesia.com/news/20231026055611-4-483750/rupiah-anjlok-buat-subsidi-bbm-bengkak-ini-penjelasan-menkeu

Artinya, fiskal dan moneter dalam tekanan serius. Defisit transaksi berjalan meningkat, investor asing menarik diri, capital outflow membuat cadangan devisa turun, kurs rupiah anjlok, suku bunga naik, ekonomi tertekan, harga pangan naik, daya beli masyarakat turun, subsidi meningkat, APBN tertekan, belanja pemerintah kontraksi, dan seterusnya.

Indonesia masuk vicious circle penurunan ekonomi: penurunan satu faktor ekonomi disusul dengan penurunan faktor-faktor ekonomi lainnya.

Nampaknya, vicious circle masih berputar, bertambah keras. Sulit terhindarkan, beberapa pihak akan terjungkal.

*) Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *