Opini  

Demokrasi Religius: Santripreneur

Prof. Dr. Muhammad Azhar, MA.

Prof. Dr. Muhammad Azhar, MA. – Dosen FAI-Pascasarjana UMY dan LARI (Lingkar Akademisi Reformis Indonesia)

Istilah Santripreneur ini baru muncul beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan komunitas madrasah dan pesantren di Indonesia. Istilah ini menyiratkan adanya fenomena kebangkitan kaum Santri dalam menekuni dunia kewirausahaan (entrepreneurship). Pada tahun 2015, untuk pertama kalinya dilaksanakan acara Santripreneur Award (santripreneur.co.id) yakni pemberian penghargaan bagi para santri yang sukses menekuni dunia bisnis.

Walaupun agak terlambat, Santripreneur award ini merupakan hal yang harus diapresiasi oleh semua pihak yang ingin melihat Indonesia sejahtera beberapa dekade mendatang, yakni Indonesia emas di tahun 2045.

Bila dibandingkan dengan China, entrepreneurship di Indonesia terbilang lambat. Sekitar 30 tahun yang lalu, China tergolong negara besar yang kumuh dan miskin.

Tampilnya Xi Jinping sebagai pemimpin bertangan dingin berhasil membangun dan membawa China menjadi negara maju yang disegani dunia. Ratusan juta rakyat China berhasil dientaskan dari kemiskinan. Presiden Xi Jinping sukses membangun mentalitas entrepreneurship bagi jutaan rakyatnya.

Rasio wirausaha rakyat China mendekati perimbangan yang ideal. Tampilnya jutaan lapisan entrepreneurship ini berimplikasi positif bagi pembangunan dan kemajuan peradaban material di China saat ini.

Secara etis aksiologis dan historis, bangsa China dikenal sebagai bangsa yang gigih dan memiliki etos kerja dan jiwa dagang yang tinggi. Etos entrepreneurship ini sudah ditanamkan sejak usia dini dan kini lebih diintensifkan lagi melalui pendidikan formal maupun hidup disiplin dalam keluarga.

Bagaimana dengan Indonesia? Pada tahun 2020, rasio entrepreneur Indonesia 3,47 %, masih di bawah Malaysia dan Thailand yang rasionya sudah mendekati 5%, atau Singapura 8,7%. Standar ideal rasio pengusaha sebuah negara maju idealnya 12%.

Jika dilacak jauh ke belakang, secara faktual historis, nenek moyang bangsa Indonesia sejak dulu dikenal sebagai bangsa pedagang. Ketika itu, penduduk Nusantara umumnya sebagai bangsa pesisir yang hidup berdagang rempah-rempah, pertanian dan perkebunan dengan bangsa Eropa, Afrika serta bangsa Asia lainnya. Era belakangan, karena adanya penjajahan, komunitas Nusantara terdesak menuju daerah pedalaman.

Menurut Nurcholish Majid, fenomena pesantren merupakan fenomena pedalaman dan simbol kekalahan kaum santri, yang awalnya merupakan fenomena pesisir sebagai simbol kewirausahaan.

Secara teologis, menurut beberapa pakar, model akidah (teologi) Asy’ariyah yang jabariyah-determinism juga turut mewarnai etika dan etos sebagian umat yang cenderung memiliki sikap mental pasrah, yakni sabar, ikhlas dan tawakal secara pasif, lebih dominan “manut” pada Tuhan, namun minim ikhtiar. Sebagai ilustrasi, 75 persen bergantung pada Tuhan, hanya 25 persen saja diimbangi dengan sikap ikhtiar.

Mentalitas teologis seperti ini tentu kurang kondusif bagi tumbuhnya jiwa entrepreneurship di kalangan umat atau kaum Santri. Mentalitas dan etos jabariyah-determinism ini cenderung membuat umat atau kaum Santri lebih bersifat KONSUMTIF, kurang PRODUKTIF. Kalkulasi ikhtiar di sini lebih dinilai berdasarkan emosional dan personal approach, tinimbang pertimbangan dan kalkulasi yang rasional.

Perspektif teologis seperti ini yang masih banyak mewarnai mayoritas umat di negeri yang kaya SDA dan SDM ini. Implikasinya adalah bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini masih menjadi bangsa yang konsumtif, belum begitu produktif. Ikhtiar membangun kesejahteraan dan peradaban Indonesia yang base on rational calculation masih butuh waktu yang panjang. Bukankah pembangunan suatu peradaban butuh keahlian dalam hitungan numerik dan digitalitas yang detail?

Beberapa Langkah Ke Depan

Demi terwujudnya komunitas Santripreneur Indonesia di masa yang akan datang, beberapa upaya akseleratif berikut ini perlu dilakukan:

Pertama, komunitas keluarga Indonesia melakukan pendidikan kedisiplinan sejak dini. Anak-anak Indonesia mulai dilatih berpikir dan bertindak targeting, tidak lagi terbiasa hidup seadanya dan apa adanya. Setiap anak Indonesia telah memiliki rencana hidup yang matang, baik secara jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Pola pikir forecasting sudah saatnya menjadi tradisi keluarga Indonesia.

Kedua kurikulum yang bermuatan entrepreneurship harus mewarnai semua mata pelajaran dan mata kuliah anak-anak Indonesia, termasuk kurikulum pesantren dan madrasah.

Ketiga, secara spesifik, materi teologi jabariyah-determinism yang menjadi modal kedekatan dengan Tuhan harus diimbangi dan diperkaya dengan wawasan teologis Qadariyah-Indeterminism yang dapat menopang tumbuh kembangnya etos entrepreneurship. Wawasan Qadariyah-Indeterminism ini secara akseleratif dan masif ditulis dalam berbagai buku teks pelajaran dan perkuliahan maupun dalam materi ceramah, pengajian serta forum keagamaan lainnya.

Keempat, berbagai ormas keagamaan muslim maupun non muslim, LSM dan komunitas sosial lainnya menerbitkan berbagai panduan entrepreneurship bagi komunitas masing-masing dan melakukan sinergitas akselerasi program entrepreneurship dengan Pemda setempat. Dana desa juga sangat potensial dan strategis untuk pengembangan entrepreneurship bagi kaum milenial.

Kelima, selain membenahi sistem pendidikan dan pola hidup keluarga, anak didik Indonesia harus dicegah dari gaya hidup instan, belajar melewati berbagi proses hidup yang penuh tantangan, menjauhkan diri dari sikap ambisi berlebihan dan harus fokus pada inovasi.

Keenam, anak Indonesia sejak kecil diajarkan cara pengelolaan uang yang baik, berpikir jauh ke depan, pertukaran uang lebih penting dari sekedar mencari untung besar, menghindari hutang, negosiasi untuk mendapatkan harga terbaik dan memberikan yang terbaik untuk guru, orangtua dan keluarga.

Ketujuh, para santri Indonesia bisa mengikuti jejak muslim yang sukses dalam berwirausaha seperti: Jokowi, Jusuf Kalla, Chairul Tanjung, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Nadiem Makarim, Prabowo, Sandiaga Uno, M. Najih (alm), Dahlan Iskan, Sri Mulyani, Sri Sultan (DIY), Gibran RR, Erlangga Hartarto, Ahmad Sahroni, dll. Secara organiatoris, milenialis santri Indonesia juga bisa belajar bagaimana Muhammadiyah mengelola asetnya sekitar 400 Triliun dan menjadi ormas Islam terkaya di dunia.

Wallahu a’lam bisshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *