STRATEGINEWS.Id, Jakarta – Pemilu 2024 untuk mencari figur pemimpin nasional, tidak lama lagi akan digelar. Jelang pesta demokrasi, suhu politik kian memanas, kita sebagai rakyat pun mesti bersiap-siap untuk menghadapi liarnya narasi yang akan beredar luas selama pergelaran pesta politik ini. Kita mewajarkan sengitnya sebuah kompetisi, tapi tidak menerima isu politik yang mengakibatkan pecah belah.
Salah satu isu politik yang dijadikan bahan demi mendomplang suara masyarakat adalah isu tentang agama. Agama yang suci dan harusnya meneduhkan, menjadi ladang kotor demi memenuhi hasrat politik praktis semata. Masjid yang asalnya menjadi tempat menerima wasiat ketaqwaan, berubah menjadi lahan mendongkrak emosi untuk menjatuhkan lawan politik.
Mensikapi fenomena politik yang cenderung memanas akhir-akhir ini, Ketua Umum Pro GP, Dr. Suriyanto PD, SH, MH, M.Kn mengatakan, memilih dan menentukan siapa yang layak memimpin negeri ini selama 5 tahun ke depan merupakan kewajiban sebagai warga negara Indonesia. Namun, jangan pernah lupakan bahwa kita adalah masyarakat beradab dan menghormati satu sama lain.
“ Perbedaan pilihan politik merupakan hal wajar dan tak perlu menjadi penyebab bercerai-berai. Tak perlu saling senggol dan menjatuhkan. Indonesia akan tetap berdiri selama masyarakatnya beradab dan saling menghormati satu sama lain. Para tokoh yang merasa memiliki kontribusi untuk bangsa ini, seharusnya ikut menjaga bagaimana pemilu bisa berjalan dengan sejuk, aman, damai dan bermartabat. Jangan malah menjadi provokator dengan statement di media sosial maupun WAG yang memanaskan situasi,” kata Suriyanto kepada strateginews.id, Jumat [23/6/2023]
Suriyanto menambahkan, salah satu hal yang membuat tajam perbedaan politik di negeri ini adalah tersebarnya berita hoaks.
“ Bayangkan, di masa politik yang begitu sengit, lalu disusupi berita hoaks yang memperkeruh suasana, tak heran jika masyarakat akan semakin mudah tersulut api dari berita hoaks yang mereka terima dari media tak bertanggung jawab,” tuturnya.
Suriyanto mengungkapkan, salah satu faktor yang akan membuat suasana pemilu lebih damai adalah kematangan dalam menghargai perbedaan. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia perlu memiliki rasa saling menghormati atas perbedaan.
“ Kita perlu sadar, bahwa perbedaan merupakan anugerah Tuhan yang perlu dipelihara. Masalahnya, di masa kampanye, perbedaan dan keanekaragaman sering dijadikan bahan politik untuk menyerang lawan politiknya,” ujarnya.
“ Menjelang pesta pemilu 2024, sudah selayaknya kita mempertahankan kedamaian yang selama ini kita idamkan. Pemilu 2024 bukan alasan perpecahan, tapi sebagai wujud kebersamaan. Nilai-nilai toleransi dan saling menghargai harus tetap dijunjung oleh seluruh anak bangsa. Mari sama-sama ciptakan pemilu yang bersih dan damai. Tidak ada lagi perpecahan di tengah masyarakat, siapa pun pemenangnya, ia adalah pemimpin Indonesia selama 5 tahun ke depan,” pungkasnya.
[jgd/red]












