STRATEGINEWS.id, Medan — Surono (50), yang telah aktif menanam pohon alpukat sejak 2003 ini, membagikan faktor-faktor apa saja yang memengaruhi kesuburan pohon alpukat. Pria asal Gunungkidul, Yogyakarta, ini menyebutkan, setidaknya ada 7 faktor utama yang perlu diperhatikan bagi penanam pohon alpukat.
“Faktor utama yang memengaruhi kesuburan alpukat adalah kualitas bibit, kondisi tanah, air, sinar matahari, dan kecukupan unsur hara. Selain itu, pengendalian hama dan pemangkasan juga sangat menentukan produktivitas,” ungkap Surono saat dihubungi pers melalui pesan teks, belum lama ini.
1.Kualitas Bibit
Kualitas bibit menjadi fondasi utama dalam menentukan kesuburan dan produktivitas pohon alpukat.
Menurut Surono, bibit yang berasal dari hasil okulasi atau sambung pucuk cenderung lebih cepat berbuah dibandingkan bibit dari biji. Hal ini karena bibit vegetatif sudah “mewarisi” sifat unggul dari induknya, seperti produktivitas tinggi dan rasa buah yang lebih baik. Sebaliknya, bibit dari biji seringkali membutuhkan waktu lebih lama untuk berbuah dan belum tentu menghasilkan buah dengan kualitas sama.
Selain itu, kondisi fisik bibit juga sangat penting untuk diperhatikan. Bibit yang sehat biasanya memiliki batang kokoh, daun hijau segar, dan bebas dari hama maupun penyakit. Bibit yang terlihat layu, batangnya lemah, atau memiliki bercak pada daun berpotensi mengalami gangguan pertumbuhan di kemudian hari. Oleh karena itu, pemilihan bibit tidak boleh dilakukan secara sembarangan jika ingin mendapatkan hasil maksimal.
Pemilihan varietas juga berperan besar dalam menentukan keberhasilan budidaya. Ada beberapa jenis alpukat yang lebih cocok untuk dataran rendah, sementara yang lain lebih optimal di dataran tinggi. Dengan memilih varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan, pohon alpukat akan lebih mudah beradaptasi dan tumbuh dengan subur.
2.Kondisi Tanah
Kondisi tanah merupakan faktor penting yang sangat memengaruhi pertumbuhan akar dan penyerapan nutrisi.
Surono menekankan, tanah yang ideal untuk alpukat adalah tanah yang gembur, subur, dan memiliki drainase yang baik. Tanah yang terlalu padat akan menghambat perkembangan akar sehingga tanaman sulit menyerap air dan unsur hara secara optimal.
Selain struktur tanah, tingkat keasaman (pH) juga perlu diperhatikan. Pohon alpukat umumnya tumbuh optimal pada pH tanah antara 5,5 hingga 6,5. Jika tanah terlalu asam atau terlalu basa, maka penyerapan nutrisi akan terganggu. Dalam kondisi tertentu, petani dapat menambahkan kapur dolomit untuk menetralkan tanah yang terlalu asam.
Kandungan bahan organik dalam tanah juga berperan besar dalam menjaga kesuburan. Penambahan kompos atau pupuk kandang secara rutin dapat meningkatkan kualitas tanah sekaligus menyediakan nutrisi alami bagi tanaman. Tanah yang kaya bahan organik juga mampu menahan air dengan baik tanpa menyebabkan genangan.
3.Ketersediaan Air
Air adalah elemen penting dalam proses pertumbuhan tanaman alpukat.
Menurut Surono, kekurangan air dapat menyebabkan tanaman layu, daun rontok, bahkan gagal berbuah. Sebaliknya, kelebihan air juga tidak baik karena dapat menyebabkan akar membusuk dan memicu penyakit.
Penyiraman sebaiknya dilakukan secara teratur, terutama pada musim kemarau. Namun, frekuensi penyiraman harus disesuaikan dengan kondisi tanah dan cuaca. Tanah yang sudah cukup lembap tidak perlu disiram terlalu sering karena kelembapan berlebih justru dapat merusak sistem perakaran.
Sistem drainase yang baik juga menjadi kunci dalam pengelolaan air. Air yang menggenang di sekitar akar dapat menghambat pertumbuhan dan menyebabkan stres pada tanaman. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa lahan tanam memiliki saluran pembuangan air yang memadai.
4.Sinar Matahari
Sinar matahari berperan penting dalam proses fotosintesis yang menentukan pertumbuhan dan produktivitas tanaman alpukat.
Surono menjelaskan, pohon alpukat membutuhkan paparan sinar matahari penuh setidaknya 6–8 jam per hari agar dapat tumbuh optimal.
Jika tanaman kekurangan sinar matahari, pertumbuhannya akan terhambat, daun menjadi pucat, dan proses pembungaan tidak maksimal. Hal ini tentu berdampak langsung pada jumlah buah yang dihasilkan. Oleh karena itu, lokasi penanaman harus dipilih dengan mempertimbangkan intensitas cahaya yang cukup.
Selain itu, penataan jarak tanam juga perlu diperhatikan agar tidak terjadi saling menaungi antar pohon. Dengan pencahayaan yang merata, setiap bagian tanaman dapat melakukan fotosintesis secara optimal sehingga pertumbuhan menjadi lebih seimbang.
5.Kecukupan Unsur Hara
Unsur hara merupakan “makanan” utama bagi tanaman alpukat.
Surono menyebutkan, unsur seperti nitrogen, fosfor, dan kalium sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan vegetatif dan generatif. Kekurangan salah satu unsur ini dapat menyebabkan pertumbuhan tidak optimal.
Pemberian pupuk harus dilakukan secara seimbang dan sesuai kebutuhan tanaman. Pada fase pertumbuhan awal, tanaman membutuhkan lebih banyak nitrogen untuk merangsang pertumbuhan daun dan batang. Sementara itu, pada fase pembungaan dan pembuahan, kebutuhan fosfor dan kalium menjadi lebih dominan.
Selain pupuk kimia, penggunaan pupuk organik juga sangat dianjurkan. Pupuk organik tidak hanya menyediakan nutrisi tapi juga memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanaman.
6.Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit merupakan ancaman serius bagi kesuburan pohon alpukat.
Surono menegaskan, serangan hama seperti ulat, kutu, atau jamur dapat merusak daun, batang, hingga buah. Jika tidak ditangani dengan cepat, dapat menurunkan produktivitas secara signifikan.
Pengendalian hama sebaiknya dilakukan secara preventif dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar tanaman. Daun yang gugur atau bagian tanaman yang sakit sebaiknya segera dibersihkan agar tidak menjadi sumber penyebaran penyakit.
Penggunaan pestisida alami juga bisa menjadi solusi yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, semprotan dari bahan alami seperti bawang putih atau daun mimba dapat bantu mengurangi serangan hama tanpa merusak ekosistem sekitar.
7.Pemangkasan
Pemangkasan adalah teknik penting untuk menjaga bentuk dan kesehatan pohon alpukat.
Menurut Surono, pemangkasan yang tepat dapat merangsang pertumbuhan cabang baru yang lebih produktif dan meningkatkan sirkulasi udara di dalam tajuk tanaman.
Cabang yang kering, sakit, atau tumbuh tidak teratur sebaiknya dipangkas secara rutin. Hal ini bertujuan agar nutrisi yang tersedia dapat difokuskan pada bagian tanaman yang sehat dan produktif. Selain itu, pemangkasan juga bantu mengurangi risiko serangan hama dan penyakit.
Pemangkasan juga berperan dalam mengatur tinggi dan bentuk pohon agar lebih mudah dirawat dan dipanen. Dengan teknik pemangkasan yang benar, pohon alpukat tidak hanya tumbuh lebih rapi tapi juga mampu menghasilkan buah yang lebih banyak dan berkualitas, seperti dikutip dari liputan6.com, Senin (22/6/2026) pagi.
(KTS/rel)
Sumber: liputan6.com












