Oleh Busri Toha*
Ada orang yang masih rajin pergi ke masjid, tetapi hatinya terasa jauh dari sajadah. Ada yang lisannya fasih mengucap ayat-ayat Tuhan, tetapi hidupnya tak pernah disentuh getaran firman itu sendiri. Ada pula yang begitu ringan membicarakan agama, namun berat sekali meminta maaf kepada sesama manusia. Mungkin bukan tubuhnya yang sakit, melainkan hatinya yang mulai mengeras.
Hati yang keras tidak datang tiba-tiba. Ia seperti batu yang setiap hari disiram dosa kecil, lalu mengering perlahan karena lupa disirami taubat. Mula-mula ia hanya enggan mendengar nasihat. Ketika ayat Al-Qur’an dibacakan, ia merasa biasa saja. Ketika diingatkan tentang kematian, kubur, dan akhirat, ia malah sibuk memikirkan urusan dunia yang tidak pernah selesai. Lama-kelamaan, ia kehilangan kemampuan paling manusiawi: tersentuh.
Padahal, bukti hidupnya hati bukan banyaknya kata-kata, melainkan kemampuannya bergetar. Hati yang hidup mudah luluh oleh kebaikan, mudah malu ketika berbuat salah, dan mudah menangis ketika merasa jauh dari Allah. Tetapi hati yang keras justru merasa aman dalam dosa. Ia mengulang kesalahan tanpa rasa bersalah. Maksiat menjadi kebiasaan, lalu kebiasaan berubah menjadi pembenaran.
Yang lebih mengkhawatirkan, hati yang keras sering kali bersembunyi di balik kesalehan lahiriah. Orang semacam ini merasa dirinya paling benar. Nasihat dianggap serangan. Kritik dianggap penghinaan. Ia sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi buta terhadap cacat dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, agama bukan lagi jalan menuju kerendahan hati, melainkan alat untuk meninggikan diri.
Di situlah kita memahami mengapa sebagian manusia bisa begitu mudah menyakiti sesamanya. Lidahnya tajam, amarahnya murah, dendamnya panjang, dan tangannya berat memberi. Sebab kasih sayang hanya tumbuh pada hati yang lembut. Ketika hati mengeras, belas kasihan perlahan menghilang. Orang lain tak lagi dipandang sebagai saudara, melainkan ancaman atau lawan.
Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Air mata tidak akan kering kecuali bagi orang yang keras hati, dan hati tidak akan mengeras kecuali bagi orang yang banyak dosa.” Kalimat ini terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam. Air mata bukan sekadar tanda kesedihan. Kadang ia adalah tanda bahwa nurani masih hidup. Bahwa di dalam dada itu masih ada ruang untuk takut kepada Tuhan dan iba kepada manusia.
Karena itu, mungkin yang paling perlu kita khawatirkan bukanlah ketika hidup sedang susah, melainkan ketika hati sudah tidak mampu lagi merasa bersalah. Bukan ketika rezeki sempit, melainkan ketika nasihat tak lagi masuk ke dalam dada. Sebab orang miskin masih bisa bahagia, orang sakit masih bisa tersenyum, tetapi hati yang keras membuat manusia kehilangan cahaya kemanusiaannya sendiri.
Dan barangkali, jalan pulang itu selalu dimulai dari hal-hal kecil: mengurangi kesombongan, memperbanyak diam dari sia-sia, belajar meminta maaf, serta membiasakan diri menangis dalam doa-doa yang sunyi. Sebab hati bukan batu. Ia bisa dilembutkan kembali, selama manusia masih mau mengetuk pintu Tuhan dengan penyesalan dan kerendahan hati. (*)
*Busri Toha, wartawan StrategiNews












