Oleh: Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta
Mengapa pemerintah sampai harus turun langsung ke pasar obligasi ketika rupiah menembus Rp17.500 per dolar AS?
Pertanyaan ini penting karena pelemahan rupiah hari ini bukan lagi sekadar volatilitas biasa dalam mekanisme floating exchange rate.
Ini adalah sinyal meningkatnya market anxiety terhadap ketahanan ekonomi nasional.
Ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah siap masuk ke bond market untuk menjaga yield Surat Berharga Negara, pemerintah sesungguhnya sedang berusaha menahan tekanan psikologis pasar agar tidak berubah menjadi kepanikan finansial.
Dalam ekonomi global, kurs mata uang adalah thermometer of confidence.
Ketika rupiah jatuh terlalu dalam, pasar sedang mengirim pesan bahwa tingkat kepercayaan terhadap arah ekonomi Indonesia mulai melemah.
Kondisi ini terjadi di tengah perfect storm global. Federal Reserve masih mempertahankan suku bunga tinggi melalui kebijakan higher for longer sehingga dolar AS tetap kuat.
Yield US Treasury yang tinggi mendorong capital outflow dari emerging markets, termasuk Indonesia.
Ketegangan geopolitik global juga memperparah situasi. Konflik Timur Tengah, perang Rusia Ukraina, dan gangguan rantai pasok global membuat investor memilih strategi flight to quality dengan memindahkan dana ke aset safe haven berbasis dolar AS.
Namun tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari luar negeri.
Pasar mulai melihat adanya tekanan domestik yang serius. Rupiah Rp17.500 sudah jauh di atas asumsi APBN yang berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS.
Ketika kurs bergerak terlalu jauh dari asumsi fiskal, risiko anggaran meningkat. Subsidi energi berpotensi membengkak, biaya impor naik, dan imported inflation menjadi lebih sulit dikendalikan.
Indonesia masih memiliki struktur ekonomi yang heavily import dependent, terutama untuk energi, bahan baku industri, dan barang modal.
Akibatnya, setiap pelemahan rupiah langsung meningkatkan biaya produksi nasional. Dunia usaha menghadapi cost push inflation, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Dalam situasi ini, pemerintah mencoba melakukan yield management melalui intervensi pasar obligasi.
Tujuannya adalah menjaga agar imbal hasil Surat Berharga Negara tidak melonjak terlalu tinggi akibat aksi jual investor asing.
Ketika harga obligasi jatuh dan yield naik tajam, biaya utang pemerintah ikut meningkat dan persepsi risiko terhadap Indonesia membesar.
Langkah pemerintah membeli obligasi di pasar sekunder ibarat menopang pondasi rumah yang mulai retak agar tidak runtuh.
Secara jangka pendek, langkah ini dapat menciptakan liquidity backstop dan membantu menenangkan pasar. Investor setidaknya melihat bahwa negara tidak tinggal diam menghadapi tekanan rupiah.
Tetapi persoalannya, intervensi pasar hanya menyentuh gejala, bukan akar masalah.
Pelemahan rupiah hari ini mencerminkan tantangan struktural ekonomi Indonesia. Ketergantungan terhadap impor energi masih tinggi, industrialisasi belum cukup kuat, dan ekonomi masih sensitif terhadap arus modal asing jangka pendek.
Pada saat yang sama, kebutuhan pembiayaan negara terus meningkat untuk subsidi, proyek strategis nasional, dan pembayaran utang.
Data menunjukkan utang luar negeri Indonesia telah melampaui 430 miliar dolar AS.
Dalam kondisi rupiah melemah dan suku bunga global tinggi, debt servicing cost menjadi semakin berat.
Pasar global sangat sensitif terhadap kombinasi tekanan fiskal dan eksternal seperti ini.
Masalah lainnya adalah soal policy credibility. Investor tidak hanya melihat angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga konsistensi kebijakan pemerintah.
Ketika regulasi sering berubah dan kebijakan terlihat reaktif, kepercayaan pasar mudah terganggu.
Dalam dunia keuangan modern, uncertainty sering kali lebih berbahaya dibanding perlambatan ekonomi itu sendiri.
Ekonomi Indonesia saat ini ibarat kapal besar di tengah badai global.
Intervensi pasar obligasi mungkin dapat meredam guncangan sementara, tetapi kapal hanya akan selamat jika mesin ekonominya benar benar kuat.
Ini Artinya, pemerintah perlu melampaui kebijakan jangka pendek dan fokus pada reformasi struktural.
Indonesia membutuhkan penguatan domestic economic resilience melalui hilirisasi industri yang nyata, pengurangan ketergantungan impor energi, perluasan basis ekspor bernilai tambah, serta pendalaman pasar keuangan domestik agar tidak terlalu bergantung pada hot money asing.
Yang paling penting adalah membangun kembali long term confidence. Pasar ingin melihat bahwa pemerintah memiliki grand strategy ekonomi, bukan sekadar tactical intervention harian untuk memadamkan api.
Rupiah Rp17.500 bukan hanya persoalan nilai tukar. Ia adalah ujian terhadap kredibilitas ekonomi Indonesia.
Jika pemerintah mampu menjaga konsistensi kebijakan dan memperkuat fundamental ekonomi, tekanan ini bisa menjadi momentum reformasi besar.
Namun jika hanya fokus pada stabilisasi jangka pendek, pasar akan terus menguji ketahanan ekonomi Indonesia dengan tekanan yang lebih besar di masa depan.
Karena pada akhirnya, mata uang yang kuat tidak lahir hanya dari intervensi pasar atau cadangan devisa.
Mata uang yang kuat lahir dari kepercayaan terhadap masa depan ekonomi sebuah bangsa.
END












