Adaptive VS Maladaptive Interoception

Syahril Syam,

Oleh: Syahril Syam *)

Interoception pada dasarnya adalah kemampuan kita untuk merasakan apa yang terjadi di dalam tubuh – misalnya detak jantung, napas, rasa lapar, tegang, atau nyaman. Namun menurut Garfinkel dan Critchley (2013), interoception bukan hanya soal “merasakan” sinyal tubuh, tetapi juga bagaimana otak bekerja mengolah sinyal-sinyal itu.

Otak pertama-tama menerima sinyal dari dalam tubuh (seperti detak jantung yang meningkat saat cemas), lalu menyadari bahwa sinyal tersebut muncul, kemudian mengolahnya menjadi suatu perasaan (misalnya menjadi rasa cemas, gugup, atau waspada). Setelah itu, otak menggunakan informasi tubuh ini untuk membantu kita mengatur emosi dan tindakan – misalnya menenangkan diri, mengambil keputusan, atau menyesuaikan perilaku agar lebih adaptif.

Interoceptive Awareness adalah kemampuan untuk menyadari apa yang sedang kita rasakan di dalam tubuh, sekaligus menilai apakah perasaan itu memang akurat atau hanya hasil interpretasi pikiran. Ini seperti “meta-awareness” – kesadaran tingkat kedua – yang membantu kita membedakan mana sinyal tubuh yang nyata dan mana yang hanya dipicu kekhawatiran atau asumsi. Misalnya, ketika jantung berdebar karena gugup, kita bisa menyadari bahwa tubuh sedang bereaksi, bukan karena ada bahaya nyata.

Di titik ini, kita bukan hanya merasakan, tetapi mengetahui bahwa kita sedang merasakan. Kesadaran seperti ini membuat kita tidak dikuasai oleh sensasi tubuh, tetapi bisa mengamatinya dari jarak yang aman dan lebih objektif.

Interoception juga merupakan fondasi dari emosi. Dalam pandangan ilmiah, perasaan emosional tidak muncul begitu saja; ia lahir dari cara otak membaca dan menafsirkan sinyal tubuh. Ketika jantung berdebar lebih cepat, otak bisa menafsirkannya sebagai rasa cemas. Ketika napas terasa lega dan longgar, otak memahami kondisi tubuh sebagai aman dan nyaman. Dengan kata lain, emosi yang kita rasakan sehari-hari adalah hasil dari “terjemahan” otak terhadap apa yang tengah terjadi secara fisiologis di dalam tubuh.

Kemampuan interoception ini sangat berpengaruh pada regulasi emosi. Orang yang memiliki interoception yang baik cenderung lebih cepat kembali tenang setelah mengalami stres, lebih mudah mengelola emosinya, serta tidak mudah panik ketika tubuh memberi sinyal yang tidak nyaman.

Penelitian neuroimaging menunjukkan bahwa hal ini berkaitan dengan cara bagian otak bernama insula bekerja – semakin baik insula memproses sinyal tubuh, semakin stabil kemampuan seseorang dalam mengatur emosinya. Dengan kata lain, semakin kita peka terhadap sinyal tubuh secara sehat, semakin baik pula otak kita menata perasaan dan respons terhadap situasi yang menekan.

Menyadari apa yang terjadi di dalam tubuh memang penting, tetapi tidak selalu membuat kita tenang. Pada sebagian orang, menyadari sensasi tubuh bisa menenangkan, sementara pada yang lain justru membuat cemas atau panik. Karena itu, interoception bukan berarti “selalu bagus”. Yang membuat interoception bermanfaat adalah konteksnya – bagaimana kita menafsirkan sinyal tubuh dan apa makna yang diberikan otak terhadap sensasi itu. Jadi, menyadari tubuh bisa menjadi proses yang menyembuhkan, atau sebaliknya justru menimbulkan kekhawatiran, tergantung cara kita mengalaminya.

Secara ilmiah, ketika kita merasakan sebuah sensasi tubuh, otak memproses sinyal itu di insula, lalu bagian otak lain seperti prefrontal cortex memberikan makna dan interpretasi. Bila otak menilai bahwa sensasi tersebut aman, tubuh akan menjadi lebih tenang. Namun bila otak menafsirkannya sebagai ancaman, respon yang muncul bisa berupa rasa takut atau panik. Artinya, yang menentukan reaksi emosional bukanlah sensasi tubuh itu sendiri, tetapi cara otak menginterpretasikan sinyal tersebut.

Bentuk interoception yang sehat disebut Adaptive Body Awareness atau Adaptive Interoception. Ini adalah cara menyadari tubuh dengan rasa aman, lembut, dan tanpa ancaman. Ciri-cirinya meliputi kemampuan memperhatikan sensasi dengan rasa penasaran, tidak langsung menghakimi, dan membiarkan sensasi hadir sebagai informasi yang netral. Biasanya napas menjadi lebih lambat, detak jantung stabil, tubuh terasa lebih “grounded”, dan emosi ikut menenangkan. Misalnya, ketika dada terasa sesak, seseorang yang memiliki cara menyadari tubuh yang adaptif akan berkata, “Oh, mungkin aku sedang capek. Aku coba tarik napas dulu.” Reaksi seperti ini membuat tubuh tenang, emosi stabil, dan keputusan yang diambil menjadi lebih jernih.

Sebaliknya, ada orang yang mengalami apa yang disebut Threat-oriented Body Awareness atau Maladaptive Interoception. Ini terjadi ketika sensasi tubuh dipandang sebagai ancaman, sehingga pikiran langsung mengarah ke hal-hal buruk.

Orang menjadi terlalu fokus pada detak jantung, napas, atau ketegangan otot, lalu muncul pikiran seperti “Ini bahaya!” atau “Aku mau pingsan!” Reaksi ini membuat tubuh masuk ke mode fight/flight atau freeze, kecemasan meningkat, dan tubuh makin tegang. Akhirnya, sensasi yang awalnya netral menjadi menakutkan, memicu lingkaran stres yang terus berulang.

Dengan demikian, kualitas interoception bukan ditentukan oleh kuat-lemahnya sensasi tubuh, tetapi oleh cara kita menyadarinya dan makna yang diberikan otak terhadap sensasi tersebut. Tubuh bisa memberikan sinyal yang sama – seperti jantung berdebar atau napas pendek – namun hasil akhirnya sangat berbeda tergantung interpretasinya. Jika maknanya aman, tubuh menjadi tenang dan kita lebih mudah berpikir jernih. Jika maknanya ancaman, tubuh bereaksi seolah sedang dalam bahaya, meskipun tidak ada ancaman nyata di luar diri.

Karena itu, interoception yang sehat bukan sekadar “merasakan tubuh”, tetapi membangun hubungan yang lebih bijaksana dengan sensasi tubuh, sehingga tubuh menjadi sumber informasi, bukan sumber ketakutan. Ketika kesadaran tubuh diarahkan dengan cara yang adaptif, tubuh mendukung ketenangan mental; tetapi jika diarahkan dengan rasa takut, tubuh justru memperkuat kecemasan. Dengan memahami hal ini, kita bisa mulai melatih diri untuk membaca sinyal tubuh dengan cara yang lebih ramah, lebih lembut, dan lebih membantu keseimbangan emosi kita sehari-hari.

@pakarpemberdayaandiri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *