Opini  

Refleksi Hari Pahlawan

Menghidupkan Nilai, Bukan Sekadar Menghafal Nama

Mulyadi, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep

Oleh Mulyadi*

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.”

Kalimat yang sering kita dengar ini terasa begitu akrab setiap 10 November. Di sekolah-sekolah, kita mengingat kembali nama-nama pahlawan beserta kisah keberaniannya. Kita hafal betul siapa mereka, di mana mereka berjuang, dan apa yang mereka korbankan. Namun ada pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama apakah nilai kepahlawanan itu benar-benar hadir dalam kehidupan pendidikan sehari-hari, atau hanya berhenti sebagai cerita dan upacara tahunan?

Peringatan Hari Pahlawan kerap berjalan dalam bentuk seremonial: pengibaran bendera, pembacaan pidato, dan penggunaan atribut peringatan. Semua itu tentu memiliki tempatnya. Namun pendidikan tidak boleh berhenti pada simbol dan hafalan. Yang lebih penting adalah bagaimana peserta didik menyerap, memahami, dan mempraktikkan nilai yang menjadikan seseorang layak disebut pahlawan.

Nilai-nilai itu sebenarnya sangat dekat dengan keseharian. Integritas, misalnya, bukan hanya keberanian seorang pejuang dalam pertempuran. Ia hadir ketika guru mengajar dengan tulus, ketika siswa mengerjakan tugas tanpa menyontek, dan ketika sekolah menjalankan program dengan jujur tanpa berpura-pura.

Pengorbanan tidak harus berarti mengangkat senjata. Ia tampak pada pendidik yang terus mengajar meski fasilitas terbatas, pada orang tua yang tetap mendampingi proses belajar anak meski situasi tak selalu mudah.

Sementara keberanian dalam pendidikan bisa berupa guru yang mencoba metode pembelajaran baru, siswa yang berani mengajukan pertanyaan, hingga kepala sekolah yang mengambil keputusan penting demi kemajuan bersama.

Ki Hadjar Dewantara mengingatkan, “Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat.” Artinya, nilai kepahlawanan tumbuh bukan dari hafalan semata, tetapi dari pengalaman belajar yang menyentuh karakter dan kemanusiaan.

Sutan Takdir Alisjahbana juga menegaskan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan generasi mudanya. Maka menghadirkan nilai kepahlawanan dalam pendidikan bukan hanya tugas moral, tetapi bagian dari membangun arah peradaban bangsa.

Nilai itu dapat tumbuh melalui kegiatan-kegiatan sederhana diskusi kelas tentang tokoh lokal, kegiatan literasi yang mengajak merenung, atau kebiasaan menjaga kebersihan sekolah. Tidak perlu menunggu program besar yang penting adalah konsistensi. Nilai lahir dari kebiasaan, bukan dari peringatan sekali setahun.

Pada akhirnya, siapa “pahlawan” pendidikan hari ini? Bukan hanya mereka yang berbicara lantang atau memimpin banyak program. Pahlawan pendidikan adalah mereka yang setia hadir, terus belajar, dan mau berproses. Guru yang tidak berhenti memperbarui diri. Siswa yang tetap berusaha meski hasil belum sempurna. Orang tua yang dengan sabar mendampingi perjalanan belajar anak.

Hari Pahlawan bukan sekadar pengingat masa lalu, tetapi ajakan untuk menyalakan kembali nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan nyata. Karena pahlawan bukan hanya nama yang kita hafal—melainkan nilai yang kita hidupkan setiap hari. (*)

  • Penulis adalah Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep (DPKS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *