STRATEGINEWS.id, Jakarta – Mantan presiden Republik Indonesia Joko Widodo alias Jokowi, kini ditunjuk sebagai anggota Dewan Penasihat Global Bloomberg New Economy.
Penunjukan Jokowi diumumkan lewat laman resmi Bloomberg, yang menyebut bahwa dewan tersebut dibentuk pada April 2025 untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Direktur Politic and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie mempertanyakan masuknya Presiden ke-7 RI Joko Widodo menjadi Dewan Penasihat Bloomberg.
“Ada hal yang tak masuk akal hingga Jokowi menjadi penasehat di Bloomberg. Saya kira mereka no competence memilih orang. Apalagi bahasa Inggris Jokowi paling lalod dan amburadul,” kata Jerry, Rabu (24/9/2025).
Jerry pun mengungkit beberapa peristiwa yang mempertontonkan skill berbahasa Inggris dari Jokowi, yang menuai kritik dari para netizen.
“Berapa kali tampil beliau berpidato berbahasa Inggris justru ditertawakan pemimpin dunia lantaran grammarnya kacau balau. Selama 10 tahun pun, Jokowi tak penah hadir di Sidang DK PBB apalagi berpidato. Berbeda dengan Prabowo belum 1 tahun tapi sudah dipercayakan berpidato selama 5 menit di urutan ke-3 tokoh-tokoh dunia setelah Presiden Brazil, Bolzonaro, Presiden AS Donald Trump,” ungkapnya.
Jerry menduga ada “permainan belakang” dari penunjukan Jokowi oleh Bloomberg ini. Alasannya adalah Jokowi bukan lah sosok ahli dan kompeten di bidang ekonomi.
“Selama dia memimpin, ekonomi Indonesia tak pernah menyentuh angka 6 persen. Kedua posisi ini bisa menutupi dugaan ijazah palsu yang sudah berapa bulan menjadi trending topic. Jangan-jangan dia sengaja diposisikan sebagai penasehat di Bloomberg untuk menjauhi dan menghilang dari kasus ijasahnya,” ungkapnya lagi.
Ia pun menduga, hal ini dilakukan untuk menbersihkan namanya, lantaran media-media internasional sudah menyoroti dugaan ijazah palsunya. Bahkan, kabarnya dilaporkan Prof Eggy Sudjana di Kantor Transparancy Internasional London Inggris.
“Keempat, diduga keras untuk memperkuat posisinya untuk Gibran 2029. Pada intinya Jokowi ini manusia paling ambisius di dunia. Walau sudah pensiun tetap saja dia melakukan manuver dan cawe-cawe politik atau tak ada waktu istirahat,” kata Jerry lebih lanjut.
Ia pun mengungkit isu lama, yang menyebut Jokowi akan menjadi Sekjen PBB. “Tapi kan hanya berita sampah. Saya bingung dan mulai ragu dengan kredibilitas lembaga ini. Bisa berubah jadi lembaga abal-abal menempatkan orang gagal di Indonesia,” pungkasnya.
[sam/red]












