Tujuh bulan tanpa honor. Itulah kenyataan pahit yang harus ditelan perangkat desa di Kota Subulussalam sejak awal 2024. Mereka tetap bekerja setiap hari—mencatat kelahiran, mengurus administrasi, mengatur layanan warga—namun gaji yang menjadi hak mereka tak kunjung dibayarkan.
Dalih yang digunakan pemerintah kota adalah defisit anggaran. Defisit yang konon sudah diwariskan dari pemerintahan sebelumnya, dengan nilai fantastis: ratusan miliar rupiah. Ironisnya, pergantian kepala daerah, dari wali kota lama ke Penjabat Wali Kota, lalu ke wali kota definitif, tak membawa perubahan signifikan dalam penyelesaian masalah.
Pertanyaannya sederhana: mengapa honor perangkat desa tidak menjadi prioritas? Dalam tata kelola keuangan yang sehat, pembayaran gaji aparatur adalah kewajiban utama, setara dengan membayar hutang pokok negara. Namun di Subulussalam, prioritas seolah terbalik—program-program lain tetap jalan, sementara hak dasar aparatur desa digantung.
Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) pun tidak bisa lepas tangan. Sebagai lembaga pengawas, DPRK memiliki kewenangan untuk menekan eksekutif agar transparan dan menuntaskan tunggakan. Namun publik melihat DPRK masih lebih banyak bicara di ruang sidang ketimbang bertindak nyata.
Terlambatnya pengesahan APBK hingga terkena sanksi penundaan DAU dan pemotongan DBH dari pemerintah pusat adalah pukulan telak. Sanksi ini memang mengurangi ruang fiskal daerah, tetapi bukankah hal ini seharusnya menjadi pelajaran bahwa kelalaian administrasi berdampak langsung pada masyarakat?
Perangkat desa bukan relawan. Mereka adalah ujung tombak pelayanan publik di tingkat paling dekat dengan warga. Menunda pembayaran honor mereka sama saja meremehkan fungsi pemerintahan itu sendiri.
Sudah waktunya pemerintah kota menetapkan pembayaran honor sebagai prioritas mutlak dalam realisasi anggaran. DPRK harus mengawal, BPK dan inspektorat harus memeriksa, dan masyarakat berhak tahu ke mana larinya uang daerah. Sebab jika honor aparatur desa saja bisa diabaikan, lalu apa lagi yang tidak bisa ditunda?
[dedi]






