Opini  

Belakang Gawang di GBK

Catatan: Dr. Muhammad Alkaf, Dosen IAIN Langsa, Aceh

Apakah sama perasaan di belakang gawang di Stadion Gelora Bung Karno dengan di belakang gawang di Stadion H. Dimurthala?

Pertanyaan itu seperti datang menghinggapi benak saya ketika menerima kiriman pesan di layanan What’sApp dari abang saya, Numairi Muchtar. Dia mengirimkan pesan berupa videonya dari Stadion Gelora Bung Karno (GBK) beberapa saat setelah pertandingan Indonesia vs Irak selesai. Posisinya duduknya, dari angle video yang dikirim, persis di belakang gawang Ernando Ari Sutaryadi di babak kedua, saat gol pertama Aymen Hussein dari titik penalti.

Tiga ekade lalu, dia tidak berada di situ; tidak berada di belakang gawang Ernando Ari Sutaryadi, melainkan di belakang gawang M. Basir di Stadion H. Dimurthala, Lampineung, Banda Aceh. Bagaimana saya tahu? Dia yang menceritakan ketika kami berjumpa di rumah setelah pertandingan Persiraja vs Pelita Jaya berakhir.

Saat itu, gegap gempita Liga Indonesia musim pertama dimulai. Liga Indonesia merupakan proyek ambisius Azwar Anas, Ketua Umum PSSI kala itu. Disebut sebagai proyek ambisius karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, dua kutub sepak bola Indonesia — Perserikatan dan Galatama — dilebur menjadi satu. Galatama merupakan kompetisi yang dihuni oleh klub-klub profesional, sedangkan Perserikatan adalah barisan klub-klub dengan berbasis sentimen kedaerahan.

Untuk memulai mimpi besarnya itu, liga dimulai dengan mempertemukan juara terakhir Galatama dan Divisi Utama Perserikatan: Pelita Jaya vs Persib Bandung. Melalui televisi, saya melihat pertarungan dua tim besar dengan prestasi dan tradisi besar dalam sejarah sepak bola Indonesia. Hasil akhir, Pelita Jaya memenangkan pertandingan melalui gol tunggal Dejan Glusevic. Setelah menang di Jakarta, Pelita Jaya memulai turnya ke Sumatra. Tim pertama yang dijumpai adalah Persiraja Banda Aceh.

Bagaimana Persiraja di mata para pemain Pelita Jaya saat itu?

Saya hanya bisa menebak-nebak dengan asumsi – yang barangkali tidak berdasar. Persiraja bukanlah tim elite dari klub-klub Perserikatan. Prestasinya di bawah PSMS Medan, Persib Bandung, Persija Jakarta, dan Persebaya Surabaya. Selebihnya, Persiraja, yang berada di di ujung barat Indonesia pastilah membuat tim ini jauh dari perhatian publik nasional. Dalam skema itu, Pelita Jaya tiba di atas tanah di Stadion H. Dimurthala, yang pada hari itu sesak oleh penonton. Sesak tanpa ampun.

Saya yang mulai menonton Persiraja sejak tim ini berada kembali di Divisi Utama dan turnamen Cakradonya terakhir, hadir dari dekat melihat peristiwa bersejarah itu. Dari belakang gawang M. Basir, saya memperhatikan tribune, lapangan, penonton, dan udara yang sangat panas. Seingat saya, pertandingan dilakukan menjelang sore waktu Banda Aceh.

Dari tribune yang penuh sesak, saya melihat kedua tim memasuki lapangan dalam keadaan yang kontras. Para pemain Pelita Jaya yang beberapa nama akrab di telinga saya, seperti Bonggo Pribadi, Ansyari Lubis, Buyung Ismu, dan Listianto Raharja tampak percaya diri di atas lapangan. Badan mereka terlihat lebih besar dan berotot dibandingkan pemain-pemain Persiraja.

Ada perasaan tersubordinat pada hari itu, betapa pun seluruh stadion mendukung penuh Persiraja. Tetapi, yang hadir pada hari itu sepertinya sadar kalau yang berada di hadapan mereka adalah Pelita Jaya, bukan yang lain.

Benar saja, sepanjang babak pertama Perlita Jaya mengendalikan jalannya pertandingan. Bahkan, Persiraja meninggalkan lapangan pada babak pertama dengan defisit satu gol. Dalam jeda pertandingan, saya mengingat ada penonton menyeletuk, sambil menunjuk penonton di tribun VIP, bahwa mereka yang di sana sudah rugi membeli tiket mahal hanya untuk melihat kekalahan Persiraja.

Akan tetapi, babak kedua segalanya berubah setelah Andi Lala — pelatih Persiraja saat itu — memainkan Dahlan Jalil. Dahlan merupakan bintang Persiraja sejak turnamen Divisi Satu sampai Divisi Utama Perserikatan. Bahkan, dia menjadi pencetak gol terbanyak bagi Persiraja pada turnamen Divisi Utama edisi terakhir. Namun naas baginya, menjelang persiapan mengarungi Liga Indonesia, dia mengalami cedera setelah bus yang membawa para pemain Persiraja mengalami kecelakaan. Kondisi cedera itulah yang membuatnya hampir tidak bermain sepanjang pertandingan, sampai kemudian pertolongannya dibutuhkan di babak kedua.

Bagi anak yang sedang tumbuh remaja seperti saya, apa yang Dahlan Jalil lakukan sepanjang babak kedua adalah keajaiban. Karena cedera, dia tidak lagi bisa berlari dengan lincah seperti biasanya. Dia hanya berjalan di lapangan dan membiarkan bola mengalir dari kakinya. Dia tidak mengejar bola, namun mengarahkan ke mana arahnya bola. Hari itu, kakinya seperti memiliki jarum kompas untuk membawa bola ke mana pun yang dia inginkan.

Hasil pertandingan pun berubah. Kemenangan untuk Persiraja melalui gol Irwansyah dan Mustafa Jalil. Pertandingan yang tidak saja membuat Pelita Jaya tunduk ke bumi, tetapi juga mengantarkan satu nama yang paling dikenal bagi publik Aceh: Irwansyah. Sejak mencetak gol ke gawang Pelita Jaya, dia menjadi sejarah terbaik bagi Persiraja.

Dari belakang gawang Persiraja di Stadion H. Dimurthala itulah sepak bola selalu lekat dengan diri saya, terutama sebagai penggemar. Dari belakang gawang itu pula, abang saya melihat saya dari kejauhan. Hal yang tentu saja tidak dilihatnya dari belakang gawang Ernando Ari Sutaryadi di GBK, karena saya tidak berada di sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *