Berita  

Merasa Paling NKRI, Baut Jembatan Darurat Pun Hilang: Sindiran Warganet Menohok Aparat

Polemik baut yang hilang mengundang komentar warganet.

STRATEGINEWS.ID (Banda Aceh) — Sindiran tajam warganet kembali mengemuka menyasar aparat yang kerap tampil paling vokal mengatasnamakan penjaga keutuhan NKRI, namun dinilai gagal mengurus hal paling elementer: keselamatan infrastruktur publik.

Sindiran tersebut disampaikan akun Facebook Bang Wira pada Senin malam, 29 Desember 2025. Unggahan itu dengan cepat menyebar dan memantik diskusi luas di media sosial karena dianggap mewakili kegelisahan dan kekecewaan publik.

Dalam unggahannya, Bang Wira menyoroti ironi antara gaya aparat yang lantang berbicara soal nasionalisme dan kedaulatan, dengan realitas di lapangan di mana baut pada jembatan darurat justru dilaporkan hilang.

“Mau menjaga NKRI, tapi menjaga baut jembatan saja tak sanggup,” tulisnya dengan nada sinis.

Status tersebut disambut akun lain, Aldin N, yang menanggapi singkat dengan satu kata, “gaspol.” Respons itu ditafsirkan warganet sebagai bentuk dukungan agar kritik publik terus disuarakan dan tidak berhenti pada simbol semata.

Informasi mengenai hilangnya baut pada jembatan darurat sebelumnya mencuat ke publik dan menjadi perhatian luas. Jembatan tersebut dibangun untuk menjamin akses warga pascabencana, namun justru memunculkan kekhawatiran setelah diketahui sejumlah baut pengikat dilaporkan tidak ada. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius terkait kualitas pekerjaan, pengawasan, dan keselamatan pengguna jembatan.

Isu tersebut semakin menguat setelah Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) dalam sebuah jumpa pers turut menyinggung soal hilangnya baut jembatan darurat. Pernyataan itu alih-alih meredam polemik, justru memicu reaksi lanjutan di media sosial. Warganet menilai penjelasan tersebut belum menyentuh akar persoalan, yakni lemahnya pengawasan terhadap infrastruktur yang menyangkut nyawa warga.

Seorang warga setempat, sebut saja Amad, mengaku heran dengan informasi hilangnya baut tersebut. Menurutnya, sulit diterima akal sehat jika komponen penting jembatan bisa hilang begitu saja.

“Kok bisa hilang? Padahal dari ujung ke ujung ada aparat siang malam, bendera Merah Putih juga terpasang berjejer,” ujarnya.

Amad bahkan menduga ada kemungkinan lain di balik peristiwa itu. “Jangan-jangan baut memang sengaja tidak dipasang, atau kelupaan karena terburu-buru. Ini yang membuat warga semakin resah,” sesalnya.

Bagi warganet dan warga, persoalan ini bukan semata soal satu baut atau satu jembatan. Ini dianggap sebagai simbol salah urus dan salah prioritas. Retorika nasionalisme dinilai kehilangan makna ketika keselamatan publik justru terabaikan.

Di tengah ironi tersebut, muncul perasaan gamang di ruang publik. Warganet mengaku tak tahu harus menangis melihat kelalaian yang berulang, atau tertawa pahit menyaksikan absurditas yang terus dipertontonkan. Bagi mereka, nasionalisme sejati bukan diukur dari jargon atau klaim paling NKRI, melainkan dari tanggung jawab nyata negara dalam menjaga keselamatan rakyat—dimulai dari hal paling mendasar. (SN/mu/son)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *