Oleh : Busri Toha
STRATEGINEWS.ID – Hari ini, 1 Mei 2025, Indonesia kembali memperingati Hari Buruh Internasional—sebuah momentum yang bukan sekadar seremonial, tetapi panggilan untuk merenungi nasib jutaan buruh yang masih berjuang demi kesejahteraan yang kerap terasa jauh dari jangkauan.
Di tengah kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi nasional, masih banyak buruh yang menerima upah jauh di bawah kebutuhan hidup layak. Mereka bekerja dalam kondisi minim perlindungan, tanpa kepastian kerja, dan sering kali terpinggirkan dari proses pengambilan keputusan yang menyangkut hajat hidup mereka sendiri.
Padahal, buruh adalah tulang punggung pembangunan bangsa. Setiap produk, setiap gedung tinggi, hingga kemudahan yang kita nikmati hari ini, tak lepas dari tangan-tangan para pekerja. Keringat mereka bukan hanya penggerak roda ekonomi, melainkan juga syair perjuangan yang setiap tetesnya mengandung harapan: untuk hidup yang layak, pekerjaan yang manusiawi, dan perlakuan yang adil.
Pemerintah dan pelaku usaha sudah semestinya tidak memandang buruh hanya sebagai angka dalam laporan keuangan. Mereka adalah manusia yang layak diperlakukan dengan martabat dan rasa hormat. Reformasi kebijakan ketenagakerjaan harus berpihak pada kesejahteraan buruh, bukan semata efisiensi modal.
Hari Buruh ini bukan hanya ajang turun ke jalan, tetapi juga panggilan bagi seluruh elemen bangsa untuk mendengarkan suara yang selama ini tenggelam di balik hiruk-pikuk pembangunan: suara buruh yang menuntut hak atas kehidupan yang lebih baik. Karena selama keadilan belum berpihak pada mereka, maka perjuangan belum selesai.
Salam hormat untuk para buruh Indonesia—keringatmu adalah syair perjuangan bangsa. (*)








