Opini  

Timnas dan Gen Alpha

"Memangnya Timnas pernah bermain buruk?"

Dr. Muhammad Alkaf, Dosen IAIN Langsa, Aceh

Catatan Dr. Muhammad Alkaf *)

Pertanyaan tersebut datang dari keponakan saya ketika kami berdiskusi kiprah Timnas Indonesia di Piala Asia U-23 di Qatar lalu. Dia begitu bersemangat menceritakan tentang daya juang timnas pada turnamen itu.

Seperti pengakuannya, dia mengidolakan Rafael Struick. Karena itu, hatinya murung ketika pemain pujaannya itu absen karena akumulasi kartu kuning di babak semi final melawan Uzbekistan.

Saya bertanya, kapan awal mulanya menonton timnas. “Sejak tahun 2022,” jawabnya. Artinya, dia mulai mengikuti Timnas Indonesia yang semakin membaik sejak dilatih oleh STY dan diasuh oleh Erick Tohir.

Hal yang paling menakjubkan, dia tidak memiliki pengalaman traumatis dengan Timnas Indonesia. Kondisi psikologis demikian diperlihatkan dengan pertanyaannya, sekaligus keheranannya, tentang apakah timnas pernah bermain buruk. Ketika saya mengatakan bahwa Timnas Indonesia pernah dibantai oleh Bahrain 0-10, dia hanya merespon dengan datar. Seakan-akan, kisah memalukan itu adalah fiksi belaka.

Keponakan saya itu merupakan wakil dari Generasi Alpha. Satu angkatan, yang menurut kabar, melebihi kecanggihan Gen Z, Gen Milineal, apalagi Gen Y. Generasi ini lebih mengagumi Mbappe dan Halland, daripada Messi dan Ronaldo. Salah satu keponakan saya yang lain, yang juga datang dari Gen Alpha, mempercayai dengan bulat bahwa Halland itu seorang robot. Dia tetap berpegang pada keyakinannya itu, betapa pun saya mengatakan bahwa Halland adalah manusia seperti pada umumnya. “Halland itu robot,”katanya singkat.

Apa yang dipersepsikan oleh keponakan saya tentang timnas sepak bola Indonesia merupakan hal yang menggembirakan. Kita memang harus memotong generasi yang kehilangan harapan dan frustasi melihat Timnas sepak bola menjadi bulan-bulanan negara lain.

Kalau saja proses ini berlanjut, lalu para pendukung bersabar akan hal itu, tentulah kita akan melihat Timnas Indonesia yang berwibawa ketika di tengah lapangan. Lalu, sepertinya, kita tidak akan lagi melihat penonton yang marah, kemudian turun ke lapangan untuk mencetak gol ke gawang lawan Timnas karena negara yang didukungnya selalu tampil sebagai mengecewakan, seperti Henri Mulyadi.

*) Dosen IAIN Langsa, Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *