Opini  

Pesan Kebersamaan Idul Fitri

Putu Suasta [kiri] dan Valentino Barus [kanan]

Hari ini masyarakat Muslim di berbagai belahan dunia menyambut Idul Fitri dengan sukacita. Dengan jumlah 236 juta pemeluk muslim, Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Karena itu tidak heran bila sukacita dan kemeriahan Idul Fitri terasa di berbagai sudut negeri. Bahkan penduduk non-muslim turut larut bersama saudara sebangsanya dalam merayakan hari kemenangan ini.

Makna Spiritual Idul Fitri

Idul Fitri memiliki makna spiritual untuk kembali ke kemurnian kesucian.

Manusia diajak untuk bertransformasi menjadi manusia yang lebih baik, yang lebih sabar dan rendah hati. Kita juga disadarkan agar senantiasa bisa bersyukur bahwa kita masih sehat. Sebagai warga yang bangga akan bangsanya, kita pun diajak untuk tetap rendah hati dan jujur dalam semua situasi sebagai jalan sosial spiritual.
Sembari konsisten menekuni sikap pribadi yang berserah dan berseru kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam hal ini, masyarakat dituntun untuk mencontoh amalan nabi dan tokoh suci agama yang senantiasa mampu berbuat baik terhadap orang yang tidak saja kepada orang yang baik, tetapi juga kepada orang yang berbuat jahat kepada mereka. Mampu menjalin kembali silaturahmi dengan orang yang telah terputus selama ini. Serta mampu
menyampaikan kebenaran meskipun hal itu pahit, karena memang diniati untuk kebaikan bersama.

Dari berbagai tokoh penceramah agama, kita kerap mendengar himbauan agar senantiasa mengupayakan kebaikan dengan mengajak bukan menginjak, dengan merangkul bukan memukul.

Merajut Kembali Toleransi dan kebersamaan

Suasana Idul Fitri saat ini berimpit pula dengan hawa Pemilu yang baru saja kita lalui dengan aman dan lancar. Karenanya momentum kali ini baik pula kita
maknai kembali sikap toleransi dalam suasana Idul Fitri di tengah masyarakat kita yang bhineka.

Pemilu baru lalu masih menyisakan perselisihan di tengah masyarakat. Dalam konteks beragama, sering dikatakan, apabila diantara kamu muncul perselisihan, seperti pemilu yang baru lalu, janganlah sampai hal itu merusak hatimu, merusak hubungan di antara sesama anak bangsa yang toleran.

Perasaan benci, iri dan dengki hendaknya diupayakan sejauhnya dari diri kita, bahkan sudah harus kita kubur. Sehatkan fisik dan jiwa kita. Dalam bermasyarakat dan berbangsa persaudaraan harus tetap jadi Tujuan Utama.

Tantangan masyarakat bangsa di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu sungguh membutuhkan sinergitas potensi dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat bangsa. Saatnya kita kembali bergandengan tangan menghadapi berbagai tantangan dengan optimis menatap masa depan bangsa.

Lebih dari pada itu, kita harapkan lahirnya tokoh-tokoh negarawan yang teguh mengedepankan kepentingan bangsa sebagai prioritas utama. Serta menyadari pentingnya mewariskan legasi mulia bagi generasi mendatang, generasi anak cucu kita, generasi penerus dengan tantangan dalam dunia digital dan dunia medsos yang merupakan peradaban terkini.

Momentum Idul Fitri ini juga mengingatkan bahwa perhelatan kita di dunia ini sementara sedangkan di akhirat itu kekal adanya. Ayooo mari kita tutup penyikapan terhadap perbedaan pilihan politik dan kekesalan di berbagai grup WA karena pemilu kemarin. Dengan balutan semangat maaf memanfaatkan pada Idul Fitri ini, kita kembali menatap ke depan dengan optimis. Pemilu telah selesai mari kita bekerjasama menghadapi dan menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Selamat Idul Fitri 1445 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin.

Valentino Barus
Putu Suasta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *