Dr. Ir. Anton Apriyantono: Pentingnya Ketahanan Pangan dan Diversifikasi Produk Pertanian

Dr. Ir. Anton Apriyantono: Pentingnya Ketahanan Pangan dan Diversifikasi Produk Pertanian [foto Antara]

STRATEGINEWS.Id, Jakarta – Dalam diskusi zoominari yang diselenggarakan oleh Narasi Institute pada jumat 11-08-2023 dengan tema “Kebijakan Sektor Pertanian Indonesia dalam Jangka Menengah dan Panjang,” Dr. Ir. Anton Apriyantono, Mantan Menteri Pertanian RI periode 2004-2009, memberikan pandangan mengenai tantangan dan strategi yang harus diadopsi oleh sektor pertanian Indonesia untuk menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata.

Dr. Anton Apriyantono dengan tegas menyoroti dampak serius yang mungkin terjadi akibat perubahan iklim. Ia menegaskan bahwa prioritas utama dalam jangka menengah hingga panjang adalah ketahanan pangan, karena kekurangan pangan bisa memicu rangkaian masalah kompleks yang dapat merugikan masyarakat luas sehingga sangatlah penting untuk menjaga ketahanan pangan sebagai pijakan utama.

Untuk mengatasi tantangan ini, selain memperkuat ketahanan pangan, optimalisasi penggunaan lahan pertanian dengan pendekatan komparatif dan kompetitif juga dinilai sebagai Langkah strategis. Pemilihan tanaman yang memiliki nilai jual tinggi menjadi kunci utama. “Ia menyoroti potensi untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen unggul di pasar global dengan produk-produk bernilai tinggi, seperti vanila yang memiliki permintaan yang tinggi.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa pendekatan ini harus cerdas. Menolak impor secara mutlak bukanlah solusi yang efektif, masih ada kebutuhan untuk mengimpor bahan baku tertentu. Solusi terbaik adalah dengan mengimpor bahan baku, namun mengolahnya menjadi produk ekspor dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Sebagai contoh, ia menunjukkan bagaimana impor terigu bisa diolah menjadi mie instan yang kemudian dapat diekspor.

Sementara ini pengoptimasian dan pengurangan ketergantungan terhadap impor sangatlah penting, penarikan sumber daya manusia dan fasilitas dengan cepat dapat mengganggu produksi pertanian. Oleh karena itu, kerjasama yang efektif dan koordinasi antar lembaga menjadi kunci untuk menghindari duplikasi usaha dan kerugian yang mungkin timbul.

Namun, Dr. Apriyantono juga memperkuat pandangannya tentang pengembangan produk pertanian. Dia mendukung diversifikasi produk olahan dan bernilai tambah sebagai strategi penting untuk meningkatkan daya saing dan potensi ekspor. Mengacu pada contoh konkret, dia mendorong pengembangan produk berbasis daging sapi seperti rendang, serta berbagai variasi produk kedelai seperti tempe dengan cita rasa yang beragam.

Sebagai kesimpulan, terdapat tiga poin utama yang perlu diperhatikan:

Pertama, meningkatkan ketahanan pangan harus menjadi fokus utama, dan potensi dalam negeri perlu dioptimalkan untuk mencapai tujuan ini.

Kedua, perlunya mengarahkan upaya ke sektor hilir dengan fokus pada pengembangan produk bernilai tambah, seperti rempah-rempah dan produk olahan.

Ketiga, tantangan ekonomi dan persaingan global perlu dihadapi melalui strategi berfokus pada komoditas dengan nilai ekonomi tinggi, dan potensi pertumbuhan ekonomi harus dieksplorasi dan dimanfaatkan sepenuhnya.

kerjasama lintas sektor, investasi dalam riset dan inovasi pertanian, serta dukungan pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan akan menjadi kunci yang berharga bagi perkembangan sektor pertanian Indonesia dalam menghadapi masa depan yang penuh dengan tantangan dan peluang.

[nug/rel]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *