STRATEGINEWS.id, Jakarta – Mantan Menteri Pendidikan, Riset, Kebudayaan dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, dituntut 18 tahun penjara terkait kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, pada Rabu (13/05).
Nadiem juga dituntut membayar denda Rp1 miliar atau pengganti penjara 190 hari serta uang pengganti Rp809 miliar dan Rp4,87 triliun atau pengganti penjara sembilan tahun.
Menyoroti kasus ini, Diektur Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie mengatakan, kasus ini merupakan korupsi terbesar bidang pendidikan di era Presiden Jokowi, yang mana kerugian negara mencapai Ro 5,2 triliun diduga mark anggaran pengadaan laptop chromebook.
“Saya pikir Nadiem melakukan tindakan abuse of power dan memperkaya diri sendiri dan melakukan korupsi berjamaah. Parahnya lagi ratusan bahkan ribuan buzzer saya riset di medsos khususnya Instagram bahkan X dikerahkan untuk membela Nadiem agar kelihatan tak berdosa dan tak bersalah. Saya duga mereka sudah di endorsed semua akun pembela Nadiem mereka kaum buta dan bodoh soal kerusakan sistem pendidikan,” kata Jerry melalui keterangan, Sabtu [16/5/2026].
“ Ingat Hakim dan Jaksa Penuntut Umum ini bukan orang bodoh, tapi Jakda dan hakim yang jujur telah memutuskan keputusan 18 tahun penjara bagi Nadiem sebelumnya putusan 27 tahun lewat kejujuran hati nuraninya,” ujarnya.
Jerry mengungkap, kekayaan Nadiem pun turut meroket sejak ia menjabat.
“Bayangkan, kekayaan Nadiem cepat bertambah Rp3,6 triliun ini tak masuk akal. Pendidikan rusak ditangan UPT dia bikin mahal, kurikulum merdeka belajar bukan bikin pintar tapi membodohi banyak murid SD sampai SMP tak bisa baca, pramuka dia hapus, hanpir saja ijasah palsu dilegalkan, tak lerlu belajar di sekolah atau home scholling aja, ijasah tak penting, dia bisniskan pendidikan, pelajaran PMP dihapus, disatukan jurusan IPS-IPA aneh, baru staf ahlinya anak2 ingusan, Menteri pendidikan dan ristek paling buruk dalam sejarah,” ungkapnya.
Jerry menambahkan, bukan hanya itu waktu menjabat pun Nadiem tak pernah mendengar masukan para rektor atau minta saran serta tak pernah berkunjunng ke kampus-kampus. Parahnya tak pernah jadi guru, kepala sekolah, dosen atau rektor tapi jadi menteri. Bahkan saat dia menteri IQ Indonesia terendah di dunia 78 simpanse 70.
“Hukumannya diperberat lantaran banyak berkelit disidang atau tak kooperatif, menghambat pemerataan pendidikan, memperkaya diri sendiri, menimbulkan kerugian yang sangat besar,” pungkasnmya.
[sam/red]












