STRATEGINEWS.ID, Depok – Bulan Dzulhijah merupakan bagian dari asyhurul fadilah (bulan-bulan keutamaan) dan asyhurul haram (bulan-bulan mulia). Dalam bulan ini banyak dari hamba-hamba Allah -yang diberi kemampuan- melakukan perjalanan untuk menunaikan ibadah haji, menyempurnakan rukun Islam yang kelima, dan yang tidak kalah penting ta’abbudan lillah yaitu beribadah (berhaji) semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang (riya’), bukan disebabkan agal gelar haji melekat dinamanya dan bukan karena motif-motif lainnya.
Hal itu disampaikan Ustadzah Dr. Nur Hamidah, Lc, M.Ag, dalam kajian BPM Masjid Adz-Dzikri, Pesona Khayangan, Depok, Kamis [15/6/2023].

Dalam kajian ini, Uztadzah Dr. Nur Hamidah menyampaikan materi tentang manajemen merawat hati, berkaitan dengan bulan suci Haji.
Uztadzah Dr. Nur Hamidah mengatakan, dalam bulan Dzulhijah, ada 3 hal yang bisa menggugurkan amal-amal kita pertama jangan berkata kotor. Menurut dia, di bulan suci umat muslim dilarang untuk melakukan perbuatan yang kotor atau hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.
Yang kedua, kata ustadzah, dilarang menciderai atau menodai perasaan orang karena ucapan-ucapan yang menyakiti.
“ Dilarang saling mengumpat, saling mencela. Semua amalan akan hilang tidak ada artinya,” terangnya.
Yang ketiga, lanjutnya, hindari perdebatan, hindari argumentasi yang menyebabkan keributan. Menurutnya, keributan inilah yang membatalkan ibadah-ibadah suci kita, karena bulan haji juga disebut sebagai bulan-bulan harom.
“ Jadi fikih menjaga hati, merawat hati, merupakan suatu hal yang urgent yang harus kita pelajari,” tuturnya.
Ustadzah juga menjelaskan, bahwa diantara 12 bulan dalam kalender hijriah diantaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor ,yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.
” Kenapa disebut bulan haram? Karena segala amal kebaikan yang dilakukan di bulan tersebut akan dilipatgandakan pahalanya. Oleh karena itu, dibulan haram (suci) ini kita harus merencanakan kebaikan,” ungkapnya.
Dalam Surat Attaubah ayat 36 Allah menyebutkan, sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.
“ Ini adalah bulan yang sangat dimuliakan Allah. Mari kita mencoba berbenah diri untuk memantaskan diri kita untuk melakukan hal-hal yang baik. Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, Allah tetap membimbing kita dengan cara yang berbeda, tidak seperti ketika di jaman Rasulullah. Allah akan mengkomunikasikan apa yang diinginkanNya, melalui hati kita berupa ilham,” jelasnya.
“ Kalau jaman Rasullullah, melalui wahyu, tapi kalau kepada kita manusia melalui ilham berupa bisikan melalui hati hati kita. Dengan demikian kita harus benar-benar sensitif untuk bisa menerima ilham dari Allah SWT,” ungkapnya.
Komunikasi Allah dengan hati kita, tergantung kejernihan hati.
“Hati yang bersih atau tidak bersih terucap dari lisan kita. Hati yang bersih adalah yang terbebas dari segala penyakit hati. Hati yang bersih dapat membuat amal ibadah yang dikerjakan dapat diterima oleh Allah SWT.,” tuturnya.
Untuk bisa menata hati, kata Ustadzah perlu latihan sampai kita berhasil mengelola hati kita, mampu berlapang dada, mampu mengambil hikmah, mampu mendoakan yang baik, mampu memaklumi kekurangan orang lain, mampukah kita memaafkan orang lain.
[ risdiana ]












