Memantaskan Diri Dalam Berteman

Penulis: Risdiana Wiryatni

STRATEGINEWS.Id, Depok – Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan teman untuk menjalani kehidupan. Islam menganjurkan umatnya untuk memperbanyak teman yang baik dan saleh. Adab berteman telah diatur dalam Islam. Sebagai makhluk sosial, manusia tentu tidak dapat hidup seorang diri tanpa bantuan orang lain. Sebab, manusia membutuhkan teman untuk menjalani kehidupan.

Islam bahkan menganjurkan umatnya untuk memperbanyak teman yang baik karena akan mengajak pada kebaikan, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Hal itu disampaikan Ustadzah Nurhamida, dalam kajian Islam rutin bulanan, yang diselenggarakan Majelis Ilmu Khayangan pimpinan Umi Linda, di kompleks Perumahan Pesona Khayangan Depok, Senin, 12 Juni 2023.

Ustadzah melanjutkan, dalam berteman, Islam juga mengajarkan adab-adab yang harus dilakukan agar pertemanan tetap lestari dan mendatangkan kebaikan.

Terkait memantaskan diri dalam berteman, lanjut Ustadzah, segala sesuatu harus dilakukan karena Allah SWT, termasuk dalam menjalin pertemanan. Dengan begitu, apa pun yang dilakukan umat Muslim akan senantiasa dalam rahmat dan karunia-Nya.

Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa yang ingin merasakan lezatnya iman hendaknya dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah.” (HR. Ahmad)

Selain itu, sebaiknya seorang Muslim berteman dekat dengan orang mukmin. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Janganlah engkau bergaul kecuali dengan seorang mukmin. Janganlah memakan makananmu melainkan orang bertakwa.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Berteman yang baik, kata Ustadzah, ada beberapa adab yang harus diperhatikan, yakni berteman karena Allah. Artinya, segala sesuatu harus dilakukan karena Allah SWT, termasuk dalam menjalin pertemanan. Dengan begitu, apa pun yang dilakukan umat Muslim akan senantiasa dalam rahmat dan karunia-Nya.

Kemudian, lanjut Ustadzah,  jika kita ingin berteman yang baik harus dari diri kitanya dahulu dengan menjaga perasaan teman

“ Teman yang baik akan memberikan pengaruh yang baik, sedangkan teman yang buruk juga bisa memberikan pengaruh yang buruk. Hal ini sebagaimana riwayat hadits, “Seseorang ada di atas agama temannya, maka hendaknya salah seorang kalian meneliti siapa yang dijadikan sebagai temannya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud),” tuturnya.

Selain itu, ujarnya, dalam berteman, harus pula dilandasi dengan sikap untuk menjaga kerukunan, mendahului mengucapkan salam, ramah dan lapang dada jika ada perselisihan, menghargai teman dan menghindari perdebatan, bersikap lemah lembut, tidak menggunjing aib temannya atai ghibah.

“  Ada perbuatan dosa yang sering dilakukan manusia tanpa mereka sadari. Perbuatan dosa tersebut adalah ghibah,” ungkapnya.

Ghibah kata Ustadzah, adalah perbuatan di mana kita membicarakan aib atau keburukan orang lain. Ghibah adalah salah satu perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT dan termasuk dalam perbuatan dosa besar. Bahkan meskipun yang dibicarakan itu sesuai kenyataan, ghibah tetaplah perbuatan yang zalim.

“ Meski ghibah sulit dihindari, namun kita harus tetap mencoba untuk menghindari perbuatan dosa ini. Allah SWT sendiri mengibaratkan pelaku ghibah seperti memakan daging saudaranya yang sudah mati,” terangnya.

“Dan janganlah sebagian kalian ghibah (menggunjing) sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kalian akan merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang.” (Q.S Al Hujurat : 12).

[red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *