STRATEGINEWS.id, Medan — Awal 2025 terbilang menjadi masa sulit bagi sektor bisnis ritel. Di berbagai kota di Indonesia sejumlah toko tutup, pusat perbelanjaan makin lengang, dan penjualan merosot tajam.
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menegaskan, penutupan sejumlah gerai retail, seperti Lulu Hypermarket, disebabkan oleh merosotnya jumlah konsumen akibat daya beli yang anjlok. Berkurangnya jumlah konsumen diduga terjadi akibat daya beli masyarakat menengah ke bawah yang terus menurun.
Ketua Umum Aprindo Solihin mengatakan, perubahan pola konsumsi masyarakat turut mempengaruhi kinerja retail. Konsumen kini selektif dan efisien dalam berbelanja, hanya memberi barang pokok sesuai kebutuhan. Pertimbangan utama konsumen mereka pun bergeser dari merek ke harga yang paling terjangkau.
“Faktor utamanya karena usaha di sana merugi, konsumen terus berkurang,” kata Solihin, akhir April 2025.
Rontoknya bisnis ritel modern lebih banyak disebabkan oleh perubahan perilaku konsumen. Pada 1990 dan 2000-an, hipermarket menjadi satu simbol ekonomi modern di Indonesia. Banyak keluarga rutin menghabiskan dua-tiga jam menelusuri lorong demi lorong pasar swalayan raksasa dengan troli besar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga setelah gajian.
Kini kebiasaan berbelanja bulanan hampir punah. Ada yang menyebutkan, pusat belanja sepi akibat pandemi Covid-19. Nyatanya, jauh setelah masa pagebluk berlalu, banyak keluarga memilih berbelanja untuk kebutuhan dengan rentang waktu yang lebih singkat.
Penghematan pengeluaran makin dibutuhkan seiring dengan melemahnya daya beli masyarakat akibat penurunan pendapatan, gelombang pemutusan hubungan kerja, dan dampak pemangkasan anggaran pemerintah. Indikasinya: deflasi dua bulan berturut-turut pada awal 2025. Ini deflasi tahunan pertama dalam seperempat abad.
Penjualan produk fast-moving consumer goods (FMCG) selama Ramadan dan Lebaran tahun ini jauh dari harapan. Aprindo mencatat kenaikan penjualan hanya 5-8 persen dibanding pada periode sama tahun lalu.
Solihin menyebutkan, penutupan geraih menjadi pilihan logis bagi pengusaha ketika pendapatan tak lagi sebanding dengan biaya operasional. Sebab, pengusaha cenderung berfokus pada gerai-gerai yang masih memberikan kontribusi keuntungan.
Asosiasi Matahari Supplier’s Club (AMSC) menyebutkan, gejolak geopolitik global dan kebijakan ekspor, seperti tarif tinggi ke Amerika Serikat, berdampak signifikan terhadap beberapa sektor unggulan Indonesia seperti tekstil, alas kaki, furnitur, dan hasil laut. Di sisi domestik, daya beli masyarakat kelas menengah dan bawah diperkirakan menurun hingga 4 persen, seperti dikutip dari tempo.co, Selasa (27/5/2025) malam.
(KTS/rel)












