Oleh: Iwan Sanusi Libere – Praktisi Aviasi dan General Manager PT Angkasa Pura Indonesia, Bandara Frans Kaisiepo Biak
Beberapa hari terakhir, masyarakat Biak dan publik nasional dikejutkan dengan pemberitaan media daring mengenai dugaan permintaan akses militer oleh Rusia di Lanud Manuhua, Biak, Papua. Isu ini diberitakan oleh Tribunnews Banyumas, Kumparan.com, dan juga menjadi sorotan internasional oleh The Guardian.
Kementerian Pertahanan RI, melalui Detikcom, telah membantah isu tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada permintaan resmi dari Rusia serta tidak ada kerja sama militer semacam itu yang dibahas saat ini.
Tautan pemberitaan:
Tribunnews Banyumas – 15 April 2025
Kumparan.com – 15 April 2025
The Guardian – 15 April 2025
Detikcom – 16 April 2025
—
Biak dalam Pusaran Geopolitik
Lanud Manuhua merupakan aset vital strategis di wilayah timur Indonesia. Dengan letaknya yang menghadap Samudera Pasifik dan berada di jalur lintas udara internasional, Biak menjadi titik penting pertahanan sekaligus gerbang ekonomi dan logistik nasional ke kawasan Pasifik.
Prinsip Politik Luar Negeri: Bebas dan Aktif
Indonesia menegaskan komitmennya pada kebijakan luar negeri bebas aktif serta prinsip penolakan terhadap keberadaan pangkalan militer asing permanen di wilayah NKRI. Prinsip ini diatur dalam:
UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara,
UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI, dan
UU No. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.
Namun, kerja sama internasional terbatas masih dapat dijajaki sepanjang menjunjung tinggi kedaulatan nasional dan kesejahteraan rakyat.
Potensi Positif bagi Biak dan Masyarakatnya
Jika pemerintah membuka ruang dialog atas kerja sama terbatas untuk kepentingan strategis, maka masyarakat Biak perlu mengupayakan bahwa kerja sama tersebut berdampak langsung pada pembangunan daerah, antara lain:
1. Penciptaan Lapangan Kerja Baru
Kegiatan pendukung seperti katering, transportasi, konstruksi, keamanan, dan fasilitas pendukung lainnya akan membuka peluang kerja bagi warga lokal.
2. Pengembangan Infrastruktur Publik
Jalan akses, jaringan listrik, layanan kesehatan, hingga konektivitas udara dan laut bisa terdongkrak oleh peningkatan aktivitas di Biak.
3. Pertumbuhan UMKM dan Usaha Lokal
Kebutuhan logistik, penginapan, dan konsumsi akan meningkat seiring aktivitas yang lebih besar, mendorong usaha lokal untuk berkembang.
4. Kawasan Ekonomi Pendukung
Pemerintah daerah dapat mengembangkan zona ekonomi atau logistik berbasis masyarakat untuk menampung potensi pertumbuhan yang muncul.
Memperkuat Hubungan Bilateral Indonesia–Rusia
Indonesia dan Rusia telah menjalin hubungan diplomatik sejak 1950, dan memiliki kerja sama strategis di berbagai sektor:
Pertahanan dan Teknologi Militer: Termasuk pengadaan alutsista dan pelatihan personel.
Perdagangan dan Investasi: Kerja sama migas, pertanian, dan industri berat.
Pendidikan dan Kebudayaan: Program beasiswa, pertukaran pelajar, serta pelestarian budaya.
Eksplorasi Teknologi dan Riset: Termasuk bidang aviasi, ruang angkasa, dan energi terbarukan.
Jika kerja sama strategis terkait Lanud Biak diarahkan dalam semangat bilateral dan transparansi, Indonesia akan tetap berdaulat sekaligus mengambil posisi taktis dalam dinamika geopolitik global.
Rekomendasi untuk Pemerintah dan Daerah:
1. Transparansi dan Partisipasi Publik
Libatkan tokoh masyarakat, LSM, dan akademisi dalam diskusi terbuka untuk meredam spekulasi dan memastikan aspirasi rakyat Biak terakomodasi.
2. Perlindungan Kedaulatan dan Hukum Nasional
Setiap bentuk kerja sama harus tunduk pada konstitusi dan tidak menimbulkan keraguan terhadap independensi Indonesia.
3. Pembangunan Inklusif dan Terintegrasi
Dorong pendekatan pembangunan yang menjadikan masyarakat Biak sebagai pelaku utama, bukan hanya penonton.
Tentang Penulis
Iwan Sanusi Libere adalah praktisi Aviasi dan merupkan alumni Pendidikan dan Latihan Penerbangan (PLP) Curug — yang kini menjadi STPI Curug — dengan spesialisasi di bidang Ahli Lalu Lintas Udara. Saat ini, ia merupakan praktisi aviasi nasional dan menjabat sebagai General Manager PT Angkasa Pura Indonesia di Bandar Udara Frans Kaisiepo Biak. Selain aktif di industri penerbangan, ia juga dikenal sebagai penggerak dialog pembangunan dan kebijakan publik di kawasan timur Indonesia.








