Rosan Roeslani: Dana Danantara Berasal dari Deviden BUMN, Bukan Berasal dari Masyarakat

CEO BPI Danantara Rosan Roeslani

STRATEGINEWS.id, Jakarta –  Dalam diskusi bertajuk Strategi Investasi Danantara: Prinsip, Peluang, Risiko bersama mahasiswa Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, CEO Badan Pelaksana Investasi [BPI] Danantara Rosan Roeslani menegaskan, bahwa sumber pendanaan Danantara berasal dari deviden Badan Usaha Milik Negara [BUMN], bukan dari dana masyarakat.

“Banyak yang bertanya, investasi Danantara dananya dari mana? Dananya ini dari dividen BUMN. Dana dividen itu kami kelola untuk dua hal, pertama untuk penguatan BUMN sendiri dalam bentuk penyetoran modal, dan kedua untuk investasi,” ujar Rosan, mengutip akun instagram @rosanroeslani, Jakarta, Sabtu (8/3/2025).

Investasi yang dilakukan Danantara, kata Rosan, tidak menggunakan dana likuiditas perbankan atau dana masyarakat.

Rosan yang juga Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM ini juga mengakui bahwa dalam berinvestasi pasti ada risiko, namun selama risiko tersebut dapat diperhitungkan atau calculated risk, Danantara tetap akan berinvestasi pada bidang-bidang yang berpotensi memberikan dampak luas bagi perekonomian nasional.

Dikatakan Rosan, Danantara saat ini memprioritaskan investasi pada sektor hilirisasi, yang merupakan salah satu strategi utama pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurut dia, bahwa dari 28 sektor hilirisasi yang telah diidentifikasi, Danantara akan memfokuskan investasinya pada empat hingga lima sektor utama.

Salah satu sektor hilirisasi yang telah terbukti sukses, kata dia, adalah nikel. Pasalnya, pada 2016, ekspor nikel Indonesia hanya bernilai USD3,3 miliar. Namun, setelah dilakukan hilirisasi, nilai ekspornya melonjak menjadi USD30 miliar pada 2024, atau naik 10 kali lipat. Selain itu, hilirisasi juga menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.

Selain nikel, sektor kelapa sawit juga telah mengalami hilirisasi.

“ Ke depan, Danantara mempertimbangkan untuk berinvestasi di sektor lain seperti rumput laut atau seaweed, yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” ujarnya.

“Sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, Danantara harus mempertimbangkan aspek kehati-hatian dan dampak jangka panjang dalam setiap investasi,” sambungnya.

Oleh karena itu, komite investasi Danantara akan fokus pada sektor unggulan yang mampu menciptakan lapangan kerja, mengurangi impor, meningkatkan ekspor, serta memperkuat daya saing Indonesia di kancah global.

[rus/red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *