Urip Mung Mampir Ngombe

Foto ilustrasi google

Catatan Budaya D. Supriyanto Jagad N *)

Hari Jumat merupakan hari yang istimewa dan penuh keberkahan bagi umat Islam. Ada banyak amalan dan ibadah yang biasa dilakukan pada hari ini. Salah satunya berbagi rejeki di Jumat berkah.

Semangat berbagi telah tertanam di tengah masyarakat Indonesia sejak dahulu kala. Karena itu, dengan mudah kita akan menemukan berbagai lembaga, dari formal, informal hingga non formal, seperti lembaga pendidikan, agama, dan keluarga senantiasa menekankan pentingnya arti berbagi dalam kehidupan bersama. Semangat peduli dan bela rasa  memang merupakan bagian kental yang mewarnai budaya masyarakat kita yang terkenal penuh welas asih dan tepo seliro.

Semangat rela berbagi itu jugalah yang secara spontan muncul ketika masyarakat kita menghadapi masalah pelik. Banyak diantara saudara-saudara kita, yang kurang beruntung. Pada saat demikian, muncul menguat semangat kebersamaan di tengah-tengah masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan ‘Jumat Berkah’

Saya teringat pesan ibu saya, untuk membiasakan diri berbagi kepada sesama, menolong sesama, meski kita sedang kesulitan sekalipun.

Ibu saya, di Kampung, memang senang bersedekah, sering masak berlebih dan dibagi bagikan kepada tetangga. Saya pernah protes kebiasaan yang dilakukan ibu saya ini.

“Le, kita ini sudah dapat jatah rejeki masing-masing, tetapi kewajiban kita kurang lebih sama, sebisa mungkin memberi dan berbagi kepada sesama,” kata ibu pelan.

“Kaya itu keluasan hati untuk memberi, bukan soal kumpulan harta benda. Kalau kita menunggu terkumpulnya harta, baru bisa memberi, itu namanya kita lupa bersyukur, kita menjadi pribadi yang tidak tahu diri di hadapan Gusti Alloh,” tutur ibu lembut. Saya hanya terdiam, sambil mencerna kalimat demi kalimat yang diucapkan ibu.

Ibu mengatakan, hidup ini harus diisi dengan kebaikan-kebaikan sebisanya kita mampu. Urip iku yo mung mampir ngombe [Hidup itu ibarat singgah mampir minum].

Jika direnungi secara mendalam, apa yang disampaikan ibu saya, akan menuntun kita dalam menjalani hidup secara arif.

Ngombe artinya minum, adalah metafora dari kebutuhan dan kesenangan manusia.

Seperti kita pahami bersama, perjalanan hidup manusia berawal dari alam ruh dimana manusia masih berwujud ruh tanpa jasad. Kemudian alam rahim yang berlangsung selama kurang lebih 9 bulan. Setelah lahir, manusia berada di alam dunia seperti yang kita tempati sekarang sampai diwafatkan Allah SWT. Selanjutnya adalah alam kubur dimana manusia menunggu ditemani amal perbuatannya di dunia hingga Hari Kebangkitan. Dan terakhir adalah alam akhirat yang kekal. Alam dunia masih separuh perjalanan dari kehidupan manusia yang sebenarnya. Kita sedang menuju kampong akhirat.

Balik lagi ke istilah mampir ngombe. Sebagai orang yang hanya singgah untuk minum, maka ambillah secukupnya saja keperluanmu. Tidak terlena dengan kilauan dan godaan di tempat singgah sehingga kita merasa akan selamanya di tempat singgah tersebut.

Konsep wong urip mung mampir ngombe menyiratkan bahwa hidup manusia di dunia ini hanyalah sementara saja. Manusia hanya singgah sementara, bukan menetap selamanya.  Urip mung mampir ngombe diibaratkan seperti seorang pengelana  yang melakukan perjalanan panjang,  kemudian ia akan mampir ke sebuah kedai untuk membeli air minum kemudian  meminumnya sebelum melanjutkan perjalanannya lagi.

Kita menjalani siklus rutinitas  dalam ketidakpastian. Namun, yang tetap  adalah siklus rutinitas kita pasti akan berakhir. Panjang atau pendek hidup kita di  bumi yang kita pijak   saat ini menjadi urusan Tuhan  semata. Jika saja Tuhan memberikan kesempatan hidup dua kali, tentunya kita akan mengambil dan memanfaatkan kesempatan kedua itu dengan sebaik-baiknya. Namun kenyataannya, hidup yang Tuhan berikan hanyalah satu kali

Asal, dimana kita saat ini, dan kemana kita menuju

Dalam falsafah jawa, hidup kita sekarang ada di fase pertengahan. Sebelumnya kita hidup di alam purwa (permulaan), saat ini kita hidup di alam madya (tengah), dan nanti kita akan hidup kembali di alam wasana (akhir). Begitulah orang Jawa berfalsafah tentang darimana kita dan kemana kita akan mengarah. Ketidakmampuan kita memahami hal ini akan membuat kita terjebak dalam aktivitas harian yang tidak bermakna. Kita pernah tidak ada. Sekarang kita ada. Suatu hari nanti, kita akan tidak ada kembali. kata Mbah Nun “Jangan mati-matian mengejar sesuatu yang tidak kita bawa mati“.

Implikasi dari pemahaman kita tentang hal ini sangatlah luas. Pertama, selalu berhati-hati. Perhatikan konstruksi kalimatnya. Yang harus kita jaga adalah hati. Hati hati lah dalam segala hal. Kenapa? karena suatu saat kita akan dimintai pertanggung jawaban atas semua yang kita lakukan. Kalau kita pernah zalim dengan orang lain dan orang tersebut tidak bisa membalas, ingatlah selalu bahwa kezaliman kita akan kita pertanggung jawabkan. Jangan merasa menang jika kita berhasil berbuat jahat tanpa ketahuan dsb.

Jika kamu sedang transit di sebuah bandara, kira-kira, apa yang akan Kamu lakukan? tentu jawabannya tergantung berapa lama transitnya. Ini masalah. Lho, kok masalah? iya, karena tidak ada yang tau seberapa lama kita transit. Yang jelas, pikiran kita jangan kita lepaskan dari tujuan akhir perjalanan karena disanalah kita baru bisa beristirahat yang sebenar-benarnya dan selama-lamanya.

Mari kita berbenah diri, urip mung mampir ngombe…

*) Pekerja Media, Penikmat Kopi Pahit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *