STRATEGINEWS.id, Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump uring-uringan akibat harga minyak dunia naik, imbas ditutupnya Selat Hormuz yang menjadi urat nadi peredaran minyak dunia oleh Iran. Trump mengancam Iran akan menyerang dengan sangat keras dalam seminggu ke depan.
Ditutupnya Selat Hormuz, memaksa Amerika membeli minyak mentah Rusia, padahal Rusia sendiri sedang dikenakan sangsi oleh negara-negara Eropa.
Sebelumnya dalam wawancaranya dengan Fox News, Trump menyatakan perang sudah selesai dan berjanji akan menjamin keselamatan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz tersebut, jika perlu AS akan mengawal kapal-kapal di sana “jika diperlukan”
Perang Makin Meluas ke Seluruh Timur Tengah
Mengutip Reuters, setelah hampir dua minggu perang, 2.000 orang tewas, sebagian besar di Iran, tetapi banyak juga di Lebanon dan semakin banyak di Teluk, yang untuk pertama kalinya dalam konflik Timur Tengah selama beberapa dekade berada di garis depan.
Pasukan AS juga mengalami korban jiwa. Militer AS mengonfirmasi bahwa empat dari enam awak pesawat pengisi bahan bakar yang jatuh di Irak barat tewas.
Iran meluncurkan lebih banyak rudal dan drone ke Israel, sementara militer Israel melancarkan serangan di berbagai wilayah Teheran dan terus menyerang milisi Hizbullah yang bersekutu dengan Iran di seluruh Lebanon serta di ibu kota Beirut.
Press TV Iran melaporkan seorang wanita tewas akibat serangan udara di dekat sebuah unjuk rasa di Teheran untuk memperingati Hari Quds (Yerusalem), salah satu dari banyak unjuk rasa di seluruh Iran untuk mendukung warga Palestina yang tinggal di wilayah yang diduduki Israel. Media Iran melaporkan Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menghadiri unjuk rasa tersebut sebagai bentuk perlawanan.
Militer Israel mengatakan bahwa angkatan udaranya telah menyerang lebih dari 200 sasaran di Iran barat dan tengah selama sehari terakhir, termasuk peluncur rudal balistik, sistem pertahanan udara, dan lokasi produksi senjata.
Sumber: cnbcindonesia.com












