Oleh: Syahril Syam *)
Dalam pandangan Filsafat Islam, manusia sejak awal diciptakan dengan dua kecenderungan bawaan (fitri) yang bersifat ontologis, artinya melekat pada struktur keberadaan manusia itu sendiri, bukan sekadar hasil kebiasaan, lingkungan, atau kondisi psikologis. Dua kecenderungan ini selalu hadir bersamaan dalam diri setiap orang dan menjadi dasar dari cara manusia berpikir, merasakan, serta bertindak di dalam hidup sehari-hari.
Kecenderungan pertama adalah kecenderungan ruhani. Kecenderungan ini mengarahkan manusia pada pencarian kebenaran, makna hidup, nilai intrinsik, dan kesempurnaan diri. Sumbernya adalah jiwa rasional (nafs natiqah), yaitu aspek diri yang mampu memahami makna, merenung, dan bertanya “mengapa”.
Sifat kecenderungan ini bersifat autotelic, artinya sesuatu dilakukan karena nilainya memang bermakna pada dirinya sendiri, bukan karena keuntungan luar. Geraknya dari dalam ke luar: dorongan muncul dari kesadaran batin, lalu diwujudkan dalam tindakan. Contohnya, kita memilih bersikap jujur meskipun tidak ada yang mengawasi, atau menolong orang lain tanpa berharap imbalan. Kita melakukan itu bukan karena takut hukuman atau ingin pujian, tetapi karena kita merasakan bahwa itu “benar” dan bermakna.
Sebaliknya, kecenderungan kedua adalah kecenderungan jasmani. Kecenderungan ini berhubungan dengan kelangsungan hidup, rasa aman, kenyamanan, kenikmatan, dan penghindaran ancaman. Sumbernya adalah jiwa hewani dan vegetatif, yaitu lapisan diri yang juga dimiliki makhluk hidup lain. Sifatnya instrumental, artinya sesuatu dianggap bernilai karena hasil yang diperoleh. Geraknya dari luar ke dalam: rangsangan datang dari lingkungan, lalu memicu respons. Contohnya, seseorang makan karena lapar, menghindari konflik karena takut disakiti, atau bekerja semata-mata demi gaji. Semua ini wajar dan perlu, karena tanpa kecenderungan ini manusia tidak dapat bertahan hidup.
Penting untuk dipahami bahwa pembagian ini bukan sekadar psikologis, melainkan fitri dan ontologis. Artinya, dua kecenderungan ini bukan “baik versus buruk”, dan bukan pula gangguan mental atau pola kepribadian semata. Keduanya adalah bagian sah dari struktur keberadaan manusia. Masalah muncul bukan karena memiliki kecenderungan jasmani, tetapi ketika kecenderungan ini menguasai arah hidup dan menenggelamkan kecenderungan ruhani.
Dalam kerangka ini, kedewasaan manusia tidak diukur dari hilangnya dorongan jasmani, melainkan dari kemampuan jiwa rasional untuk mengelola dan mengarahkan dorongan tersebut agar sejalan dengan makna, nilai, dan tujuan hidup yang lebih tinggi.
Salah satu hal yang sering tidak disadari oleh banyak orang ketika kecenderungan jasmani mulai menguasai arah hidup adalah terjadinya pergeseran halus pada motif, bukan pada bentuk aktivitas. Secara lahiriah, seseorang tetap melakukan hal-hal yang tampak luhur dan bernilai tinggi, seperti mencari ilmu. Namun, secara batin, dorongan utamanya bukan lagi cinta pada kebenaran atau keinginan memahami realitas, melainkan tujuan eksternal seperti status sosial, pengakuan, atau prestise.
Mencari ilmu pada dasarnya adalah aktivitas yang luhur, karena ilmu berkaitan dengan kebenaran, pemahaman, dan pengembangan potensi manusia. Namun, nilai batin dari aktivitas ini sangat ditentukan oleh arah motivasinya. Ketika seseorang mencari ilmu demi status sosial – agar dihormati, dipandang pintar, atau memperoleh kedudukan – maka pusat penggeraknya bukan lagi makna ilmu itu sendiri, melainkan pengakuan dari luar. Dalam kondisi ini, ilmu berfungsi sebagai alat (instrumental), bukan tujuan pada dirinya.
Contoh sederhananya, seseorang melanjutkan pendidikan tinggi bukan karena cinta belajar atau ingin memahami realitas dengan lebih jernih, melainkan karena gelar dianggap dapat menaikkan gengsi dan posisi sosial. Ia merasa puas bukan ketika memahami suatu konsep secara mendalam, tetapi ketika dipuji atau dibandingkan lebih unggul dari orang lain. Aktivitasnya tetap tampak mulia dari luar, tetapi secara batin masih digerakkan oleh kecenderungan jasmani–sosial, yaitu dorongan untuk aman, diterima, dan dihargai. Ini menunjukkan bahwa keluhuran suatu tindakan tidak hanya ditentukan oleh bentuknya, tetapi oleh arah motivasi yang menghidupinya.
Kepuasan seperti itu tidak muncul dari pemahaman yang mendalam, melainkan dari bagaimana orang lain memandang dirinya. Inilah ciri ketika kecenderungan jasmani – yang berorientasi pada hasil, kenyamanan, dan penerimaan sosial – secara diam-diam memimpin arah hidup. Orang tersebut tidak berhenti belajar, tetapi kehilangan dimensi ruhani dari pencarian ilmu itu sendiri.
Padahal, dalam kerangka fitri manusia – terutama menurut Filsafat Islam – mencari ilmu pada hakikatnya adalah aktivitas ruhani, bukan sekadar sarana sosial. Ilmu secara intrinsik bernilai karena ia mendekatkan manusia pada kebenaran, memperluas kesadaran, dan menyempurnakan wujud dirinya. Ketika ilmu dicari karena dirinya sendiri, dorongannya muncul dari dalam: ada rasa ingin tahu yang jujur, kerinduan memahami makna, dan keinginan menjadi lebih utuh sebagai manusia.
Jika orientasi ini terjaga, status sosial atau pengakuan yang mungkin datang hanyalah dampak sampingan, bukan tujuan. Kepuasan utama muncul saat kita memahami sesuatu dengan lebih jernih, mampu melihat realitas secara lebih dalam, atau bertindak lebih bijaksana. Inilah perbedaan mendasar antara ilmu sebagai jalan penyempurnaan diri dan ilmu sebagai alat pencitraan. Yang pertama digerakkan oleh kecenderungan ruhani, sementara yang kedua – meskipun tampak serupa dari luar – sebenarnya masih berada di bawah kendali kecenderungan jasmani.
Dengan demikian, yang perlu disadari bukan hanya apa yang kita lakukan, tetapi dari mana dorongan itu berasal. Aktivitas yang sama – seperti mencari ilmu – dapat memiliki kualitas batin yang sangat berbeda, tergantung kecenderungan mana yang memimpinnya. Ketika kecenderungan jasmani mengambil alih, arah hidup ditentukan oleh pengakuan, hasil, dan citra diri, meskipun bungkus luarnya tampak mulia. Sebaliknya, ketika kecenderungan ruhani memimpin, tindakan lahir dari kesadaran dan makna, dan hasil eksternal tidak lagi menjadi pusat nilai.
Kesadaran akan dua kecenderungan fitri ini menjadi kunci agar manusia tidak keliru menilai dirinya sendiri. Banyak orang merasa sudah berjalan di jalan yang “benar” karena aktivitasnya tampak luhur, padahal secara batin ia masih digerakkan oleh dorongan eksternal. Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat mulai menata ulang arah hidup: bukan dengan mengganti aktivitas, tetapi dengan memurnikan motivasi, sehingga apa yang dilakukan benar-benar menjadi jalan pertumbuhan, bukan sekadar alat untuk memperoleh pengakuan.
@pakarpemberdayaandiri




