Oleh: Syahril Syam *)
Dalam ilmu psikologi, apa yang orang sering sebut sebagai “merasa menjadi Tuhan” sebenarnya dikenal sebagai God Complex atau Hubris Syndrome. Istilah ini tidak bermakna seseorang benar-benar menjadi Tuhan, tetapi menggambarkan pola psikologis tertentu: yaitu ketika seseorang sangat yakin bahwa dirinya selalu benar, merasa kemampuan dan penilaiannya tidak bisa salah, dan bersikap seolah-olah ia memiliki otoritas mutlak atas orang lain. Dengan kata lain, ia menilai dirinya punya “sifat-sifat ketuhanan” – bukan secara spiritual, tetapi sebagai ilusi kehebatan diri yang berlebihan.
Fenomena ini bukan sekadar karakter buruk. Secara ilmiah, pola ini dapat muncul ketika seseorang memiliki status sosial tinggi, kekuasaan besar, atau kekayaan melimpah. Tiga hal ini terbukti dapat mengubah cara kerja otak dan memengaruhi cara seseorang melihat dirinya dan orang lain.
Psikolog Dacher Keltner dari UC Berkeley, melalui lebih dari 20 tahun penelitian yang dirangkum dalam bukunya “The Power Paradox: How We Gain and Lose Influence”, menemukan pola yang sangat konsisten: kekuasaan mengubah perilaku manusia.
Saat seseorang merasa memiliki kekuasaan, beberapa hal terjadi pada sistem psikologis dan respons otaknya: Pertama, Empatinya menurun – terutama terkait berkurangnya respons pada mirror neuron system, yaitu sistem otak yang membantu kita merasakan apa yang orang lain rasakan. Akibatnya, orang berkuasa bisa menjadi kurang peka terhadap penderitaan, kebutuhan, atau batasan orang lain.
Kedua, Impulsivitas meningkat – cenderung bertindak lebih cepat tanpa memikirkan konsekuensinya, mengambil risiko lebih besar, dan sering merasa “pasti benar” sehingga tidak mempertimbangkan pendapat lain.
Ketiga, Moral licensing – merasa bahwa karena mereka “berjasa”, “berhasil”, atau “punya posisi”, maka mereka berhak melanggar aturan atau melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Dan keempat, Merasa aturan tidak berlaku bagi dirinya. Semua perubahan ini membentuk pola psikologis yang disebut God Complex: sebuah kondisi dimana seseorang mengembangkan rasa superioritas yang tidak realistis, seolah-olah ia kebal salah, tak perlu diatur, dan berhak mengatur segalanya – merasa yakin ia berada “di atas” norma, kritik, atau pertanggungjawaban.
Penelitian penting dari David Owen dan Jonathan Davidson (2009) menambahkan pemahaman baru tentang bagaimana kekuasaan dapat mengubah kepribadian seseorang. Mereka menyebut fenomena ini sebagai Hubris Syndrome, yaitu kondisi psikologis yang muncul akibat kekuasaan jangka panjang, bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir.
Dalam kajiannya terhadap para Presiden AS dan Perdana Menteri Inggris selama 100 tahun terakhir, mereka menemukan bahwa kekuasaan yang terlalu lama dapat memicu perubahan perilaku yang sangat mirip dengan apa yang disebut sebagai god complex.
Orang yang mengalami kondisi ini mulai menunjukkan ciri-ciri bahwa mereka memandang diri sebagai sosok yang tidak mungkin salah. Mereka sering merasa bahwa dirinya sedang menjalankan “misi sejarah” atau “takdir besar”, sehingga menganggap keputusan mereka selalu benar, bahkan ketika ada risiko besar. Sifat ini berkembang menjadi kecenderungan menolak kritik, karena setiap kritik dianggap sebagai gangguan terhadap visi atau kebenaran yang mereka yakini.
Kekuasaan yang panjang juga dapat mendorong seseorang mengambil keputusan secara impulsif, tanpa pertimbangan matang, dan didorong oleh kepercayaan diri yang berlebihan. Overconfidence ini bukan sekadar percaya diri, tetapi keyakinan ekstrem bahwa intuisi dan penilaian mereka sudah pasti tepat meskipun minim data atau masukan.
Secara ilmiah, Owen dan Davidson menegaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar karakter sombong, tetapi perubahan psikologis yang terbentuk oleh kekuasaan, sehingga sifat-sifat tersebut muncul dan menguat seiring waktu. Dengan kata lain, hubris syndrome adalah bentuk “ketagihan akan kekuasaan” yang membuat seseorang semakin yakin bahwa dirinya berada di atas aturan, kritik, dan realitas.
Menariknya, apa yang dalam psikologi modern sebut sebagai god complex atau hubris syndrome ternyata memiliki resonansi yang kuat dalam Al-Qur’an. Beberapa ayat menggambarkan pola psikologis yang sangat mirip: ketika manusia terlalu percaya pada dirinya sendiri, menolak batasan, dan bertindak seolah berada di atas kebenaran dan aturan.
Pertama, QS. 45:23 menggambarkan seseorang yang “menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan”. Ini bukan berarti ia menyembah dirinya secara literal, tetapi menggambarkan keadaan ketika keinginan pribadi menjadi sumber utama keputusan, sampai-sampai ia menganggap dorongan hatinya selalu benar. Secara psikologis, ini identik dengan god complex: seseorang menempatkan dirinya sebagai otoritas tertinggi, tanpa ruang untuk koreksi, nasihat, atau batasan moral.
Kedua, QS. 28:38 menggambarkan Firaun sebagai contoh ekstrem. Firaun secara eksplisit berkata kepada para pemukanya: “Aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku.” Dalam ayat lain (QS. 79:24) ia berkata: “Aku adalah Tuhanmu yang paling tinggi.” Ini adalah bentuk god complex paling ekstrem – ketika kekuasaan, kekuatan militer, dan status absolut membuat seseorang benar-benar meyakini dirinya berada di atas manusia lain dan berada pada posisi “ketuhanan”. Secara psikologis, ini mencerminkan hilangnya empati, penolakan keras terhadap kritik, dan keyakinan mutlak bahwa dirinya tidak mungkin salah.
Ketiga, QS. 96:6-7 memberi gambaran yang sangat presisi tentang efek psikologis status dan kekayaan: “Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas ketika ia melihat dirinya merasa cukup.” Ayat ini menggambarkan mekanisme yang kini dijelaskan dalam riset modern: ketika seseorang merasa dirinya kuat, cukup, dan tidak membutuhkan siapapun, maka dorongan psikologis untuk melampaui aturan, mengabaikan etika, dan merasa berada di atas orang lain meningkat. Temuan ini sejalan dengan penelitian tentang kekuasaan oleh Dacher Keltner maupun kajian Owen dan Davidson tentang hubris syndrome.
Walhasil, seluruh temuan ilmiah dan isyarat Qur’ani ini membawa kita pada satu pelajaran hidup yang sangat mendalam: setinggi apapun status, seluas apapun kekuasaan, dan sebesar apapun kekayaan yang dimiliki seseorang, manusia tetap perlu kembali belajar menjadi hamba di hadapan Sang Maha Sempurna.
Baik psikologi modern maupun ajaran wahyu menunjukkan bahwa kekuasaan dapat menggoda manusia untuk merasa cukup, merasa benar sendiri, atau bahkan merasa berada di atas aturan. Namun justru kesadaran sebagai hamba – yang punya batas, perlu bimbingan, dan tunduk pada kebenaran yang lebih tinggi – itulah yang menjaga manusia tetap waras, rendah hati, dan selamat dari jebakan god complex.
Kesadaran kehambaan bukan hanya nilai spiritual, tetapi juga mekanisme psikologis yang menyehatkan: ia mengembalikan empati, menahan impulsivitas, membuka ruang untuk menerima kritik, serta menjaga agar keputusan tetap berpijak pada kerendahan hati dan pertimbangan moral. Dengan kata lain, di tengah segala pencapaian dan kuasa yang mungkin dimiliki manusia, yang menyelamatkan bukan besarnya kekuatan, tetapi kesadaran untuk terus berserah, bersujud, dan merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta.
@pakarpemberdayaandiri




